
Alana tengah sibuk berkutat di dapur membuatkan kue nastar. Rencananya ia akan membawa kue itu nanti ke kantor suaminya. Bukankah Dave mengatakan suka, jadi ia pikir tidak ada salahnya membawakan kue untuk menemani lelaki itu bekerja.
Terhitung sudah satu bulan lamanya, Alana memang tidak berkunjung ke kantor Dave. Ia jadi rindu untuk makan siang bersama Risa. Satu-satunya anak kantor Dave yang begitu baik padanya. Bahkan ketika saat itu hampir semua orang menuduhnya sebagai seorang perempuan murahan. Hanya Risa yang membelanya, tetap rendah hati menerima apapun kehidupan Alana. Padahal jika ia tidak salah ingat, Risa merupakan salah satu pengagum berat Dave.
“Nona, kenapa banyak sekali kue nastarnya?” tanya Salma ketika melihat ada lima toples nastar yang sudah ia persiapkan untuk di bawa ke kantor.
“Karena aku juga berencana akan memberi teman-temanku, Salma.”
Pagi itu Alana memang terlihat lebih ceria. Hal itu pun membuat Salma pun ikut merasa senang, meski ia sendiri tidak mengetahui alasan kesedihan dan kebahagiaan perempuan itu.
“Aku masih menyisakannya untuk kamu dan yang lainnya, Salma. Jadi, nanti di makan saja. Buat teman kalian minum teh,” sambung Alana menunjuk pada toples yang lebih besar, sengaja ia sisakan untuk para pelayan lainnya.
“Terima kasih, Nona.”
Alana mengangguk, dirinya memang sudah rapi. Hanya tinggal berangkat saja. “Nona, perihal soal tadi pagi saya minta maaf,” sambung Salma.
__ADS_1
”Yang mana?” tanya Alana bingung.
“Yang tadi pagi, saat Tuan Dave sedang mencium anda di pintu,” jawab Salma tak enak.
Wajah Alana langsung merona. Ingatannya kembali akan ciuman sang suami tadi. “Lupakan hal itu, Salma.”
Setelahnya, Alana pun berpamitan untuk pergi dengan membawa nastar buatannya.
Alana baru tiba di depan rumah, dan hendak masuk ke dalam mobilnya. Namun, niatnya terhenti saat melihat sebuah mobil mewah masuk ke dalam pelataran rumahnya.
Senyum tersungging di wajahnya, ketika mendapati ibu tiri Dave – Gizka yang berkunjung. Sebenarnya sudah tidak asing kalau perempuan itu kerap mendatanginya. Apalagi urusannya jika bukan untuk menghina dirinya. Alana merasa sudah kebal rasa. Perempuan itu memilih membuka pintu mobilnya, untuk meletakkan kue nastar buatannya di dalam.
Gizka, perempuan berambut merah dengan kacamata yang hitam bertengger di hidungnya. Menatap Alana dengan sinis. Dandanannya memang terlihat memukau dan modis, semua barang yang di kenakan perempuan itu memang ber branded. Kesan pertama yang ia lihat dari Mama tiri Dave itu, memang cantik, bentuk tubuhnya juga bagus. Kemungkinan untuk itulah yang membuat Jonas tergoda, hingga menyelingkuhi mendiang ibu kandung Dave. Alana sendiri memang belum pernah melihat wajah ibu kandung Dave. Karena lelaki itu juga tidak memberi tahu fotonya.
“Dasar perempuan gembel tidak tahu diri,” caci Gizka.
__ADS_1
Alana melipatkan kedua tangannya di dada. Ia tersenyum tipis, menatap ibu mertuanya itu dengan tenang. “Perempuan gembel ini juga menantu anda lho, Nyonya.”
“Aku tidak pernah menganggap mu menantu. Dan sampai kapanpun tidak akan pernah.”
Alana mengedikan bahunya tak peduli. “Tidak masalah. Aku tidak pernah merasa rugi tidak dianggap menantu oleh anda, wahai Ibu Mertua.”
“Kau pikir, selama enam bulan ini aku dan suamiku diam. Kau sudah menang?” tukas Gizka menatap Alana dengan pandangan sengit, saat kacamata miliknya sudah ia buka.
“Aku tidak pernah merasa menang ataupun kalah. Aku hanya berusaha mengikuti takdir hidup yang telah Tuhan gariskan untukku. Hanya saja selama aku merasa benar, aku akan membela diri," ucap Alana.
“Tidak lama lagi. Kau juga akan merasa hancur Alana. Aku tidak akan pernah membiarkan orang sepertimu itu menghancurkan kehidupan keluarga Dirgantara. Menjadikan dirimu menantu itu adalah perbuatan yang memalukan. Kau pikir aku tidak tahu asal-usul dirimu. Kau itu hanya seorang anak yang dilahirkan dari perempuan yang memiliki penyakit jiwa. Dan pantas saja kau juga sama stresnya seperti ibumu itu.”
Alana mengepalkan kedua tangannya. Sungguh ia merasa tidak terima saat perempuan di depannya itu, menghina ibunya. Namun, sebisa mungkin ia masih mencoba untuk menahan diri, untuk tak melayangkan tamparan di pipi ibu mertuanya itu. Alana harus bisa membalas ucapan yang lebih menyakitkan untuk perempuan itu, yang bisa membuat perempuan itu bungkam namun merasa kesal.
“Aku pikir penyakit ibuku jauh lebih baik, karena ibuku masih jauh lebih terhormat. Di bandingkan dengan penyakit anda yang dengan mudah dan bangganya telah menghancurkan keluarga Dirgantara.”
__ADS_1
“Kamu??!!” teriak Gizka menatap tajam Alana. Ia bahkan hendak melayangkan tamparan di wajah perempuan itu. Namun, secepat kilat Alana menahannya.
Alana tersenyum sinis. “Kenapa? Anda merasa ucapanku itu benar kan. Dasar pelakor. Sadarlah, perilaku anda itu jauh lebih buruk dibandingkan denganku. Jadi, sebelum menghina ku lebih baik anda berkaca lebih dulu,” seru Alana seraya menyentak tangannya. Kemudian membuka mobilnya, Alana berlalu pergi.