Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Wajahmu Memerah


__ADS_3

Selamat datang bulan Desember. Hari ini aku up lagi seperti biasanya ya 3 bab.


selamat membaca.


🦋🦋🦋


Alana hanya bergeming menatap tangan lelaki itu dengan bingung.


“Oh ayolah Nona. Aku bukan orang jahat. Namaku Nelson, kau ingat kejadian beberapa hari lalu saat kau tak sengaja menabrak mobil seseorang. Lalu kau memberi kartu namamu?” ujar Nelson mencoba memancing ingatan Alana. Hingga perempuan itu pun mengangguk. “Ya dan itulah mobilku,” sambungnya.


Alana terpekik kaget. “Astaga! Benarkah itu mobil anda? Saya sama tidak mengingatnya.”


“Aku paham, karena saat itu kamu terlihat terburu-buru,” sahut Nelson. Alana hanya tertawa canggung. “Jadi sudah bolehkah berkenalan?” sambungnya kembali mengulurkan tangannya.


Alana mengangguk menerima uluran tangan Nelson sebentar. Lelaki itu juga berniat mengambil hidangan yang tersaji. Keduanya beberapa kali terlibat obrolan yang ringan. “Dengan siapa kamu datang kemari Alana?” tanyanya.


Mendengar pertanyaannya, Alana seketika menoleh ke arah Dave yang tampak tengah mengobrol dengan Pak Risky, mereka berada tak jauh darinya. “Dengan suami,” jawabnya.


“Oh sudah menikah!” kata Nelson tersenyum masam. Jika diperhatikan lebih inci, ada gurat kecewa di wajahnya. “Ku pikir kamu masih sendiri,” sambungnya.


Alana hanya menanggapinya dengan tawa yang kecil. “Anda sendiri gimana Tuan Nelson?” tanyanya.


Lelaki itu menggeleng. “Sepertinya aku akan menjadi jomblo abadi. Karena sudah patah hati duluan,” jawabnya tergelak.

__ADS_1


“Maksudnya?"


“Lupakan soal itu Alana. Ngomong-ngomong di mana suamimu?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.


Alana menunjuk ke arah Dave. “Itu di sana.”


“Bukankah Pak Risky suaminya Ibu Citra?”


“Maksudku yang berada di sisinya,” terang Alana.


“Dave maksudnya?” tanya lelaki itu setengah tak percaya. Tak disangka Alana mengangguk. “Bagaimana bisa?” sambungnya lirih.


“Kau bicara apa Tuan?”


“Bagaimana dengan mobilnya, Tuan?”


“Akan ku hubungi kamu nanti.”


Setelah kepergian Nelson. Alana melanjutkan aktivitasnya, mengambil beberapa hidangan, lalu membawanya ke meja Dave, yang tengah mengobrol dengan Pak Risky. Tampaknya kedua orang itu tengah membicarakan proyeknya yang tengah berjalan. Alana pun menyapanya. Tak lama kemudian Pak Risky berpamitan ke tempat istrinya.


“Kau mencoba hidangannya semua Alana?” tanya Dave.


“Tidak Dave.” Alana mengulurkan sendoknya. “Ayo buka mulutmu. Aku akan menyuapimu. Makanan ini sangat enak Dave,” pintanya setengah mendesak.

__ADS_1


Dave menatap wajah Alana, tampak perempuan itu mengangguk. Dengan senyum tipis dan pelan, Dave memegang pergelangan tangan Alana. Menuntunnya menuju mulutnya.


Dan dalam diam, Alana menatap bagaimana makanan itu berhasil masuk ke mulut Dave. Lalu lelaki itu mengunyahnya. Melihat bagaimana bibir itu bergerak, ia justru meneguk ludahnya. Sesaat kemudian, Alana merutuki diri. Entah kenapa dirinya justru terngiang ciumannya bersama Dave. Bagaimana dirinya pernah merasakan bibir itu, saling mengecup, me lu mat, bahkan bertukar ludah. Lalu sejenak ia jadi membayangkan bagaimana jika saat itu kejadiannya lanjut menjadi tahap yang lebih seperti saling bertukar keringat misalnya.


Alana menyentak nafasnya berkali-kali, demi menghilangkan pikiran erotisnya. Bisa-bisanya ia berfikir ke arah sana, layaknya seorang perempuan yang haus belaian.


“Enak juga Alana.”


Ucapan Dave membuyarkan lamunan Alana. Ia tersenyum gugup, kemudian kembali mengulurkan makanan itu di depan bibir Dave. Lelaki itu pun sudah membuka mulutnya. Namun, tak disangka suapan Alana justru meleset ke arah pipi, hingga meninggalkan noda di sana.


“Maaf Dave, maaf. A–aku gak sengaja,” sesalnya gugup. Meletakkan sendoknya, mengambil tisu di atas meja. Ia langsung beranjak ke sisi Dave. Sedikit membungkuk, perempuan itu mulai membersihkan bibir suaminya.


“Alana, sudah. Aku tidak apa-apa, aku bisa membersihkannya sendiri,” ujar Dave mencoba menghentikan istrinya.


“Tidak Dave. Sudah kamu diam saja, biar aku saja yang membersihkan,” kekeh Alana.


Dave terdiam membiarkan istrinya melakukan apa maunya. Semula terasa biasa, namun saat pandangan lelaki itu turun, ia langsung memejamkan matanya, kala matanya tak sengaja melihat area belahan dada Alana, karena posisi Alana yang sedikit membungkuk membuatnya terasa jelas. Wajah Dave langsung memerah, tangannya mengepal seperti tengah menahan sesuatu dari tubuhnya.


“Dave kenapa wajahmu memerah? Kamu sakit?” tanya Alana setengah panik karena melihat wajah suaminya memerah, dan juga berkali-kali Dave memejamkan matanya.


“Tidak Alana. Aku hanya–”


Bruk!! Cup!!

__ADS_1


Tak disangka tubuh Alana tersenggol seseorang, hingga membuatnya jatuh ke pangkuan Dave, berikut dengan bibirnya yang menempel ke bibir Dave. Alana nampak terkejut. Menciptakan sebuah kecupan singkat. Sementara salah satu tangan Dave berada tepat di dadanya. Alana ingin beranjak, namun ia merasa tubuhnya tertahan mana kala Dave me Lum mat bibirnya, bahkan ia juga me re mas pelan da da istrinya di balik pakaiannya. Alana berusaha mati-matian untuk menggunakan otaknya. Namun, sialnya tubuhnya justru merespon sangat baik.


__ADS_2