Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Kembali


__ADS_3

Cekrek!


Tiba-tiba lampu bioskop menyala tanda film telah usai, membuat Alana sontak mendorong tubuh suaminya. Beruntunglah tidak ada orang yang mengetahui adegan keduanya. Jika ada betapa malunya Alana, pasti di kira pasangan mesum.


Dave juga menggaruk tengkuknya salah tingkah. Sebelum kemudian ia berusaha menetralkan perasaannya. “Kau baik-baik saja, Alana?” tanyanya.


“Emm tentu saja!” jawab Alana gugup. Ia langsung beranjak dari tempat duduknya. “Ayo kita keluar filmnya sudah selesai,” ajaknya kemudian. Karena Dave tak kunjung beranjak membuat niatnya terhalang oleh kakinya.


Dave tersenyum simpul, beranjak berdiri. Namun, sebelum keluar dari ruang bioskop itu, ia membungkukkan sedikit tubuhnya, lalu berbisik pelan di telinga Alana. ”Ngomong-ngomong ciuman di bioskop asyik juga. Terima kasih.”


Alana langsung melototkan kedua matanya. Dave tergelak kecil, sebelum kemudian ia meraih tangan istrinya, menggiringnya keluar. “Ya ampun aku merinding sekali,” seru Alana begitu tiba di luar. Keduanya lantas turun ke lantai bawah.


“Kenapa?” tanya Dave heran. Pasalnya Alana mengatakan tidak takut menonton film horor, kenapa bisa merinding. Dave masih setia menggandeng tangan istrinya saat melewati eskalator. Sebenarnya menurut Dave lebih cepat menggunakan lift. Namun, Alana lebih memilih menggunakan eskalator, dan lucunya ia hanya diam menurut apa permintaan istrinya.


“Aku gak nyangka ada adegan begituan. Aku jadi merinding begini,” keluh Alana mengusap lengannya.


“Bukankah sudah ada peringatannya. Anak di bawah umur di larang menonton,” tutur Dave pelan. Namun, mampu membuat Alana berdecak.


“Aku sudah dewasa Dave. Masa kau samakan aku seperti anak kecil,” protes Alana yang hanya di tanggapi kekehan kecil oleh Dave. Lelaki itu lantas menggiring Alana keluar dari Mall. Di mana di depan lobi mobil Zain sudah standby menunggunya.


“Setelah ini kita mau ke mana, Nona?” tanya Dave setengah menggoda.


Alana menoleh tersenyum gemas. Hari ini Dave tampak begitu manis memperlakukan dirinya seperti orang yang begitu spesial. Dan besok keduanya akan kembali ke Jakarta. Akankah keadaan masih sama. Tentu saja tidak! Dave pasti akan lebih sibuk mengingat banyaknya kerjaan yang ia tinggalkan demi merawat dirinya selama di Surabaya.


“Aku lapar Dave. Tapi, pengen sekali bebek panggang,” jawab Alana.


“Kau tahu tempatnya kan Zain?” tanya Dave pada sang asisten.

__ADS_1


“Tentu saja Tuan.”


Dua jam kemudian, setelah selesai makan mereka langsung memutuskan untuk kembali ke villa. “Terima kasih untuk hari ini Dave,” ungkap Alana ketika keduanya tiba di depan pintu kamar masing-masing.


“Sama-sama, Alana. Kau bahagia?”


“Sangat. Kalau aku gitu masuk dulu.”


“Istirahatlah,” ujar Dave.


“Selamat malam, Dave.”


“Malam juga Alana.”


Setelah keduanya lantas masuk ke kamar masing-masing. Alana langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang besarnya. Sesekali memegang bibirnya, wajahnya kembali merona mana kala bayangan ciumannya bersama Dave di gedung bioskop tadi terlintas.


“Astaga! Aku bisa gila,” keluh Alana memilih berlalu ke kamar mandi. Ia pikir perlu mendinginkan otaknya.


Keesokan harinya mereka sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta. Setelah semua barang telah di masukan ke bagasi. Dave menoleh ke arah Alana yang sudah bersiap di sisinya.


“Tidak ada yang ketinggalan kan Alana?” tanyanya.


“Tentu saja ada.”


Dave mengerutkan keningnya. “Apa yang ketinggalan. Kalau gitu ambilah.”


“Bekasku,” jawab Alana seraya berlalu masuk ke dalam mobil. Dave dan Zain melongo. Sementara Indra yang tengah membereskan bagasi, menahan tawanya.

__ADS_1


“Kalau ingin tertawa. Tertawa saja kalian!” ucap Dave pada Zain dan Indra dengan wajah kesal.


“Tidak Tuan. Tapi, perut saya sakit,” sahut Indra menahan perutnya lalu terbahak.


“Hemm itu karma,” desis Dave lalu membuka pintu mobilnya, ia masuk dan duduk di sisi Alana. Tampak perempuan itu tengah asyik membaca buku. Tak berapa lama Zain dan Indra masuk. Zain duduk di depan dengan Indra yang akan mengemudi.


💞💞


Sekitar satu jam setengah mereka sudah tiba di Jakarta. Ketika mobil yang dikemudikan Udin masuk ke dalam pelataran rumah Dave.


Mereka langsung keluar. “Kita masuk saja Alana. Nanti barang-barangnya biar di antar pelayan. Zain dan Udin akan menurunkannya,” ajak Dave seraya menggandeng tangan istrinya.


Kebetulan mobil yang mereka tumpangi langsung berhenti di garasi. Jadi, mereka perlu berjalan lebih untuk sampai ke rumah.


“Dave ini mobil siapa?” tanya Alana begitu tiba di depan rumah mendapati sebuah mobil mewah parkir di depan rumah.


“Aku juga tidak tahu Alana,” sahut Dave heran.


“Mungkin saja klien mu Dave.” Alana mencoba menebak.


“Entahlah!” sahut Dave bingung, pasalnya seingatnya ia tidak pernah berjanjian dengan kliennya di rumah. “Kita lihat saja di dalam,” sambungnya menggiring Alana masuk. Kebetulan pintu memang sudah terbuka.


Seorang perempuan bertubuh tinggi, rambutnya lurus hitam tergerai, berdiri dengan posisi membelakangi seperti tengah menatap nuansa rumah Dave, membuat Alana dan Dave terkejut.


“Maaf, siapa ya?” tanya Dave.


Perempuan itu langsung berbalik seraya melepaskan kacamata hitamnya. “Dave, aku kembali!”

__ADS_1


Deg!


Sontak genggaman tangan Dave dan Alana terlepas.


__ADS_2