Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Merindukanku?


__ADS_3

Meski merasa heran dengan tingkah istrinya. Dave pun membalas pelukan perempuan itu dengan cara mengusap punggungnya. Tahukah apa yang Alana rasakan? Ia bahagia lelaki itu membalas pelukannya.


Tuhan, aku tidak peduli bagaimana akhir dari pernikahan ini. aku hanya ingin menikmati setitik waktu bahagia bersama suamiku. Jika boleh meminta. Bisakah aku meminta kau hentikan waktu saat ini? Aku ingin terus memeluknya.


“Kau kenapa Alana?” tanya Dave pelan. Alana langsung tersadar dari tingkahnya. Perempuan itu segera mengurai dekapannya, menatap Dave dengan salah tingkah.


“Maaf Dave aku tadi–”


“Merindukanku?” tebak Dave membuat mulut Alana menganga, lalu memalingkan wajahnya karena bisa ia pastikan saat ini pipinya pasti bersemu. “Aku hanya bercanda, Alana."


Menarik nafasnya, Alana berusaha mengesampingkan perasaaan nya yang membuncah. Perempuan itu kembali menatap Dave lalu tersenyum.


“Ayo kita masuk. Aku punya hadiah untukmu,” ujar Dave kemudian seraya melepaskan jas miliknya, lalu mengendurkan dasinya.


“Hadiah?” tanya Alana.


Dave mengangguk menoleh ke arah pintu masuk, di mana Zain berjalan dengan membawa paper bag di tangannya. “Ini Tuan,” kata Zain menyerahkan paper bag itu pada Dave. Setelahnya, Zain pun pamit undur diri.

__ADS_1


“Ini untukmu.” Dave memberikan paper bag itu pada Alana. Kemudian, Dave mendudukkan dirinya di sofa panjang, di mana Alana juga duduk di sisinya.


”Apa ini isinya, Dave?”


“Bukalah. Kau pasti menyukainya, karena barang itu adalah edisi terbatas.”


Alana pun membuka paper bab itu, di dalamnya ternyata masih ada kotak lagi. Melirik ke arah Dave yang tampak mengangguk. Alana kembali meneruskan niatnya untuk membuka hadiah itu. Begitu terbuka, mulutnya terbuka mana kala melihat sebuah jam tangan mewah.


“Bagus sekali.” Tak Alana pungkiri sebagai seorang perempuan, ia pun merasa senang melihat barang-barang mewah itu.


Alana mengangguk antusias, menutup kotak itu kembali. “Tapi Dave. Seharusnya ini tidak perlu.”


”Aku hanya ingin membagi kebahagiaan denganmu, Alana. Karena berkat dirimu, kerja samaku dengan pak Risky berjalan dengan lancar. Bahkan proyeknya pun sudah berjalan sekitar 70 %. Apa yang ku berikan ini tidak seberapa Alana. Jadi, ku harap kau tidak menolak. Atau kalau kau menginginkan sesuatu yang lain, kau boleh mengatakannya padaku,” ujar Dave.


Alana menatap ke arah lelaki itu dengan senyum masam. Apalagi yang ia inginkan saat ini. Segala materi sudah Dave penuhi. Tapi, bukan itu hal yang sesungguhnya ia inginkan. Cinta? Hati? Itulah yang Alana inginkan. Bagaimana Alana menjelaskannya. Jika ia berbicara jujur, Dave pasti akan murka. Jadi, akan lebih baik ia cukup diam. Menikmati detik demi detiknya waktu akan berjalan.


“Tidak Dave. Ini sudah cukup, bahkan menurut ku terlalu berlebihan. Kau hampir setiap Minggu memberi ku hadiah. Kau tahu laci perhiasanku bahkan sudah tidak muat untuk menampungnya,” kata Alana sedikit tertawa geli.

__ADS_1


”Kalau begitu aku akan membelikan tempat yang baru untukmu besok. Agar kau bisa menampung perhiasan lagi besok.”


“Kau pikir aku mau buka toko perhiasan,” sergah Alana.


“Itu juga bukan ide yang buruk, Alana.” Dave tertawa kecil. Alana kembali menoleh ke arah lelaki itu. Tawanya sungguh berkharisma, sifat Dave sangat berwibawa. “Para wanita biasanya sangat suka perhiasan. Sebagian besar untuk koleksi, dan sebagian untuk investasi. Kau bisa memilih opsi salah satunya Alana,” sambungnya.


“Iya Dave. Kelak kalau hubungan kita sudah berakhir. Aku akan membawa perhiasan darimu. Anggap saja untuk modal hidup. Atau untuk melanjutkan pendidikanku.” Pikiran Alana sudah menerawang jauh kesana.


Dave terdiam menatap raut wajah perempuan itu, dengan pandangan tak terbaca.


“Kau tahu, Dave. Dulu aku sempat bercita-cita menjadi seorang desainer sebuah perhiasan, lalu aku bermimpi membangun sebuah perusahaan yang di bidang perhiasan. Aku juga ingin mendesain cincin perhiasan untuk pernikahan aku sendiri. Tapi, semua itu... Kandas. Karena keterbatasan ekonomi. Aku tak bisa melanjutkan pendidikanku. Hingga aku hanya bisa bisa kuliah sampai diploma. Aku harus menjadi tulang punggung keluarga. Ibuku begitu depresi setelah Ayahku meninggal.”


Dave masih tersenyum mendengarkan cerita Alana.


“Karena aku tak bisa melanjutkan pendidikan ku. Akhirnya, aku harus mengubur dalam-dalam cita-citaku itu. Kemudian emm...”


“Apalagi?” tampaknya Dave semakin tertarik dengan cerita Alana. Bahkan lelaki itu sampai menggeser tubuhnya mendekati Alana.

__ADS_1


__ADS_2