
Bahkan rasa sakitnya mengalahkan luka di lututnya. Alana memalingkan mukanya, membiarkan Dave melanjutkan pengobatan di kakinya. Rasanya terasa sakit, seperti seseorang yang baru mendapatkan penolakan ungkapan cinta. Jika sudah seperti ini, terbesit rasa menyesal telah menerima tawaran kontrak pernikahan itu. Namun, saat mengingat wajah ibunya, secepatnya ia mengesampingkan perasaaannya itu.
“Bagaimana kau bisa terjatuh Alana?” tanya Dave yang telah selesai mengobati lutut Alana. Tampak lukanya pun sudah di beri plester.
Alana menoleh, lalu tersenyum tipis. “Aku hanya kurang hati-hati saat menyeberang jalan,” dustanya. Ia memilih untuk tak mengatakan kejadian sebenarnya.
“Sudah ku katakan jika kau pergi ajaklah Salma, atau tidak kau bisa bawa sopir. Karena jika saat kau sendiri, akan banyak orang yang menggunakan kesempatan itu untuk melakukan kejahatan. Karena mereka sudah tahu siapa kau bagi aku,” ujar Dave seakan mengerti kejadian sebenarnya.
Alana mengangguk, tersenyum masam. “Lalu, haruskah ku katakan pada mereka jika aku hanyalah seorang istri yang dibayar. Agar mereka tak perlu menggangguku atau bahkan merenggut nyawaku, Dave?” tanya Alana dengan sorot mata teduh. Dave terkesiap mendengarnya.
“Alana, apakah kamu berniat–”
“Tidak! Aku hanya bercanda Dave. Lupakan saja. Tenang saja aku akan menjalankan kontrak pernikahan kita sampai selesai. Lima bulan lagi, semua ini akan berakhir.” Alana terkekeh kecil seraya mengambil buku yang semula ia letakkan di meja, ia mulai membukanya. “Kau baru pulang kan? Masuklah istirahat Dave. Aku akan melanjutkan membaca buku,” sambungnya
Dave bergeming menatap wajah Alana yang tertutup buku. Karena perempuan itu kini tengah membaca salah satu novel karangan penulis terkenal.
Kini Dave membereskan kotak obat itu lalu meletakkannya di meja. Sementara Alana masih bergeming berpura-pura membaca, padahal berkali-kali ia tengah menekan rasa sakitnya. Ia berusaha untuk tak peduli kehadiran Dave yang masih berada di sisi kursinya. Melihat lelaki itu sibuk membereskan kotak obat ia yakin, Dave akan segera berlalu pergi.
Namun, ia terkejut mana kala dugaannya salah. Karena kini lelaki itu justru membaringkan tubuhnya di sisi Alana.
__ADS_1
“Dave apa yang kau lakukan?” pekik Alana.
“Tiduran, aku lelah sekali Alana. Kau lanjutkan saja membaca bukunya.”
“Kau kan bisa masuk ke kamar dan istirahat,” ujar Alana.
“Malas. Karena di sini lebih nyaman, sambil menikmati semilir angin. Sudahlah kau diam saja, lanjutkan baca bukunya. Aku tidak akan menganggu, tenang saja,” terang Dave.
Alana menelan ludahnya, bukan masalah menganggu. Hanya saja jarak keduanya yang begitu dekat, saling bersentuhan seperti itu membuat jantung Alana berdetak kencang. Oh ayolah, dirinya baru saja merasa kesal dengan lelaki itu. Kenapa tiba-tiba mendekatinya seperti itu.
“Kenapa hanya diam? Ayo cepat baca bukunya? Sedikit keras karena ingin mendengarkannya,” pinta Dave yang kini wajahnya menghadap ke arahnya.
“Baiklah dengarkan aku membaca.” Alana membuka halaman novel itu secara sembarang, lalu mulai membaca.
“Barangkali yang tidak kamu tahu adalah aku yang mencintaimu tanpa syarat apapun. Aku yang hadir dalam dirimu setulus air yang mengalir dari hulu, yang membiarkan diri tetap menuju muara meski di sepanjang perjalanan banyak sekali duka yang menghalanginya.” ![Quotas Boy Chandra _ Tulus untuk orang yang salah]
Dave mengatupkan mulutnya rapat, mendengarkan kata-kata demi kata yang Alana bacakan. Kenapa sejenak ia merasa kata-kata itu merupakan sebuah sindiran untuknya. Namun, Dave berusaha bersikap santai. “Aku jadi ngantuk mendengar kau membaca novel Alana,” kata Dave seraya beranjak mengubah posisinya menjadi duduk.
Alana jadi terkekeh. “Tapi kau membaca tumpukan berkas tak mengantuk Dave.”
__ADS_1
Dave mengangguk. Alana memilih menutup buku novelnya. Meletakkan di atas meja. “Jadi, katakan denganku. Kenapa kau pulang lebih cepat? Apakah Grandma sudah membaik?” sambungnya bertanya karena suaminya itu memang pergi ke Italia mengantarkan Ambar untuk berobat.
“Sudah, tapi dia belum bisa kembali. Dan dia menitip salam untukmu.”
Alana terharu, dari banyaknya keluarga Dave. Hanya Grandma Ambar yang benar-benar tulus padanya. “Aku akan menelponnya besok.”
“Ya, ku rasa itu lebih baik. Dia pasti akan lebih semangat untuk sembuh. Dia bilang ketika nanti dia pulang, kau adalah orang yang pertama kali ingin ia temui.”
“Benarkah? Aku tak sabar untuk itu,” ujar Alana berbinar bahagia.
Dave tersenyum simpul, melihat rona bahagia di wajah Alana.
“Dave, kapan Jessica akan kembali?” tanyanya kemudian, membuat Dave bungkam.
“Jika kontrak kerjanya sudah selesai.”
“Menurutmu, apakah dia mengetahui pernikahan kita? Lalu apa responnya?” tanya Alana penasaran. Meski terasa sakit dan tidak rela. Alana hanya ingin membiasakan diri.
“Dia tahu Alana. Dan semua baik-baik saja. Ya sudah aku masuk dulu.” Dave beranjak dari tempatnya.
__ADS_1