
“Aku hanya tengah melihat pembuatan gedung tinggi itu. Aku sempat berpikir seseorang membutuhkan sayap untuk membuatnya,” jawab anak itu dengan polosnya, membuat Dave tergelak gemas.
“Lalu dengan siapa kau datang kemari?" Dave memastikan keadaan sekitar, tidak siapapun di sana. Bagaimana anak sekecil itu di biarkan sendiri.
“Dengan nenek. Tapi, dia masih di makam sana. Aku tadi melihat kucing lucu berlari ke arah sini, untuk itu aku bisa kemari.”
Dave paham memang daerah sini tidak jauh dari sebuah pemakaman. “Oke. Tapi kau harus tahu anak tampan. Jika tempat ini berbahaya untuk seorang anak kecil. Dari cara bicaramu aku tahu kau anak yang pintar. Dan kau pasti tahu bukan? Jika kau tidak boleh melewati batas itu,” tunjuk Dave pada arah batas bahaya. Tetapi, anak itu hanya bergeming memandang ke arah atas dengan takjub pada sebuah alat yang tengah bergerak mengangkat material pembangunan hotel.
“Hei, kenapa kau tak mendengarkan ku? Astaga, kenapa sulit sekali mengajaknya bicara.” Dave beranjak dari tempatnya, melirik arlojinya ia ingat jika ini sudah lebih dari cukup untuk meninggalkan Alana. Istrinya sedang sakit di kantor, ia cemas dan berjanji akan secepatnya kembali. Namun, bagaimana dengan anak kecil itu. Entah kenapa membiarkan anak itu sendiri menurutnya juga bukan pilihan yang baik.
“Hei, bagaimana jika aku mengantarmu ke tempat Nenekmu berada?” tawar Dave kemudian.
Anak kecil itu menghela nafas panjang, lalu berkata. “Paman apa kau tidak bisa diam. Kau ini berisik sekali seperti Mami, membuat aku tidak bisa konsentrasi melihat gedung itu. Padahal aku sangat penasaran sejak dulu.”
Dave tergelak, seumur hidupnya baru kali ini ia mendapatkan Omelan dari anak kecil, lucunya anak itu menyamakan dirinya seperti emak-emak.
“Aku hanya menawarkan bantuan, dan kau mengatakan aku berisik. Hemm jika saja aku tak melihat wajahmu begitu imut, aku akan mencubitmu.” sahut Dave dengan nada jengkel. Cuacanya yang terik membuat tubuhnya terasa berkeringat, ia harus segera kembali ke kantor.
Namun, anak itu menoleh ke arah Dave dengan pandangan tak terbaca, hal itu membuat Dave tersadar. “Ada apa?”
__ADS_1
Namun, tiba-tiba detik berikutnya wajah anak itu kembali berbinar bahagia. Entah apa yang membuatnya senang. Dave merasa aneh melihat raut wajah anak itu yang berbeda-beda. “Hei kau ini kenapa?” desak Dave cemas.
Namun, bukan jawaban yang segera ia dapatkan. Anak itu justru mengulurkan tangannya. “Paman bisa memanggilku Gala.”
Dave menganga bingung. Namun, detik berikutnya ia terkekeh geli, mana kala menyadari anak itu tengah memperkenalkan diri.
“Hemm... Baiklah Gala. Namaku Dave, kau bisa memanggilku Paman Dave.”
Keduanya saling berjabat tangan. “Senang berkenalan dengan Paman.”
Binar bahagia terlihat dari kedua manik mata hitam itu, membuat hati Dave terasa tercubit gemas.
Ya Tuhan... Ada apa ini? Kenapa aku merasa begitu senang berada di dekatnya. Rasanya ingin sekali aku memeluknya. Apakah karena kedua mata itu begitu mirip dengan milik Alana?
“Hah, kembali bekerja?!” pekik Gala membuat langkah Dave terhenti sejenak.
Gala menatap penampilan Dave dari atas sampai bawah, sejenak ia berpikir.
Paman ini bekerja di gedung yang tinggi. Aku ingin sekali ikut dengannya. Siapa tahu dengan masuk gedung tinggi, aku bisa bertemu dengan Papiku. Tapi, bagaimana caranya ya aku bisa ikut dengannya?
__ADS_1
Gala terdiam memutar otaknya agar bisa ikut dengan Dave.
“Gala, maaf banget ya Paman harus segera kembali soalnya—”
“Aduhh aku lapar sekali.” Gala tiba-tiba merintih membuat Dave kembali memutar tubuhnya, mengurungkan niatnya ke mobil di mana Zain sudah berada di dalamnya.
“Gala, apakah kau ingin makan se—”
Namun, belum sempat ia melanjutkan ucapannya. Gala sudah lebih dulu berlari masuk ke dalam mobilnya, karena kebetulan pintu mobil sudah dibuka oleh Zain. Dave terbelalak melihatnya, bagaimana anak itu bisa lebih berani masuk ke dalam mobil orang yang baru ia kenal, ini jelas berbahaya.
“Ayo Paman. Kau bilang ingin mengajakku makan.” Gala melambaikan tangannya.
Dave melangkah mendekat lalu berkata. “Oke. Tapi, setelah membeli makan. Paman antar kamu kembali ke makam ya? Kasihan nanti Nenek kamu kebingungan.”
“Iya Paman.”
💞
__ADS_1
💞
like, komentar, hadiahnya jangan lupa untuk keberanian Gala guys 🤗