Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Cara Ampuh Minum Obat


__ADS_3

Alana menutup matanya, merasa dirinya seperti di awan-awan. Kala rasa kantuk menyerang tiba-tiba.


Sementara, Dave yang baru saja tiba mengerutkan keningnya menatap meja istrinya yang terlihat kosong. “Di mana istriku, Nara?” tanya Dave.


Nara yang saat itu tengah sibuk di mejanya, terkejut mendapati sang atasan tiba-tiba berada di depannya, biasanya Dave tidak akan datang. “Nona ada ruangan kesehatan, Tuan.”


“Dia sakit?”


Nara mengangguk. “Iya, saya sudah memintanya untuk pulang. Tapi dia tidak mau.”


“Kenapa tidak menelpon saya sejak tadi!” sergah Dave cemas. Kemudian memutar tubuhnya kembali ke lift menuju ruangan kesehatan.


Suara pintu yang terbuka membuatnya terbangun, dan ia sadar tidur tidak lebih dari sepuluh menit. Ia pikir yang datang suster yang kembali dari makan siang.


“Suster saya sudah baikan.” Alana berusaha bangun, merapikan baju dan rambutnya dan mendongak mencari sosok suster tapi siapa sangka ia justru menatap manik tajam milik Dave.


“Dave?” ucapnya tergagap.


Dave melangkah mendekati ranjang. “Kamu sakit?” tanyanya cemas.


Alana mengangguk. “Hanya flu biasa.”


Tangan Dave terulur untuk meraba kening istrinya. “Panas sekali? Kita ke rumah sakit saja ya.”


“Tidak Dave. Itu tidak perlu. Di sini juga kan udah ada perawat. Aku hanya butuh istirahat sebentar.”


Dave menghela nafasnya. “Sudah minum obat?” tanyanya lagi.

__ADS_1


Alana menggeleng, “belum..”


Alana tak lagi melanjutkan ucapannya, mana kala suaminya itu justru meraih sebutir obat yang tadi ia letakkan di atas nakas. Lalu memasukannya ke dalam mulutnya. “Dave kamu sakit?”


“Hem..”


“Sakit apa Dave? Perasaan kamu emmhhh...” Alana melotot saat tiba-tiba Dave menciumnya. Kemudian ia merasakan butiran obat masuk ke dalam mulutnya, dan di dorong oleh lidah Dave. Setelahnya, Dave melepaskan ciumannya. “Begitu kan cara paling ampuh untuk kamu minum obat? Awas jangan dimuntahin.” Dave meraih satu gelas air mineral di atas meja. “Ayo minumin, atau perlu aku...”


Dengan cepat Alana meraih gelas itu, meneguknya. Tidak ingin Dave kembali menciumnya.


“Tidurlah lagi!” ujar Dave sambil meletakkan gelasnya di atas nakas.


“Nggak Dave. Kerjaan banyak.” Alana menurunkan kakinya.


“Suaramu terdengar sangau, dan kau masih saja keras kepala?”


“Dave....”


“Aku menyuruhmu untuk istirahat, dan kau tahu aku paling tidak suka dibantah.”


Tercabik antara keinginan untuk berteriak marah, tapi bersamaan dengan kepalanya terasa berdentam menyakitkan. Dengan pasrah akhirnya ia kembali berbaring.


“Menyingkirlah sedikit, aku juga ingin berbaring,” pinta Dave yang berdiri di sisi ranjang Alana.


“Kenapa?”


“Tentu saja aku juga pusing. Kemungkinan virusmu tadi menular, saat aku memberimu obat,” celetuknya asal.

__ADS_1


Mengabaikan Alana yang keberatan, Dave mendorong pelan tubuh istrinya yang tidak terlalu besar, lalu ikut berbaring di sisinya. Lengan mereka bersentuhan, tubuh Alana kaku seketika. Ia bisa merasakan hangat laki-laki yang kini berbaring menghadapnya. Tak ingin mencari masalah, ia berbalik memunggunginya.


“Tidurlah aku di sini!”


Ucapan Dave terdengar sangat dekat di telinga Alana, membuatnya tak bisa bergerak. Tangan yang besar merangkulnya, dan hangat napas terdengar dari arah belakang lehernya. Alana menggeliat tapi justru membuat tangan Dave jatuh ke bawah dadanya.


“Kamu lembut dan wangi. Parfum yang kamu pakai ternyata masih sama seperti dulu.”


Alana menahan napas, merasakan suara Dave terdengar sangat dekat.


“Rambutmu juga harum, shampoo apa yang kamu pakai, sayang?”


“Itu Dave—”


“Sstt... Jangan bicara, pejamkan matamu.”


Alana men desah kesal. Bagaimana bisa ia menutup matanya, saat ia merasakan ada sosok panas yang melingkupi tubuhnya. Meski ia sedang flu, ia juga bisa mencium samar-samar parfum Dave yang terasa menggairahkan. Hingga de sahannya terdengar oleh Dave. Membuat laki-laki itu semakin mendekat. Tangannya semakin erat mendekap tubuh perempuan itu, hingga satu kecupan melayang di belakang leher Alana. Membuat napas Alana tercekat.


“Dave? Please?”


“Kenapa Alana? Kamu tidak suka aku memelukmu seperti ini. Aku bisa merasakan tubuhmu panas. Ini karena memang kamu sakit atau karena kedekatan kita?”


“Aku rasa ini bukan saat yang tepat, Dave.”


Terdengar dengkusan kasar dari Dave. “Lalu kapan yang tepat? Apakah itu artinya kamu akan memberikan aku kesempatan?”


Alana menoleh, “Dave maksudnya?”

__ADS_1


Dave menatap tajam Alana dalam keremangan. “Entah apa yang harus ku lakukan untuk membuatmu percaya.”


__ADS_2