
Dave memandang tubuh perempuan setengah baya yang terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan lemah. Tangannya terulur untuk membelai Pipinya.
“Maaf Ibu.”
Ia sadar kesakitan Ibunya berasal karena terlalu memikirkan dirinya. Namun, apa yang bisa ia sesali. Dave sendiri tidak pernah menginginkan keadaan ini terjadi.
Perlahan kelopak mata Ibu Ratmi terbuka dengan sempurna. Ekor matanya bergerak menyapu ruangan itu.
“Dave?” panggilnya lirih.
Dave tersenyum canggung, meski dia adalah Ibu yang melahirkannya. Namun, untuk pertama kalinya ia harus bertatap muka dengannya. “Aku di sini, Bu. Tidak akan pergi.”
Dave memberanikan diri menggenggam tangan Ibunya, mengecupnya dengan pelan. “Papa sudah menceritakan semuanya, Bu. Dia menyesali perbuatannya. Tetapi, terlepas dari hal itu mohon maafkan dia. Dia juga tidak ingin berada di situasi seperti ini. Mari kita perbaiki hubungan keluarga kita, Bu. Aku tidak ingin Ibu kembali depresi, tolong lapangkan hati Ibu untuk menerima ini.”
Kedua mata Ibu Ratmi berkaca-kaca. Ternyata, seluas itu hati putranya. Mengingatkan tentang mendiang suaminya. Berbeda dengan dirinya yang begitu keras kepala, bahkan hatinya dipenuhi rasa dendam. Pelan, Ibu Ratmi mengubah posisinya menjadi duduk, arah matanya langsung menatap putranya.
“Akan Ibu coba,” sahutnya lirih.
💞💞💞
Alana masih berada di kamar Jonas. Meski terasa canggung mereka terus mengobrol. Alana memilih untuk memaafkan semuanya.
“Jadi, Papa sudah punya cucu, Alana?” tanya Jonas.
__ADS_1
Alana mengangguk. “I–iya Pa. Namanya Gala.”
Jonas tersenyum haru, tangannya menggenggam tangan putrinya, seolah tidak ingin Alana benar-benar meninggalkannya. “Papa sudah melihatnya. Dia mirip Dave waktu kecil, menggemaskan.”
Kening Alana mengerut seingatnya ia belum mempertemukan keduanya. Kapan mereka bertemu.
“Kemarin malam Gizka menunjukkan foto kalian bertiga, yang akhirnya membuat Papa mencari alamat rumahmu.” Jonas berkata seakan mengerti kebingungan putrinya. “Semula Papa juga tidak ingin peduli apapun urusan Dave. Tetapi, entah kenapa langkah kaki Papa membawanya ke rumahmu.”
Alana mengangguk pelan. “Tidak apa-apa. Setidaknya dengan Papa datang, semua masalah ini terbongkar,” sahut Alana pelan. Ia juga mendapatkan jawaban mengapa sejak kecil Ibu Ratmi memang tidak menyukainya, kerap sekali menunjukkan raut bencinya. Hanya sang Ayah yang begitu menyayanginya. Namun, setelah keluar dari rumah sakit, perempuan itu memang berubah lebih lembut dan peduli padanya.
“Kamu tidak marah, Alana?”
Alana menggeleng. “Tidak!”
Pintu terbuka Gizka masuk dengan membawa percel buah-buahan. “Aku membeli buah untukmu, Pa.”
Alana menoleh sempat beradu pandang dengan istri Papanya itu. Namun, mereka hanya terdiam tanpa saling melempar cemoohan seperti sebelumnya. Lalu ia memilih beranjak. “Aku mau cari, Dave. Papa istirahat aja.”
Keluar dari ruangan Jonas. Alana berlalu mencari suaminya yang ia yakini lelaki itu tengah berada di kamar Ibu Ratmi. Alana menahan napasnya ketika tiba di depan pintu. Hingga beberapa detik berikutnya ia memberanikan diri membuka pintu.
Ia tersenyum tipis mana kala melihat suaminya tengah memeluk Ibunya. Rasanya tidak etis jika ia menganggu mereka. Alana berniat untuk beranjak dari sana. Namun, teguran dari sang suami mengurungkan niatnya.
“Sayang?”
__ADS_1
“Dave, aku tadi hanya—”
“Kemarilah!” Dave beranjak menggandeng tangan istrinya membawanya masuk. “Ibu ingin bicara denganmu.”
Dave mendudukkan Alana di kursi. “Bagaimana, Bu. Menantu Ibu sangat cantik kan?” tanya Dave berusaha mencairkan suasana karena sejak tadi mereka berdua hanya terdiam.
“Iya. Kamu benar, Nak. Alana memang cantik sejak kecil, untuk itu banyak yang menyukai dirinya.”
“Tapi, aku yang paling beruntung, Bu. Bisa menikahinya!” decak Dave merundukan wajahnya lalu mengecup pelan pipi istrinya, yang langsung mendapatkan hadiah berupa cubitan.
“Dave terlalu berlebihan, Bu. Bahkan mataku saja sembab bagaimana dia katakan aku cantik,” dengus Alana. Dave terkekeh gemas melihatnya. “Bagaimana keadaan Ibu?” Alana mengalihkan pembicaraan.
“Baik Nak. Ibu sudah sehat." Ibu Ratmi menggenggam tangan Alana. “Ibu tahu ada banyak luka yang Ibu torehkan di hati kamu, karena keegoisan Ibu yang membenci orang tuamu. Ibu minta maaf, Alana.”
Alana menggeleng. “Semua sudah berlalu, lupakanlah. Aku tetap bangga pernah menjadi anakmu, Bu.”
Pintu terbuka seorang Dokter datang untuk memeriksa keadaan Ibu Ratmi. Alana dan Dave menyingkir duduk di sofa
”Dave di mana ponselmu?” tanya Alana.
“Mau buat apa?”
“Menghubungi Silvi. Gala sudah waktunya tidur siang. Aku khawatir dia rewel,” seru Alana.
__ADS_1
Dave memberikan ponselnya pada istrinya. Sementara Alana sibuk menelepon. Dave membaringkan tubuhnya ke pangkuan istrinya.