Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Istri Seorang Miliarder


__ADS_3

Ketika hari sudah beranjak sore, cahaya senja sudah tampak menyapa. Alana sudah terbangun dari tidurnya, kali ini badannya lebih segar dari sebelumnya. Entah berapa lama ia tertidur di ruangan suaminya. Hanya saja ketika ia terbangun suami dan putranya tidak ada di sana.


“Ke mana mereka?” tanyanya pada diri sendiri. Alana meneguk air mineral di atas meja sejenak. Setelahnya ia memilih mengambil ponselnya, membuka chatnya.


[Alana, kenapa belum pulang? Apakah semuanya tetap aman. Bagaimana dengan Dave?]


Alana mengigit bibirnya, ketika membaca pesan dari Ibunya. Terdiam ia mengira-ngira bagaimana rekasi sang Ibu ketika tahu Dave sudah mengetahui tentang Gala. Mengingat sang Ibu kemarahannya menggebu-gebu saat mendengar nama Dave. Membiarkan pulang ke rumah Dave tanpa Ibunya itu juga bukan pilihan yang baik. Satu tahun ia menjalani pernikahan kontrak dengan Dave, semua itu demi Ibunya. Dan sekarang ketika Ibunya sudah sembuh, Alana juga masih ingin menghabiskan waktu bersama.


Kriek!


Pintu terbuka terlihat Dave dan Gala masuk dengan membawa banyak tentengan di tangannya. ”Mami...” panggil Gala berlari ke arah Alana.


Lamunan Alana tentang sang Ibu seketika buyar. “Dari mana sayang?” tanyanya.


“Beli mainan, Mam. Bagus-bagus kan Mam. Kata Papi aku boleh memilih apa saja. Padahal aku cuma minta satu aja, Mam.” jawab Gala menunjukkan beberapa mainan yang baru saja ia beli.


Alana menghela nafasnya, menatap ke arah suaminya. “Dave, jangan terlalu berlebihan. Kau tahu mengajarkan anak boros itu juga tidak baik. Aku tahu uangmu memang banyak, tapi jangan...”


“Iya. Aku ngerti.” Dave mengangguk paham maksud istrinya. “Tapi, sesekali kan gak apa-apa,” lanjutnya.


Alana berdecak mendengarnya. Dave terkekeh, mengulurkan tangannya ke kening istrinya. “Sudah turun demamnya? Apakah sudah tidak pusing?”


“Iya. Makasih ya.”


Dave mengangguk. “Apapun untukmu.”


Alana terharu, Dave masih saja tak berubah meski ia tahu lelaki itu masih menyimpan rasa kecewa terhadapnya. Sosoknya hangatnya tak pernah hilang. Jika saja tidak ada Gala, ia ingin sekali memeluknya sekarang.


“Hari sudah sore akan lebih baik kita pulang, yuk?” ajak Dave beranjak dari sofa.

__ADS_1


“Pulang?” ulang Alana.


“Iya. Masa mau di kantor terus?”


“Pulang ke mana, Dave?” tanya Alana hati-hati.


“Sebenarnya aku pengen membawa kalian pulang ke rumah. Tetapi, aku pikir itu juga bukan pilihan yang baik. Bagaimanapun aku harus menemui dan meminta ijin dulu pada Ibumu bukan?” ujar Dave.


Alana mengangguk pelan. “Tapi, bagaimana kalau ibu...”


“Ya wajar kalau Ibumu marah. Bukankah aku adalah seorang menantu yang kurang ajar, menikahi putrinya tanpa ijinnya lebih dulu. Aku bahkan tidak pernah menemuinya saat ia di rawat di rumah sakit.”


💞💞💞💞


Keluar dari lift kantornya salah satu tangannya mengandeng tangan istrinya, sementara satunya ia gunakan untuk menggendong Gala. Aksinya itu kini menjadi perhatian para karyawan Dave yang satu persatu mulai pulang.


“Dave, aku bisa jalan sendiri,” ujar Alana ketika sang suami terus mengandeng tangannya.


Bisik-bisik karyawan terdengar, membuat pipi Alana merona. Bagaimana mereka semua memuji perilaku Dave yang menurutnya begitu romantis. Bahkan hingga ketiganya tiba di lobi, Dave masih saja tak melepaskan tautan tangannya.


“Papi aku ngantuk sekali,” ujar Gala mengalungkan kedua tangan mungilnya di leher Dave.


“Tidurlah,” ujar Dave.


Gala menggeleng. “Aku takut ketika aku terpejam. Papi pergi,” katanya lirih.


Alana meringis dalam hati mendengarnya. Ya Tuhan! Segitu sayangnya Gala pada Papinya.


“Papi akan terus bersama Gala,” kata Dave memenangkan.

__ADS_1


“Benarkah?”


“Hemm..”


“Jadi, malam ini aku bisa tidur sama Papi?”


“Iya!”


“Dave kau bilang kita pulang ke rumah Ibu. Kau tahu ranjang di rumahku itu kecil, hanya muat untuk—”


Mobil yang dikemudikan Zain tiba di depan mereka. “Udah diam. Ayo kita masuk,” ajak Dave.


💞💞


“Sayang, tidak bisakah kamu menyewa kontrakan dengan jalanan yang enak. Tidak sesempit gang ini?” gerutu Dave ketika melewati gang yang begitu sempit. Bahkan mobil saja tidak bisa melewat. Ia menggendong Gala yang tertidur. Sementara di belakangnya Zain membawa tentengan yang isinya semua mainan Gala.


“Dave, aku bukan miliarder yang datang langsung bisa menyewa unit apartemen.”


“Tapi, kau istrinya seorang miliarder,” pungkas Dave.


Alana hanya menyentak nafasnya. Membiarkan sang suami menggerutu sepanjang jalan. Mereka tiba di depan rumah yang cukup sederhana. Alana langsung masuk meninggalkan Dave hanya diam termangu di depan rumah.


“Di mana Gala, Alana?” tanya Ibu Ratmi melihat putrinya sudah pulang tanpa dengan cucunya.


“Dengan Dave. Tuh di depan," ujar Alana.


“Apa?!” pekik Ibu Ratmi beranjak dari tempat duduknya. “Bisa-bisanya dia bawa cucu Ibu. Awas saja laki-laki licik itu. Biar Ibu yang hadapi Alana,” sambungnya beranjak dari tempat.


Alana baru ingin membuka mulutnya, tetapi kecepatan jalan Ibu Ratmi menggebu-gebu. Ia takut ibunya benar-benar melakukan apa yang terlintas dalam otaknya.

__ADS_1


“Kam—”


Alana mengerutkan keningnya, melihat amarahnya Ibunya langsung lenyap, ketika sampai depan pintu.


__ADS_2