
Tiga hari kemudian
Mendung mengintai sepanjang perjalanan. Sementara Zain sibuk menelepon, Dave justru memandang penuh minat poster seorang artis cantik yang tengah mengiklankan suatu produk kecantikan. Desir kerinduan terselip dalam hati.
Kejutan menanti mereka saat tiba di depan sebuah restoran bintang lima. Tempat ia akan bertemu dengan Pak Risky, laki-laki setengah baya dengan rambut tersisir rapi ke belakang, bertubuh kecil dan ramping, matanya sipit. Penampilannya terlihat sederhana dengan kaos polo berwarna putih yang dipadukan dengan jaket berwarna hitam, bak anak muda. Namun, bukan Pak Risky yang membuat mereka kaget, tapi kehadiran Natasha–mantan calon tunangannya. Perempuan itu tengah duduk dengan anggun, menyesap minuman di tangan. Melihat kedatangan Dave dan Zain, Natasha hanya melirik sekilas.
“Hai, mantan calon tunanganku?” sapa Natasha dengan senyum yang berkembang.
Dave mengangguk kecil, ini adalah pertemuan kedua mereka setelah batalnya perjodohan itu. Ia masih tak menyangka akan kembali bertemu dengan perempuan itu di sana. Memang ia tahu keluarga Lie pun menginginkan proyek kerja sama dengan Pak Risky, hanya saja ia pikir yang akan datang dari pihak keluarga Lie adalah Pak Seno, namun ternyata Natasha–putrinya.
Natasha terus menatap ke arah Dave dengan pandangan penuh pengancaman, seakan-akan ia akan menunjukkan sesuatu yang padanya.
Melihat gelagat yang tak bagus, Zain segera bertindak. “Apa kabar Pak Risky? Ini Tuan Dave, dan saya sendiri Zain,” ucapnya memperkenalkan diri.
Pak Risky tersenyum lalu menjabat kedua tangan lelaki muda di depannya kini. “Silakan duduk!” ucapnya.
__ADS_1
Mereka duduk mengelilingi meja berbentuk persegi panjang beralas kaca, ada dining set yang tersedia di masing-masing kursi, juga bunga mawar putih yang terletak di tengah meja. Restoran tempat mereka bertemu terletak di depan sebuah rumah sakit jiwa. Jika Dave tidak salah ingat, rumah sakit itu juga tempat di mana ibu Alana dirawat.
Alana? Apakah perempuan itu juga sekarang tengah berada di sana. Dave ingat jika kemarin malam Alana mengatakan ingin menjenguk ibunya, setelah pulang kerja.
Melihat foto di buku menu restoran itu, seketika Dave paham jika restoran itu menyajikan makanan khas Nusantara.
Dave dan Zain duduk berhadapan dengan Natasha. Sementara Pak Risky duduk di sebelah ujung. Tak lama kemudian seorang pelayan lelaki datang. Baik Dave dan Zain memilih untuk memesan minuman lebih dulu.
“Saya sudah mendengar banyak tentang anda, Pak Risky,” ucap Dave membuka percakapan.
“Tentu saja kabar baik. Mengingat anda sudah puluhan tahun malang melintang di dunia property. Perkenalkan saya Dave, dari Dirgantara Karya.” Dave berkata sopan sambil mengangguk.
“Aku tidak seberapa dibandingkan dengan kamu anak muda. Kalian masih muda tentu semangatnya semakin tinggi. Pemikiran kamu juga pasti sama lebih kreatif dibandingkan kami para orang tua,” sahut Pak Risky tergelak. “Aku juga sudah mendengar banyak tentangmu Dave. Green peace itu salah satu proyek milikmu yang sempurna. Aku salut padamu,” lanjutnya.
Dave tersenyum simpul, tanpa sengaja pandangannya bertabrakan dengan Natasha yang terus menatapnya dengan penuh minat. “Terima kasih atas pujiannya. Tapi, semua itu tidak sebanding dengan anda,” jawab Dave merendah.
__ADS_1
“Jika tidak salah dengar, kalian sudah saling mengenal? Malah ada yang bilang kalian mau bertunangan.” Pak Risky menunjuk ke arah Dave dan Natasha.
“Iya memang Pak. Tapi, dia mencampakkan saya,” jawab Natasha sambil tertawa. Menunjukkan deretan giginya yang putih terawat dengan sempurna. Gaun sutra yang berwarna toska menambah wajahnya kian terasa begitu cantik, apalagi di tambah pantulan lampu yang terang benderang.
“Wah, Dave aku kecewa padamu. Bagaimana kau bisa menolak gadis secantik ini!”
“Mungkin saja karena saya dianggap kurang kompeten dalam bekerja Pak,” jawab Natasha malu-malu.
“Benarkah begitu Dave? Jika memang begitu kau salah kali ini,” pungkas Pak Risky. Ia bergantian menatap ke arah keduanya.
“Karena itu, hanya bapak yang bisa menolong saya. Beri saya kesempatan untuk menerim proyek kerja sama ini. Agar saya bisa membuktikan pada mantan calon tunangan saya ini, kalau saya bisa lebih baik darinya,” pinta Natasha tersenyum menatap ke arah Dave dengan tatapan sengit.
Pak Risky tertawa dengan lebar, memandang ke arah Dave. “Duh bagaimana ini Dave?”
Dave mengetuk-ngetuk jemarinya di atas meja. Matanya masih mengamati Natasha yang terus tertawa mengejek ke arahnya, seakan-akan kemenangan untuknya tengah di depan mata. Oh tidak! Semua tidak akan semudah itu. Dave harus mencari cara demi mendapatkan proyek jutaan dolar itu.
__ADS_1