Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Sandiwara Yang Sempurna


__ADS_3

Dave langsung sigap mengulurkan minuman di depannya. “Pelan-pelan aja sayang,” ujar Dave. Semakin menambah rasa terkejut di wajah Alana, jantungnya berdesir hebat. Namun, Dave segera meremas tangan Alana yang berada di bawah meja, membuat perempuan itu mengerti bahwa saat itu keduanya hanya melakukan sandiwara.


“Oh, iya sayang," sahut Alana tak kalah manisnya.


Zain yang duduk di sisi Kirana pun hanya memandang keduanya melongo. Sungguh ia merasa takjub dengan sandiwara keduanya ‘sempurna’ pikirnya.


“Mama sih ngomongnya begitu. Alana jadi tersedak,” ujar Pak Risky.


Kirana hanya tertawa kecil. “Habis gimana ya, Pa. Mama itu gemes lihat mereka. Yang satu cantik yang satu tampan. Jadi, Mama bayangin kalau ada duplikat mereka itu seperti apa, gitu loh Pa.”


Alana tersenyum canggung, sementara Dave meneguk ludahnya secara susah. Sebelum kemudian ia berusaha untuk mengontrol perasaannya. “Terima kasih untuk pujiannya, Nyonya.”


Dave mengambil tisu di atas meja, kemudian sedikit menggeser tubuhnya, tangannya bergerak mengelap sudut bibir istrinya. “Kami merasa tersanjung untuk hal itu. Anda bahkan sampai repot-repot menyediakan makanan yang khusus untuk kami,” sambung Dave.


Alana merasa gugup, mungkin jika ia tidak bisa menyembunyikan perasaannya, jantungnya serasa mau meledak, entah rasa malu atau rasa senang akan perlakuan Dave saat. “Dave, aku bisa melakukannya sendiri,” ujar Alana mencoba mengambil alih tisu di tangan suaminya.

__ADS_1


“Udah diam aja, sayang. Gak usah malu-malu, kaya sama siapa aja. Bukankah sudah ku katakan kita biasa melakukan hal yang lebih dari ini. Kalau saja tidak di depan orang-orang seperti ini. Aku pasti akan membersihkan bibirmu dengan bibirku,” ucap Dave membuat Alana kian melongo.


Bahkan Zain yang melihat dan mendengar interaksi keduanya, sampai menjatuhkan garpu yang ia gunakan untuk menusuk daging.


“Duh manisnya kalian ini,” puji Kirana seraya memegang lengan suaminya. “Pa, kamu tidak salah memberikan kontrak kerjasama dengan mereka. Melihat mereka romantis saja aku begitu bahagia, Pa!” sambung Kirana kemudian.


Pak Risky mengangguk-anggukkan kepalanya. “Iya Ma. Kan sudah Papa bilang, Papa ini family man. Dibandingkan dengan para anak muda yang hanya bekerja keras dan serius untuk dirinya sendiri, lalu bersenang-senang dengan pergi ke bar. Papa lebih senang menjalin kerjasama dengan orang yang sudah berkeluarga. Alasannya cuma satu, karena Papa tahu orang yang sudah berkeluarga semangatnya pasti lebih besar. Karena di belakangnya ada orang-orang yang ia cintai dan mencintainya, yang menunggunya untuk berjuang,” tutur Pak Risky.


Dari kalimat yang diucapkan Pak Risky, seketika membuat Alana semakin paham. Semua yang Dave lakukan tadi hanya untuk mempermudah proses penandatanganan kontrak. Rasanya Alana nyaris gila memikirkannya. Ia berusaha menahan mati-matian perasaannya yang membuncah. Ya Tuhan! Secepat itukah perasaannya berpaling? Ia sempat berfikir hatinya sudah mati kala dikhianati Edo. Tapi, nyatanya perasaan nyaman itu mulai tumbuh saat ia berdekatan dengan Dave. Sesaat Alana menjadi takut terbawa perasaan.


Sementara, Alana mengikuti langkah kaki Kirana ke gazebo bagian belakang. Di sana ada beberapa pohon Cemara yang dihiasi beberapa lampu temaram.


“Aku merasa begitu tertarik mendengar cerita dari suamiku tentang Dave dan dirimu, Alana.” Kirana membuka obrolan.


“Wahh.. terima kasih Nyonya. Saya jadi merasa malu,” cicit Alana sungkan.

__ADS_1


Kirana tertawa kecil. “Suami ku bilang kalian kalian terlibat cinta lokasi. Ini suatu hal yang begitu menarik. Seorang Dave Dirgantara mencintai karyawannya sendiri. Dia benar-benar berwibawa, berkharisma, baik seperti Mamanya.”


“Nyonya mengenal Mamanya Dave?” tanya Alana penasaran.


Kirana mengangguk. “Iya dulu kami berteman cukup dekat. Kami juga memiliki sahabat yang lain namanya....”


“Sayang, ayo pulang. Hari sudah malam.” Kedatangan Dave yang mengajak Alana pulang, membuat Kirana tak lagi melanjutkan ucapannya.


“Iya, Dave.” Alana beranjak dari tempatnya menghampiri Dave. Keduanya lantas berpamitan pada Kirana.


“Terima kasih untuk jamuan nya, Nyonya.” Alana membungkukan badannya.


“Sama-sama Alana. Senang bisa berkenalan denganmu. Kapan-kapan kita jumpa lagi ya, kita bisa mengobrol dan shopping bareng,” sahut Kirana menoleh ke arah Dave. “Boleh kan, Dave?”


“Tentu saja, Nyonya.”

__ADS_1


Setelah itu Dave dan Alana pun berlalu. Kirana mengantarkan keduanya ke depan. Bahkan hingga mobil mereka pun berlalu.


__ADS_2