Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Hobimu Memaksa


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Dave melepaskan ciumannya kemudian menyatukan keningnya dengan kening Alana, masih dengan nafas yang memburu. Bahkan ia juga bisa melihat jika bibir Alana terlihat sedikit membengkak.


“Alana, sebenarnya aku...”


Ceklek!!


“Tuan!”


Suara itu membuat keduanya terkejut, Alana langsung mendorong tubuh Dave dengan kuat, masih dengan nafas yang memburu.


“Maaf Tuan,” cicit Zain yang baru saja tiba dengan setumpuk dokumen di tangannya. Kedatangannya yang secara tiba-tiba, langsung mendapatkan tatapan tajam dari Dave. Menyadari apa yang sang atasan tengah lakukan, sejenak ia menjadi merutuki diri.


“Mati aku!” makinya pada diri sendiri.


Alana berdehem pelan, menetralkan perasaannya. “Aku akan melanjutkan pekerjaan ku,” kata Alana beringsut mengambil kembali berkas-berkas yang tadi ia letakkan dengan kasar di atas meja Dave. “Permisi,” sambungnya keluar dari ruangan Dave.


Dave mendengus menatap Zain dengan kesal. Sangking nikmatnya berciuman dengan istrinya, ia bahkan sampai lupa tak mengunci pintunya.


“Apa kau tidak bisa mengetuk pintu lebih dulu!” sergah Dave kesal. Padahal niatnya ia mau ngungkapin perasaan sesungguhnya, bukankah momennya sangat tepat tadi. Barangkali setelah Dave mengatakan perasaannya, Alana langsung mau diajaknya pulang ke rumahnya.


“Saya sudah mengetuk pintu berulang kali, Tuan. Tapi tidak ada sahutan. Saya pikir anda lagi di kamar mandi, untuk itu saya masuk. Mana saya tahu kalau anda sedang ciuman dengan Nona Alana, saya pikir dia udah pulang. Soalnya Nara juga udah pulang,” bela Zain. Ia tentu saja tak bohong, beberapa tahun kerja bersama Dave, tak sekalipun ia bersikap kurang ajar, perihal tadi karena ia sudah merasa berat membawa dokumen. Untuk itu di ketukan pintu yang kelima tak ada jawaban, ia langsung masuk.

__ADS_1


💞💞💞


Ketika jam kantor sudah habis, Alana menunggu sebuah taksi di pinggir jalan. Jam sembilan malam, angkutan umum sudah jarang yang lewat, bahkan hampir tidak ada. Untuk itu ia terpaksa mengeluarkan uang lebih.


“Ayolah, mengapa sejak tadi belum ada taksi yang lewat di depanku? Suara Guntur terdengar keras, sebentar lagi hujan pasti akan turun.”


Alana men desah dengan gelisah. Matanya celingukan menanti-nanti taksi yang lewat.


Sementara itu, Dave yang baru masuk ke mobil yang dikemudikan Zain keluar dari area kantor.


“Tuan, ada Nona Alana. Sepertinya dia sedang menunggu taksi,” ujar Zain.


Dave yang tengah sibuk dengan iPadnya pun menoleh ke arah samping, ia melihat istrinya tengah bergerak dengan gelisah. “Hentikan mobilnya Zain. Biarkan dia masuk.”


Menyadari itu suara Dave. Alana berdecak kemudian memilih berlalu. Berjalan meninggalkan Dave begitu saja.


“Tuan, Nona justru...”


Zain tak lagi melanjutkan ucapannya mana kala ia justru melihat atasannya turun dari mobil, mengejar Alana dengan cepat. Tanpa di sangka lelaki itu langsung menggendong Alana.


“Lepas Dave... Lepas aku tidak mau ikut denganmu!” Alana memberontak dalam gendongan sang suami. Hingga membuat orang-orang yang tengah menunggu angkutan di halte pinggir jalan itu menatap ke arah mereka semua.

__ADS_1


“Maaf ya Bapak-bapak, Ibu-ibu Istri saya ini lagi ngambek. Makanya kabur-kaburan!”


Alana melototkan kedua matanya. Menatap Dave dengan kesal. Namun, ia tak lagi memberontak karena merasa malu menjadi tontonan orang-orang.


Dave membawa Alana masuk ke mobil, dan dengan cepat pintu tertutup otomatis.


“Dave, turunkan aku. Aku mau pulang!”


“Aku tahu. Biarkan kami mengantarmu. Katakan saja alamatnya pada Zain,” ujar Dave lembut. Tangannya terulur mengusap rambut istrinya.


Alana berdecak memalingkan wajahnya. “Tak ku sangka. Lima tahun tidak bertemu ternyata sekarang hobimu berganti menjadi seorang pemaksa.”


“Karena kau itu lebih suka dipaksa,” balas Dave. Lelaki itu Mencondongkan tubuhnya. Membuat kedua mata Alana membulat.


“Ka–kau mau apa?!!”


Ceklek!


Terdengar bunyi seat belt dipasang. “Memasang sabuk pengaman. Memangnya kau pikir aku mau apa? Melanjutkan yang tadi di kantor?” godanya mengangkat kedua alisnya. Alana memalingkan wajahnya yang ia pastikan pipinya pasti bersemu.


Memilih diam tak menanggapi. Ia harus menemukan cara bagaimanapun Dave tidak boleh sampai mengikutinya sampai rumah. Ia belum siap jika Dave harus bertemu dengan Gala.

__ADS_1



__ADS_2