Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Side Story – Ditolak!


__ADS_3

Keesokan harinya...


Tok! Tok! Tok!


Pintu kontrakan Silvi di ketuk seseorang dari luar dengan sedikit kencang. Silvi yang baru membuka kedua matanya merasa terkejut ia melihat jam di dinding ternyata sudah pagi. Segera ia beranjak membukakan pintu.


Ceklek!


“Baru bangun ya?”


Itu suara Andi yang datang dengan membawa kantong kresek entah berisi apa. Silvi hanya menganggukkan kepalanya kesadarannya belum sepenuhnya pulih. “Ini aku bawa oleh-oleh. Biasa jajanan sedikit," sambung Andi memberikan kantong keresek padanya.


Silvi menerima tanpa membukanya. “Makasih ya.”


Andi mengangguk. “Padahal niatnya mau ngajak sarapan. Eh kamu malah baru bangun. Gimana sih anak gadis kok jam segini baru bangun.”


“Capek banget aku. Tapi, boleh deh sarapan bareng. Tunggu di sini ya, aku mandi sebentar!”


“Oke!”


Namun, belum sempat ia berbalik masuk sebuah mobil truk berhenti tepat di depan kontrakannya, kemudian seorang supir yang tampak mengenakan seragam kurir pun turun. “Nona Silvi ya?” tanyanya di balik pagar.


”Iya. Saya sendiri!”


Silvi dan Andi saling berpandangan heran. Keduanya lantas berjalan menghampiri kurir itu. “Ada apa ya, Pak?” tanyanya sambil membuka pintu gerbang.


Kurir itu memberikan satu buket bunga mawar putih, dan secarik kertas tanda terima. “Mohon diterima dan ditandatangani ya, Nona. Ini ada kiriman bunga dari Tuan Zain Prasaja!”


Silvi membulatkan matanya, mencoba mencerna kembali ucapan kurir itu takut-takut ia salah terima.

__ADS_1


Dia mengambil buket bunga itu, dan mengambil secarik kertas lalu membacanya.


...Bunga yang cantik, untuk wanita yang cantik....


...Tahukah kamu?...


...Satu-satunya wanita yang memenuhi syarat untuk menjadi istriku adalah kamu....


...Syarat yang langgeng adalah jatuh cinta padamu berulang kali....


...Will you marry me?...


Kata demi kata yang tertulis di kertas itu mampu membuat wajah Silvi merona, tak ia sangka seorang Zain bisa membuat kata-kata romantis dan menggelikan itu. Namun, lamunannya buyar mana kala ia menjadi kesal. Apa-apaan dia melamar lewat bunga, tapi orangnya gak muncul.


Sementara Andi mengedarkan pandangannya pada isi dari bak truk itu. Ia menelan ludahnya. “Bunganya cuma yang ditangan doang kan, Pak?”


“Bukan. Tapi, di dalam bak truk itu juga.”


“I–iya, Nona. Satu truk bunga mawar putih.”


Silvi langsung merubah wajahnya menjadi kesal. “Apa-apaan. Dia mau buat aku jualan bunga kali apa!” dengusnya berdecak pinggang.


Andi tertawa kecil. “Cie dilamar pujaan hati. Ku pinang kau dengan satu truk bunga mawar putih,” godanya.


“Gak!” tegas Silvi. Lalu mengembalikan sebuket bunga mawar putih, dan notanya tanda terima. “Kembalikan padanya, Pak.”


“Tapi—”


“Bilang padanya saya gak butuh bunga!” Hatinya yang tadi sudah berbunga-bunga mendadak jadi kesal setengah mati.

__ADS_1


💞


Zain, Dave dan Alana baru tiba di lobi perusahaan Dirgantara. Mereka baru akan masuk ke kantor, namun niatnya terurungkan mana kala melihat sebuah mobil truk berhenti tepat di lobi, mengejutkan Zain. Sementara Dave dan Alana berpandangan bingung.


“Tuan Nona Silvi menolaknya. Dia bilang dia tidak butuh bunga. Ini bunganya saya taro mana ya, Tuan?” ucap kurir tiba-tiba.


Zain terkejut luar biasa. Ia kembali ditolak? Ya Tuhan. Dia menjerit dalam hati meskipun berselimut merasa kesal. Padahal ia sudah membayangkan jika Silvi pasti menyukai bunga kirimannya. Semalam suntuk ia searching akun sosmed gadis itu di mana ia baru menemukan fakta jika gadis itu menyukai bunga mawar putih, hingga terlintaslah ide itu. Dan niatnya siang apa sore nanti setelah tidak sibuk, ia akan kembali datang membawa sebuket bunga dengan mengatakan niatnya. Namun, rencananya berantakan. Dia merasa kesal sekaligus malu. Lagian kenapa harus dikembalikan di kantor, harusnya di apartemen saja biar tidak ada yang tahu.


Apalagi melihat tatapan sang atasan padanya juga para karyawan kantor yang berbisik-bisik tentang dirinya. Pastikan suasana kantor kali ini akan heboh dengan beritanya seorang gadis menolak bunga dari seorang asisten Zain.


“Apa-apaan ini, Zain?” tanya Dave heran. Sungguh ia tidak tahu apapun.


Sementara Alana menahan tawanya.


“Maaf Tuan, saya—”


“Seorang Zain ditolak seorang gadis!” Dave tertawa mengejek. Ia merangkul pundak istrinya. “Bilang pada sahabatmu sayang. Dia hebat!” sambungnya pada istrinya.


Zain merona luar biasa malunya. Dalam hati ia mengancam tindakan Silvi yang berani kembali menolaknya. “Awas saja dia—”


Dan pagi itu terjadi kegemaran di kantor dengan berita Zain yang ditolak, pada akhirnya buket bunga itu diberikan pada seluruh staff Dirgantara Karya. Zain harus kuat menebalkan telinganya mendengar Dave dan Nana terus mengejeknya. Rasanya ingin sekali ia memutarkan kata-kata sang atasan dengan cara mengingat lagi bagaimana dulu saat istrinya meninggalkannya. Tapi tidak ia lakukan, ingatlah bahwa dia hanya seorang bawahan.


“Gak usah ngejekin Zain. Masih mending dia ada niat ngelamar Silvi resmi, dari pada kamu!” bela Alana yang mampu membuat Dave kicep. Dan Zain bersorak senang dalam hati.


“Malah belain dia sih! Aku kan udah berikan apapun untuk kamu!” Dave menekuk kedua kakinya di hadapan Alana.


“Zain lebih romantis ternyata. Aku gak pernah kamu beri bunga,” protesnya.


Dave terdiam merasa kesal dibanding-bandingkan dengan asistennya. “Ya besok aku beri ke kamu sama tokonya sekalian.”

__ADS_1


“Ihh gak sama tokonya juga!’ protes Alana kesal.


__ADS_2