
Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh. Dave sudah siap dengan jas berwarna putih tulang, yang membalut tubuhnya, dengan celana yang berwarna senada. Seperti biasa lelaki itu terlihat tampan rupawan.
Saat ini Dave tengah duduk di kursi bersama Zain, keduanya membicarakan dokumen-dokumen penting yang harus di bawa sebagai persyaratan kerjasama itu terjalin.
Dave melirik arloji di tangannya. “Kenapa Alana belum turun,” ucap Dave gusar. Ia bahkan sampai berpikir kemungkinan Alana ketiduran.
“Mungkin masih bersiap, Tuan," sahut Zain. “Perempuan kan biasanya memerlukan waktu yang lebih banyak hanya untuk berhias diri di depan kaca.”
Dave mengangkat kedua alisnya menatap ke arah asistennya dengan heran. “Kau seperti begitu paham sekali tentang perilaku perempuan. Seolah-olah kau adalah pemain perempuan yang handal, padahal kau itu jomblo sejati,” cibirnya.
Zain melengos, tidak tahukah atasannya itu. Mengapa sampai detik ini dirinya masih jomblo, karena waktunya sudah habis untuk mengurusi segala kepentingan Dave. “Saya akan menikah nanti, jika anda sudah bahagia dengan pasangan yang tepat, Tuan.”
“Hemm... Maksud mu ketika aku sudah menikah dengan Jessica?” seru Dave.
Zain berdecak kecil, hampir tak terdengar. “Tuan, apa anda yakin dengan Nona Jessica? Bagaimana jika nanti dia kembali pun masih mengulur waktu untuk menerima pinangan anda?”
__ADS_1
“Entahlah, kita lihat saja nanti.”
“Kenapa anda tidak mencoba menjalani yang sudah ada saja,” saran Zain.
“Maksud mu?”
“Dengan Nona Alana mungkin, kalian itu–” Belum sempat Zain menyelesaikan ucapannya, terdengar dengusan kesal bibir sang atasan.
“Kamu itu sepertinya kurang tidur. Bicaramu melantur. Mana ada seseorang bisa membangun rumah tangga yang bahagia tanpa sebuah cinta. Kamu tahu benar bagaimana perasaanku. Begitupun dengan Alana. Gadis itu ternyata begitu mencintai Edo. Poin perjanjian itu tetap harus berjalan dengan semestinya."
“Zain?”
“Oke saya tidak akan mengatakan apapun. Saya hanya mau bilang, bagaimana jika setelah anda dan Nona Alana bercerai. Saya saja yang menikahi Nona Alana?" seru Zain yang entah mendapatkan keberanian dari mana, pertanyaan itu meluncur begitu saja.
“Sialan!” umpat Dave memberi tendangan kecil pada kaki Zain, lewat kolong meja, membuat lelaki itu meringis kecil. “Kalau bukan karena kamu itu sahabat ku. Sudah ku seret kamu, aku ceburkan kamu ke danau belakang,” sambungnya.
__ADS_1
Zain hanya tertawa kecil, meringis menikmati rasa sakit di kakinya. Membayangkan dirinya diseret oleh atasannya, lalu dilempar ke danau belakang. Kebetulan rumah yang Dave tempati itu terdapat sebuah danau di belakangnya.
“Salma, tolong panggilkan Alana. Bilang padanya aku sudah menunggu di bawah,” perintah Dave sedikit berteriak memanggil pelayan pribadi Alana, yang kebetulan saat itu tengah lewat.
“Itu Nona Alana, Tuan.” Salma menunjuk ke arah tangga. Di mana Alana mulai turun menapaki satu anak persatu tangga.
Baik Dave maupun Zain, keduanya langsung mengalihkan pandangannya ke arah Alana. Bahkan Dave sampai berdiri, kedua matanya memandang Alana tanpa berkedip. Gaun kuning madu yang membalut tubuhnya begitu pas, terkesan anggun, di tambah kulit Alana yang memang seputih susu. Wajahnya yang cantik, hanya diberi riasan tipis, dengan pewarna bibir yang tidak mencolok. Rambutnya yang panjang tak terlihat, Alana tak menggerainya, perempuan itu lebih memilih menggulung rambutnya, hingga menyisakan anak rambut di depannya.
Tersenyum simpul, Dave melangkah menghadang Alana tepat di anak tangga paling bawah. Bak seorang pangeran yang tengah menjemput seorang putri.
Sementara, Alana yang melihat Dave berdiri di depan anak tangga bawah, justru membuatnya gugup. Perempuan itu bahkan mulai berjalan sedikit lebih cepat. Hingga di bagian anak tangga paling bawah. Alana hampir terjatuh, beruntung Dave sigap menahannya.
“Hati-hati, Alana.”
Alana terkesiap mana kala tangan kekar Dave kini memegang pinggangnya, menahan dirinya untuk tidak terjatuh. Tatapan keduanya saling terpatri satu sama lain.
__ADS_1