
"Cukup Dave, kau sangat keterlaluan menghinaku!" sergah Gizka marah. Sementara, Jonas menghela nafasnya berusaha mengatur emosinya.
"Kamu dengar tadi Dave. Tuan Seno bahkan mengancam akan mencabut investasi di perusahaan kita."
Dave tertawa kecil, seraya menarik kursi meminta Alana untuk duduk di sana. "Duduklah sayang. Kau pasti merasa pegal melihat drama perdebatan kami," ujar Dave lembut. Karena sejak tadi keduanya hanya berdiri.
"Dave?!" sentak Jonas kesal.
Dave menoleh ke arah Papanya.
"Mereka bukan keluarga yang suci yang harus didewakan, dan aku tidak berhutang apapun pada mereka. Kenapa harus mengikat hidup pada pernikahan bisnis?" sahut Dave seraya mengangkat bahunya tak peduli.
"Ada apa ini ribut-ribut?" seorang perempuan berambut putih, tiba menggunakan bantuan kursi roda yang didorong oleh seorang pelayan. Hal itu membuat perdebatan anak dan Papa itu terhenti.
"Grandma?" Dave berlari kecil menghampiri perempuan baya itu, ia menekuk kedua lututnya mensejajarkan posisinya dengannya.
"Kau semakin cantik?" puji Dave kemudian.
"Dasar cucuku yang nakal, kau tidak pernah pulang. Sekalinya pulang justru memancing keributan!" celetuk Ambar mencubit gemas pipi Dave.
"Oh ayolah, Grandma. Aku terlalu sibuk hingga tidak sempat pulang. Aku tidak sengaja memancing keributan, tapi putramu itu yang begitu kekeh memaksa aku menikah dengan perempuan hanya demi ikatan bisnis," curhat Dave kemudian seraya melirik ke arah Jonas. Di mana lelaki itu terlihat mendengus kesal.
"Benar begitu Jo?" tanya Ambar pada Jonas.
__ADS_1
"Ma, kamu kan tau pernikahan ini juga demi kebaikannya. Aku hanya ingin dia mendapatkan gadis yang tepat, jelas asal-usulnya," sanggah Jonas.
"Tuh kan grandma. Betapa kolotnya putramu itu, di jaman modern seperti ini masih menggunakan tata cara perjodohan, dengan alasan gadis yang tepat. Padahal semua ia lakukan demi keuntungannya. Apa kau tau Oma ini sama saja dia menjualku!" seloroh Dave semakin memanas.
"Ma... Kau tau apa yang membuatnya lebih memalukan. Dia datang dengan membawa perempuan yang tidak jelas, yang ia katakan sebagai istrinya? Apa ini dia menikah tanpa persetujuan keluarga kita." Jonas kembali marah. Tatapannya mengarah tajam ke arah Alana, yang masih duduk di kursinya.
"Sudahlah ini waktunya makan malam kenapa justru pada ribut. Kalau memang itu keinginan Dave, kenapa tidak kau iyakan saja. Jika kau memang menginginkan Natasha menjadi menantumu. Kenapa tidak kau tidak kau nikahkan saja dengan Edo?" pungkas Ambar. Membuat mulut Jonas terkatup rapat.
Sementara, Tisa dan Edo yang mendengar ucapan Ambar terkejut hingga kedua matanya membeliak. Tisa mengepalkan kedua tangannya, bagaimana mungkin perempuan tua itu menyarankan kekasihnya menikahi perempuan lain, sedangkan ia sudah menyerahkan seluruhnya pada Edo, termasuk kesuciannya.
Dave menyunggingkan senyum tipisnya. Kemudian beranjak menarik mendorong kursi Ambar, dan menempatkannya tepat di sisi Alana.
Kening Ambar mengerut ketika menoleh ke arah Alana.
"Dave ini?"
"Iya cantik, dan sopan lagi. Kenapa tidak mengundangku saat menikah Dave?" Protes Ambar.
Dave menghela nafasnya. "Maaf ya Oma. Gak kepikiran!" kilah Dave.
"Dasar cucu nakal!"
Edo mengepalkan kedua tangannya melihat pemandangan di depannya. Bahkan Ambar tak pernah bisa sedekat itu dengan dirinya. Baginya perempuan baya itu sangat pilih kasih.
__ADS_1
Suasana meja makan itu kembali hening, tidak ada yang berani bersuara. Karena Ambar tidak menyukai kebisingan saat makan. Alana memang yang memang sejak tadi sudah merasa lapar pun mencoba mulai makan. .
Steak daging sapi sudah terhidang di depannya. Perutnya yang sejak tadi sudah meronta-ronta ingin diisi mendadak merasa kenyang. Bukan karena makanannya tak mengunggah selera, tapi lantaran ia merasa kesusahan saat harus makan dengan memotong steak itu. Meski ia sudah belajar, tapi saat ini posisinya ia tengah gerogi. Alana menghela nafasnya, tidak adakah nasi dan SOP hangat saja, agar ia tidak perlu makan memotong-motong.
Dave menoleh ke arah Alana melihat makanan perempuan itu sama sekali belum tersentuh. Tanpa di duga ia mengambil alih piring perempuan itu, mengganti dengan miliknya yang sudah sudah di potong-potong.
"Makasih Dave?" ucap Alana.
Lelaki tampan bermata hitam kebiruan itu tersenyum tipis. "Apapun untukmu sayang!"
Glek!
Mendengarnya tiba-tiba membuat Alana merasa susah menelan makanannya. Sementara, Dave menyorot pandangan Edo pada istrinya terlihat tajam menyimpan kekesalan. Alana berusaha untuk tak peduli, meskipun ia sebenarnya menyadari tatapan Edo padanya. Lelaki itu pasti tengah mengumpat dirinya habis-habisan.
"Alana?" panggilnya membuat Alana menoleh.
"Ya, Dave?"
"Kau mau mencoba makanan lainnya?" tawar Dave.
"Emm aku-"
"Cobalah ini." Dave mengambil salah satu makanan khas Perancis berbahan dasar daging, kemudian mengacungkan garpunya pada Alana.
__ADS_1
"Ayo buka mulutmu. Aku akan menyuapimu?" Pinta Dave kemudian. Tanpa di sangka Alana menurut dan membuka mulutnya, menerima suapan dari Dave.
"Kampungan!" desis Gizka. Sementara Edo hanya terdiam dengan raut wajah kesal.