
Alana sedih bukan karena dirinya dihina gembel oleh ibu mertuanya. Melainkan ia sedih karena lagi-lagi ia mendengar ibunya di hina sakit jiwa. Meski memang kenyataannya benar. Namun, sebagai seorang anak ia pun merasa tidak rela.
Sengaja tadi ia meninggalkan Gizka yang mengomel-ngomel. Selain malas meladeni, ia juga sedang tidak ingin berdebat. Apalagi jika sampai ia hilang kendali, menggunakan ototnya. Lalu Gizka merengek dan mengadu pada Jonas. Kemungkinan Jonas mendatangi Dave dengan marah-marah karen ulah dirinya. Memikirkan kemungkinan itu membuat Alana merasa pusing.
Pekerjaan Dave itu sangat banyak. Ia tidak ingin menambah beban dan masalah pada lelaki itu. Untuk itu ia menghindari membuat masalah yang bisa melibatkan Dave di dalamnya.
Citttt! Brakk!!
Mobil yang dikemudikan Alana tiba-tiba menabrak mobil di depannya. Membuat keningnya membentur kemudi.
Meski terasa sakit, Alana tak memperdulikannya. Ia justru merasa tak enak hati dengan mobil yang di tabrak. Sial! Semua itu gara-gara kebanyakan melamun kan Gizka. Ternyata kedatang ibu mertuanya siang itu ke rumahnya, justru membuatnya suasana menjadi buruk.
Alana meringis memegang keningnya yang ia pastikan saat ini pasti terlihat memar. Tiba-tiba kaca mobilnya di ketuk oleh seorang pria asing.
Tok! Tok!
Alana membuka pintu kaca mobilnya, belum sempat ia bersuara, pria itu sudah menyelanya lebih dulu.
__ADS_1
“Nona, apa anda tidak bisa menyetir mobil dengan benar? Jika memang anda tidak bisa, mengapa anda menyetirnya. Anda tahu, perilaku anda ini telah membahayakan. Tak hanya untuk diri anda, juga untuk orang lain. Jelas anda bisa melihat mobil saya sudah parkir di pinggir,” omel pria itu.
Alana mendesis, tidak tahukah jika keningnya terasa sakit. “Maaf. Saya memang bersalah. Lalu, apa yang bisa saya lakukan. Agar anda memaafkan saya?” tanya Alana menoleh ke arah jendela.
Namun, bukannya mendapatkan jawaban. Pria itu hanya terdiam menatap Alana. Membuat Alana berdecak kesal, pasalnya ia sudah merasakan pusing pada kepalanya, akibat benturan di keningnya tadi. Alana langsung membuka tas miliknya, mengambil kartu nama miliknya, lalu mengulurkan pada lelaki itu. “Anda bisa membawa mobil anda ke bengkel. Dan perbaiki kerusakannya, saya akan membayar jumlah kerusakannya. Saya tahu ini salah dan tidak sopan. Tapi kepala saya sudah pusing. Jadi, tolong terima lebih dulu kartu namanya, setelah selesai hubungi saya.”
Pria itu hanya diam mengambil kartu nama Alana. Setelahnya, Alana segera melajukan mobilnya menuju kantor Dave. Pasalnya mau kembali pun sudah terlanjur. Sedikit lagi ia akan tiba di kantor suaminya.
Mobil yang dikemudikan Alana tiba di kantor Dave. Setelah memarkirkan mobilnya dengan benar. Alana langsung turun dan berlalu masuk ke dalam kantor suaminya dengan pelan.
Banyak karyawan yang menyapa dirinya. Namun, tak sedikit pula yang menatap dirinya dengan pandangan aneh. Alana tak peduli ia sudah tak heran. Saat ini ia hanya ingin segera tiba di ruangan Dave. Kepalanya sungguh terasa pusing, ia ingin segera berbaring.
“Kamu dari mana?” tanya Alana pada Risa.
“Habis makan siang dong,” sahutnya.
Alan mengangguk ia baru ingat jika ini jam makan siang. Pantas banyak karyawan yang keluar. Padahal niatnya datang untuk mengajak Risa makan bersama. Tapi, karena Risa sudah makan dan juga kepalanya terasa pusing. Alana mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Kini keduanya masuk ke dalam lift yang menguntungkan ke ruangan Dave.
“Aku membuat kue nastar. Buat kamu satu ya. Kamu suka kan?” ucap Alana memberikan satu toples kuat buatannya.
“Aku suka! Terima kasih, Alana. Jadi semangat bekerja kalau begini,” ujar Risa.
Bunyi Ting terdengar, tanda bahwa lift sudah sampai. Keduanya pun lantas keluar dari sana. Alana melambaikan tangannya pada Risa. Ia berlalu ke ruangan Dave. Namun, sebelum itu ia menghampiri Nana – Sekertaris Dave.
“Hallo, Kaka Nana?” sapanya.
“Eh Alana. Apa kabar? Pasti mau ke menemui Tuan Dave ya?” tanya Nana.
Alana mengangguk. ”Iya. Dia adakan.”
“Ada. Tapi, masih rapat. Kamu tunggu aja di dalam.”
“Iya deh. Kepala ku pusing, aku mau tiduran dulu.”
__ADS_1
”Keningmu kenapa Alana?” pekik Nana kaget.
“Panjang ceritanya. Aku masuk dulu ya,” pamitnya. Namun, sebelum ia membuka tas bawaannya. “Aku buat kue, satu buat Kak Nana ya.”