Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Aku Bahagia


__ADS_3

Hari itu Alana merasa sangat bahagia. Merasa semua perjuangannya selama ini tidak sia-sia.


“Buruan, An!” desak Alana pada sahabatnya itu.


“Bentaran napa, Al. Aku lagi cari receh ini, buat makan nanti,” sahut Andi yang tengah memperbaiki mesin mobil customernya.


“Iya ini istrinya Pak Dave Dirgantara kebelet banget. Mau ke mana sih emangnya?” timpal Silvi seraya menyeruput jus mangga miliknya. Kebetulan sebelah bengkel Andi itu penjual minuman.


Alana mengerucutkan bibirnya, kesal mendengar sahabatnya itu menyebut nama lelaki itu. Tidak tahukah jika ia sengaja keluar rumah itu untuk menghindari Dave, dan juga menghibur diri agar tak terlalu memikirkan perasannya itu.


“Mau traktir kita kali, Vi. Namanya juga sultan,” cibir Andi tanpa menoleh.


Alana berdecak ketika dirinya menjadi bualan kedua sahabatnya itu. “Emang!”


Sontak keduanya langsung menoleh ke arahnya. “Serius?”


Alana mengangguk antusias. “Iya. Aku juga rencananya mau ngajak kalian juga ke Panti Asuhan Kasih Ibu, mau bagi-bagi rejeki dikit, sebagai rasa syukur aku atas kesembuhan Ibu.”


Sontak Andi langsung menjatuhkan peralatannya, menoleh ke arah sahabatnya. “Serius, Al?”


“Iya. Makanya buruan keburu sore. Aku gak mau pulang kemalaman. Mau tidur cepat lah.”


“Oke. Aku bersih-bersih ganti baju dulu,” sahut Andi seraya memanggil karyawannya. “Lanjutin mobil ini dulu ya. Aku mau antar istri bos dulu tuh shopping. Mau jadi bodyguard soalnya takut sahabatku yang imut itu di culik,” sambungnya.


“Oke.”


Beberapa menit kemudian, ketiganya telah siap untuk pergi.


“Biar aku sajalah yang nyetir. Kamu duduk di belakang aja sama Silvi.”


Alana memberikan kunci mobilnya pada Andi. Ia membuka pintu mobil belakang dengan Silvi.

__ADS_1


Mobil melaju sedang, membelah jalanan ibu kota, dan berhenti di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota.


Alana mengajak ketiganya untuk berbelanja. Bermula dari pakaian anak-anak panti. Andi dan Silvi tampak antusias memilihnya.


“Kamu juga lah An, Vi. Milih juga buat kamu sekalian,” ujar Alana.


“Tapi Al...”


“Udah gak apa-apa. Kapan lagi aku bisa bayarin kalian begini. Bulan depan tentu aku udah kere,” seru Alana tergelak lucu. Meski sebenarnya itu tersenyum getir, waktu pernikahannya dengan Dave hanya tinggal menghitung hari. Namun, sampai detik ini ia sama sekali tidak bisa memenangkan hati Dave.


‘Cinta itu setia. Kalau dia sudah tidak setia berarti dia tidak mencintaimu,’


Kata-kata Dave saat awal-awal pernikahannya kembali bermuculan. Kini Alana terkekeh, menyadari betapa bodohnya ia, bisa-bisanya malah jatuh hati pada lelaki itu. Ahh sudahlah!


Alana mengenyahkan pikirannya, beberapa Minggu ke belakang ia sudah tidak ingin memikirkan perasaannya terlalu dalam. Bukankah tujuannya dari pernikahan itu sudah ia capai. Yaitu kesembuhan sang ibu juga penyesalan Edo, sudah ia dapatkan. Lalu untuk apalagi ia pikirkan. Tujuannya sekarang hanya satu menyelesaikan kontrak perjanjian ini, dengan semestinya.


Kini Alana tertawa mana kala melihat Andi memakai topi berbentuk beruang.


“Ya kau benar, Vi. Ucapanmu memang tidak pernah meleset, udah kaya cenayang,” seru Andi.


Sementara dari kejauhan tampak Dave dan Zain menatap ke arah Alana.


“Nona Alana tampak sangat bahagia Tuan. Apakah perlu kita menghampirinya?” tanya Zain.


Dave tersenyum tipis, lalu menggeleng. “Tidak perlu. Aku tidak ingin merusak suasana hatinya. Beberapa hari ke belakang aku lihat dia banyak merenung. Lebih baik kita kembali ke kantor saja.”


“Baik Tuan.”


Dave memilih berlalu, setelah merasa cukup senang melihat wajah ceria Alana.


Sementara Alana yang berada tak jauh darinya, samar-samar melihat punggung Dave yang menjauh. “Dave? Dia di sini? Dan dia tidak menyapaku?” gumamnya tersenyum getir.

__ADS_1


“Sudah Al. Kamu tinggal bayar,” tegur Andi kemudian.


“Oke.”


Setelah selesai transaksi, Alana membawa keduanya menuju supermarket untuk membeli jajanan dan keperluan anak panti lainnya.


💞💞💞


Sore hari Alana sudah pulang ke rumah dengan cepat. Ia membawa beberapa barang dari mall. Alana langsung membagikan pada pegawai di rumah Dave.


“Aku lagi bahagia. Jadi, anggap saja aku lagi bagi-bagi buat kalian,” kata Alana ketika membagikan beberapa pakaian baru pada pekerja Dave.


“Kau terlihat sangat bahagia hari ini, Nona Alana?” tanya Dave tiba-tiba. Saat itu Alana tengah bersenandung di kolam samping sambil memberi makan ikan.


Alana menoleh lalu menjawab. “Oh iya Dave. Soalnya aku–”


“Dave kau jadi mengantar aku kan.” Jesicca tiba-tiba muncul dan berdiri di sisi Dave.


“Hai Alana,” sapanya kemudian.


Alana hanya tersenyum masam. Kehadiran Jessica merusak suasana hatinya.


“Aku lupa kerjaanku begitu banyak. Jadi, aku tidak bisa mengantarmu. Kau pergilah sendiri,” sahut Dave berlalu pergi meninggalkan Alana dan Jessica.


Tampak Jesicca menghentakkan kakinya kesal. “Sial! Kenapa sih dia menghindari aku terus.”


Alana tersenyum bersorak senang. Rasanya seperti ada angin segar yang berhembus menerpa dirinya.


💞


💞

__ADS_1


Tunggu kejutan dariku selanjutnya ya❣️


__ADS_2