Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Kecemasan Dave


__ADS_3

Setelah sesi jabat tangan dengan para rekan bisnisnya selesai. Dave melongok ke arah kursi, mencari Alana.


“Dia ke mana?” gumamnya bingung.


“Dave ayo kita party atas kemenangan mu. Ku rasa semua ini perlu dirayakan!” ajak Jessica yang langsung merangkul mesra lengan Dave.


“Iya. Kami pikir ucapan Jessica itu benar,” timpal Gizka. Jonas hanya mengangguk, semenjak insiden di Surabaya saat itu, hubungan lelaki itu dengan putranya memang kurang baik. Apalagi perihal membahas Gizka.


Dave melepaskan tangan Jessica. “Aku tidak suka pesta. Kamu sendiri saja!” ucapnya berlalu pergi keluar dari gedung itu.


Jessica menghentakkan kakinya dengan kesal melihat kekasihnya itu pergi begitu saja meninggalkan dirinya.


“Zain, apa kau melihat Alana?" tanya Dave setelah tiba di depan mobilnya.


“Lho, Nona Alana bilang dia ada janji dengan Nona Silvi. Bukankah Anda tahu dan sudah mengijinkannya?” sahut Zain heran.


Dave mengusap wajahnya. “Apa yang kau katakan? Aku tidak pernah memintanya untuk pergi sendiri. Kau pikir aku setega itu.”


“Tapi, tadi Nona keluar...”


“Dengan siapa Zain? Dia tidak membawa barang apapun!” sergah Dave wajahnya memerah. Kecemasan nampak jelas di wajahnya. Ia ingat Alana meninggalkan barang-barangnya di mobil tadi.


Keduanya langsung masuk ke dalam mobil meninggalkan area gedung. Dave meminta Zain untuk melajukan mobilnya dengan pelan, sesekali matanya menoleh ke kanan dan kiri, berharap menemukan Alana.

__ADS_1


Dave ingat sahabatnya istrinya itu bekerja di bar. Untuk itu ia segera menghubungi sahabatnya pemilik bar itu, menanyakan keberadaan Alana. Namun, ia harus menelan rasa kecewa karena Alana tak berada di sana.


“Dia kemana?” gumam Dave mengusap wajahnya. Ia termenung sejenak, harusnya tadi ia mengajak Alana naik ke atas panggung, bukannya meninggalkannya seorang diri.


Beberapa jam sudah Dave mencari Alana tak juga ditemukan. Akhirnya ia mencoba pulang ke rumah, berharap Alana sudah berada di sana.


“Nona belum pulang Tuan. Bukankah dia pergi bersama anda!” ucapan Salma membuatnya kecewa.


💞💞💞


“Makan yang banyak, Alana. Kebetulan bengkel ku tadi rame. Lumayan lah bisa buat traktir kamu makan sate,” seru Andi sambil membawa dua porsi sate dari penjual keliling. “Ini, punyamu yang pake Malika,” sambungnya.


Alana terkekeh. “Kok Malika?”


“Kan kecap,” jawab Andi membuat Alana tergelak lucu. Karena mengingatkannya pada salah satu iklan produk kecap terkenal.


Andi mengangguk. “Silakan. Nanti kalau kurang kau boleh nambah lagi.”


Alana mulai makan sate dan lontongnya dengan lahap. “Enak sekali.”


“Kau seperti tidak pernah makan beberapa bulan,” cibir Andi dengan nada melucu.


Alana mengangguk. “Iya. Akhir-akhir ini selera makanku menurun. Karena bosan kali ya makannya itu-itu aja.”

__ADS_1


“Ah masa? Bukannya karena kau sedang patah hati, makanya tidak selera makan,” sindir Andi.


Alana menghela nafasnya, bibirnya mengerucut ke depan. “Kau ini. Pasti Silvi yang mengadu.”


Andi tertawa. “Dia tidak pernah menutupi apapun dariku. Kita bertiga kan sahabat Alana. Berbagilah padaku jika kau merasa sedih. Kalaupun kau membutuhkan bantuan, aku akan selalu ada.”


Alana mengangguk merasa haru, masih ada orang-orang yang menyayanginya. ”Terima kasih, sebentar lagi aku mungkin akan membutuhkan bantuanmu. Kau bersiap saja, aku repotkan,” ucap Alana.


“Siap 24 jam!” jawab Andi sambil melanjutkan makannya. “Ngomong-ngomong tadi kenapa kamu lari-lari dikejar si pengkhianat itu?" sambungnya kemudian. Ya, tadi saat Alana tengah berlari dan Edo mengikutinya tiba-tiba Andi datang, untuk itu Alana lebih memilih pergi bersama Andi. Dan dia juga yang membawanya ke klinik untuk mengobati kakinya.


“Sebenarnya dia hanya menawarkan bantuan. Tapi, aku tidak mau,” dengus Alana.


“Gengsi?


“Malas lihat wajahnya.”


Andi tertawa. “Terus kenapa kau lari-lari tanpa tujuan. Sebenarnya kau dari mana?”


Alana terdiam sejenak, lalu menceritakan apa yang terjadi dengannya sebelumnya. “Lucu ya. Aku berniat kabur, tapi gak bawa-bawa apa-apa. Rugilah!”


Keduanya tergelak lucu. Andi tahu sebenarnya Alana hanya berniat menghibur dirinya sendiri. “Ya besok siapkan koper yang besar. Kau harus membawa barang yang berharga dari rumah Dave. Dan aku akan menunggumu di depan rumahnya, kita kabur bareng-bareng,” saran Andi kemudian.


”Kau memintaku merampok?” cibir Alana melotot.

__ADS_1


“Ya memanfaatkan situasi!”


Sontak keduanya langsung tertawa, membayangkan bagaimana jika hal itu mereka lakukan.


__ADS_2