Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Nelson?


__ADS_3

Alana nampak cantik dalam balutan gaun berwarna putih, dengan memakai kalung berliontin kecil, sepasang dengan antingnya, lalu tangannya membawa tas kecil berwarna hitam. Ia keluar dari rumah setelah mendapatkan telpon dari Dave, jika lelaki itu sudah menunggunya di depan rumah. Malam ini, ia akan menemani Dave datang ke pesta ulang tahun Natasha.


“Kau sudah siap, Alana?” tanya Dave begitu istrinya itu masuk ke dalam mobilnya.


“Sudah Dave!”


Lelaki dalam dengan kemeja berwarna putih, dipadukan dengan jas berwarna navy tanpa sebuah dasi itu pun memberi perintah pada asistennya, untuk segera melajukan mobilnya ke hotel di mana pesta itu berlangsung.


Beberapa saat kemudian, mobil tiba di loby hotel. Alana dan Dave turun di sana, seperti biasanya Dave akan meminta Alana merangkul lengannya. Keduanya lantas melangkah menuju lift. Pesta diadakan di lantai lima.


“Dave kadonya mana?” tanya Alana begitu menyadari dirinya tak membawa kado di tangannya. Saat berada di dalam lift.


“Biarkan saja. Nanti Zain yang membawanya,” ujar Dave.


Bunyi 'Ting' dari lift terdengar, otomatis pintu langsung terbuka. Keduanya melangkah keluar. Tiba di pintu masuk, pandangan Alana menyapu arena pesta.


Terlihat mewah namun tetap terkesan elegan. Alana akui, ia menyukai desain pesta ulang tahun Natasha, mengingat bagaimana perempuan itu begitu cantik dan elegan.


Melihat kedatangan Dave, seorang perempuan bergaun ungu yang tengah berdiri di atas panggung itu pun lantas turun menghampiri Dave.


“Kau datang juga Dave?” tanya Natasha senang. Rona wajah dan bibirnya pun terlihat merekah bahagia.


Dave tersenyum tipis, membalas jabatan tangan Natasha. Lagi hal itu membuat perempuan itu merasa di atas angin. “Selamat ulang tahun Natasha.”

__ADS_1


“Terima kasih, Dave.” Perempuan itu menjawab sembari bergerak hendak mencium pipi Dave. Namun, tak di sangka Alana langsung menghalangi dan melepas paksa tautan tangan mereka.


“Maaf Nona. Suamiku tidak terbiasa dicium sembarang perempuan. Aku khawatir alerginya kambuh,” sela Alana. Dave melongo mendengar penuturan istrinya. Sementara Natasha merasa geram.


“Kamu!!” geram Natasha.


Alana memasang badan di depan Dave, seolah ia tengah menyembunyikan seorang anak kecil dari orang jahat. “Nona anda tidak akan berniat untuk membuat keributan di pesta mewah anda ini kan.”


Natasha mencoba menarik nafasnya dalam-dalam, menahan diri untuk tidak mencakar perempuan di depannya itu. “Aku bahkan tidak mengundang dirimu. Kenapa kau bisa datang? Dasar tak tahu malu!” umpatnya.


“Aku memang tidak diundang. Tapi suamiku diundang. Dan kami merupakan pasangan suami istri. Anda tahu maksudnya?” tanya Alana menaikkan kedua alisnya, dengan senyum menyeringai bak seorang yang baru saja mendapatkan kemenangan. “Yang namanya pasangan itu. Kemanapun satunya pergi, pasti satunya mengikuti. Seperti itulah aku dan Dave. Bahkan suamiku hampir tidak datang jika aku tidak membujuknya. Harusnya anda berterimakasih kepadaku. Iya kan sayang?” kata Alana menoleh ke arah Dave. Natasha pun mengikuti arah pandang Alana. Lelaki itu hanya mengangguk.


Lagi-lagi Natasha hanya mendengus sebal. “Dave kau tidak membawa kado untukku?” tanyanya sengaja mengalihkan ucapan Alana.


“Tentu saja ada!” Dave menoleh ke arah asistennya yang baru saja tiba. “Zain berikan kadonya,” titahnya.


“Terima kasih, Dave.”


“Berterima kasihlah pada Zain. Karena kado itu yang membeli dan memilih dia. Kami tidak ada waktu untuk hal-hal seperti itu,” terang Dave seraya merengkuh pinggang istrinya. Posisi keduanya yang saling berhadapan, membuat Alana mengangkat wajahnya menatap Dave, detik berikutnya keduanya saling melempar senyum. Bersikap seolah mereka adalah pasangan yang begitu harmonis dan bahagia. “Ayo sayang kita masuk. Nikmati pestanya, kau bilang ingin menikmati makanan yang enak,” sambungnya menggiring Alana menuju meja di mana banyak jenis makanan tersedia. Meninggalkan Natasha yang mendengus kesal.


“Sialan!” umpatnya marah.


Dave dan Alana tengah memikirkan hidangan yang tersaji. Tampak Alana begitu sibuk memilih jenis makanan. “Alana, aku tunggu di kursi sana ya,” ujar Dave menunjuk ke arah kursi tak jauh darinya.

__ADS_1


“Oke Dave.”


Sementara Dave berlalu pergi hanya dengan membawa satu gelas minuman. Alana melanjutkan aktivitasnya.


“Nona Alana,” teguran suara bariton membuat aktivitas Alana terhenti. Ia mengangkat wajahnya, menoleh ke arah samping. Seorang pria tampan, dengan raut wajah putih, rambut berwarna pirang, dalam balutan jas berwarna hitam tersenyum ke arahnya.


“Maaf, anda siapa ya?” tanya Alana heran, pasalnya lelaki itu mengetahui namanya, sementara Alana justru merasa asing dengannya.


Tanpa disangka lelaki itu mengulurkan tangannya. “Kenalkan namaku, Nelson.”


Alana hanya bergeming menatap tangan lelaki itu dengan bingung.


.



.


.


.


.

__ADS_1


Kira-kira siapa Nelson?


Jangan lupa like, komentar dan hadiahnya^^


__ADS_2