Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Khawatir


__ADS_3

Dengan langkah kaki yang pincang berusaha melangkah masuk.


“Lho Nona. Anda kenapa?” pekik Salma terkejut. Ia yang saat itu tengah mengganti vas bunga di ruang tamu pun terkejut melihat langkah kaki istri majikannya.


“Aku baik-baik saja Salma,” jawab Alana menenangkan.


Diam-diam Salma melirik ke arah lutut Alana. Ia mendesah mana kala melihat lutut majikannya terluka. Ia langsung memapah Alana menuju sofa.


“Jangan sepanik itu. Aku tidak apa-apa, hanya lecet sedikit!”


“Kita ke rumah sakit aja ya, Nona?” tawarnya.


“Hei aku hanya terluka sedikit. Dengan di beri tetesan obat merah juga ini akan sembuh. Kenapa kau bisa secemas itu? Kau terlalu berlebihan luka seperti ini saja ke rumah sakit. Seperti Dave saja!”


“Justru itu Nona. Karena saya takut Tuan Dave marah.”


Alana menatap Salma dengan bingung. “Untuk apa dia marah? Tenang saja itu tidak akan mungkin.”


“Ah Nona itu tidak tahu ya. Bagaimana kalau Tuan Dave sudah marah. Sama seperti saat bahu Anda terluka akibat lemparan vas bunga Nona Natasha. Tuan Dave bahkan mengomeli saya, karena membiarkan Anda tetap pergi bekerja saat itu.”


Alana terdiam mengingat kejadian itu. Ia sendiri tidak menyangka kalau Dave bisa marah. “Memangnya Dave bisa marah?” tanyanya penasaran. Karena sejauh ini ia hanya tahu sisi manis Dave. Salma mengangguk.

__ADS_1


“Tapi aku belum pernah lihat dia marah,” serunya.


“Itu berarti anda adalah orang yang sangat berharga untuknya, Nona. Tuan Dave bisa marah? Tentu saja, dia juga hanya manusia biasa Nona. Bukan dewa atau malaikat, tentu sisi emosionalnya pun ada,” jelas Salma seraya beranjak berniat mengambil kotak obat karena istri majikannya itu menolak untuk ke rumah sakit.


Alana terkekeh mendengarnya. Berharga? Tentu saja. Mengingat kehadirannya masih dibutuhkan oleh lelaki itu, menjadi istri pura-pura. Merasakannya membuat Alana merasa sesak. Perempuan itu beranjak dengan membawa satu buku yang tadi ia beli.


“Nona anda mau ke mana?” tanya Salma yang telah kembali membawa kotak obat.


“Kolam.”


“Tapi Nona. Luka anda–”


Kring! Kring! Telpon rumah berbunyi.


Menekuk sedikit kakinya, Alana mulai membersihkan lukanya lebih dulu, karena terdapat pasir di sana, mengingat ia jatuh di atas aspal. Berkali-kali ia meringis kala merasakan nyeri di lututnya.


“Berikan padaku, biar aku membantumu.”


Suara bariton yang tak asing membuatnya terkesiap. Ia terkejut mendapati sang suami melangkah ke arahnya.


“Dave!” desisnya.

__ADS_1


Menggulung kemejanya berwarna maroon hingga sebatas siku. Dave mendudukkan dirinya di samping kursi panjang yang Alana gunakan itu. Perempuan itu masih diam dengan pandangan yang terus menatap ke arah Dave, hingga tak sadar ketika Dave sudah mengambil alih kapas di tangannya.


“Aww!” Alana meringis ketika Dave menekan lukanya.


“Sakit ya,” seru Dave memajukan wajahnya, meniup luka Alana. “Di dalam ada pasirnya. Ini harus dibersihkan lebih dulu. Kita ke rumah sakit saja ya,” sambungnya.


“Tidak Dave. Untuk apa? Kau itu berlebihan sekali.”


Dave menghela nafasnya. “Kau memang keras kepala.”


“Astaga Dave. Bukan begitu, hanya saja kau yang terlalu berlebihan ini hanya luka kecil. Kenapa harus sampai seheboh itu ke rumah sakit. Ini hanya perlu pengobatan sedikit,” balas Alana hendak mengambil alih kapas di tangan Dave. Namun, lelaki itu segera menjauhkannya.


“Biar aku saja yang mengobatinya. Kau cukup bersandar saja,” ujar Dave kembali melanjutkan pengobatan lutut Alana dengan telaten. Bahkan tangan kekarnya itu terasa lembut ketika menyentuh kulit Alana.


“Dave bukankah seharusnya kau masih di Italia? Kau bilang kau akan pulang besok,” tanya Alana penasaran. Tatapannya masih terus menatap ke arah lelaki itu, bagaimana Dave dengan sabar dan telaten mengobati lukanya, kadang meniup-niupnya seakan ia khawatir Alana merasa perih.


“Aku sudah pulang dari tadi pagi Alana. Tapi aku langsung ke perusahaan. Tapi, tadi aku menelpon rumah. Salma mengatakan kau pulang dalam keadaan terluka. Jadi, aku langsung buru-buru pulang. Aku bahkan sampai lupa membawa coklat pesanan mu yang aku beli di Italia.”


“Kenapa harus terburu-buru Dave? Salma itu berlebihan sekali, melihat aku pulang seperti ini. Padahal aku baik-baik saja.”


“Tentu saja karena aku merasa khawatir, Alana.”

__ADS_1


Pipi Alana langsung bersemu mendengarnya. Ia merasa terharu mendengar pengakuan lelaki itu yang merasa cemas akan keadaannya. “Kau harus tahu Alana. Meskipun status pernikahan kita hanyalah kontrak. Aku tetap harus bertanggung jawab untuk keadaanmu."


Senyum bahagia yang terpancar di wajah Alana langsung meredup, berganti dengan senyum yang masam. Seketika rasa kecewa dan sakit kembali menghantam relung hatinya yang paling dalam.


__ADS_2