Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Side Story – Amarah


__ADS_3

Bugh!!


“Berani sekali anda menggoda calon istri saya!” teriaknya melengking.


“Zain...” seru Silvi lirih. Ia terkejut tak menyangka jika Zain datang ke tempat seperti itu.


Kericuhan nampak terjadi, sontak kerumunan orang-orang itu langsung bubar, mereka bergidik ketakutan melihat Zain marah.


Tersenyum smirk, Zain kembali beranjak menarik lelaki itu hingga kembali berdiri, kemudian mendorongnya mepet ke tembok.


“Aaaw.... Sialan! Lepasin tanganku! Kamu tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa? Kamu bisa aku laporkan ke polisi!” ancam lelaki itu berusaha melepaskan cengkraman tangannya.


“Laporkan saja! Kamu pikir aku takut! Huh, tapi sebelum itu aku pastikan jari-jari tanganmu ini sudah lepas dari tempatnya!” tantang Zain lalu memelintir tangannya, membuat lelaki itu kembali merintih kesakitan.


“Zain jangan!” pinta Silvi kebingungan. Dia langsung meletakkan nampan yang ia bawa ke atas meja tak jauh darinya. Dan menghampiri Zain.


“Biarkan saja, Vi. Biar ku beri pelajaran pada lelaki hidung belang ini. Dia harus merasakan bagaimana rasanya jari-jari tangannya itu patah, agar ia bisa mengerti bagaimana cara menggunakan tangannya dengan baik!” seru Zain. Dia beralih menatap Silvi dengan kesal. Cengkraman tangan Zain semakin kuat, wajahnya terlihat semakin menyeramkan. Silvi menggelengkan kepalanya, ia takut jika Zain tetap melakukan sesuai ucapannya. Ingatkan Silvi tentang kekejaman Zain ketika memberikan pelajaran pada seorang sniper yang mencelakai Alana dalam insiden Surabaya, bagaimana seorang sniper itu benar-benar mengalami patah tulang akibat ulah Zain.


Dugh!

__ADS_1


Karena lelaki itu terus memberontak, Zain dengan cepat membenturkan kepalanya pada hidung lelaki itu hingga membuatnya mengeluarkan darah. “Aww sialan! Lepaskan!”


Silvi mendesis terlihat ngeri melihatnya, lantas ia mendekati Zain dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Zain. “Jangan begini Zain. Tolong lepaskan, aku lagi bekerja,” pinta Silvi.


Mendengar kalimat itu Zain semakin marah. “Ya Tuhan! Dia ini sejak tadi berusaha melecehkan kamu. Dan kamu masih membelanya!!” sahutnya seraya terus menguatkan cengkraman tangannya, hingga suara ringisan terdengar bersahutan dengan suara musik yang memekakkan telinga sejak tadi.


“Zain... Ku mohon...” pinta Silvi.


“Harusnya kamu itu marah, bukannya membela laki-laki ini sialan ini!” Zain semakin marah mendengar gadis pujaannya justru membela laki-laki lain.


“Tapi, ini udah konsekuensi pekerjaan aku Zain.” Silvi berucap dengan pelan nyaris tak terdengar oleh Zain. Ia memandang Zain dengan tatapan yang tak berbaca. “Bukankah aku memang murahan, seperti yang pernah kamu bilang? Tolong lepaskan dan pergilah,” sambungnya dengan tatapan sendu.


Zain terkejut mendengarnya kalimat Silvi selanjutnya. Dia menyesal telah menuduh gadis itu yang tidak-tidak. “Aku sudah mengatakan permintaan maaf ku atas ucapanku tempo hari, Silvi. Mengapa tidak juga kamu paham!” seru Zain dengan nada tinggi. Ia marah melihat Silvi terus membela laki-laki itu, hingga membuatnya nyaris kehilangan kendali. “Biarkan saja semua orang yang di sini melihat, bagaimana caranya aku mematahkan jari-jari lelaki ini!”


Keterkejutan tampak mewarnai wajah Silvi. Ia semakin panik, ia tahu Zain tidak akan pernah main-main dengan ucapannya. “Zain, ku mohon. Jangan lakukan itu, sudah cukup kamu membuatnya terluka. Sudah!” pintanya.


Zain menoleh ke arah gadis itu, di mana ia melihat gadis itu hampir menangis. “Oke. Aku akan melepaskan dia. Tapi, kamu harus ikut aku!” tawarnya.


Silvi terdiam mencoba berpikir sejenak, namun belum sempat ia memberikan jawaban terdengar suara ringisan. Di mana ia melihat Zain semakin kuat menekan ujung jempolnya pada urat nadi lelaki itu.

__ADS_1


“Oke. Oke.. aku akan ikut kamu Zain!” tanpa berpikir dua kali Silvi menyetujuinya ucapan Zain. Saat ini yang ada dalam otaknya hanyalah menghentikan kericuhan yang terjadi.


Mendengar hal itu Zain tersenyum menyentak tangan lelaki itu dengan kasar. “Kali ini nyawamu aman. Tapi lain kali jika aku melihat kau melakukan hal seperti tadi. Aku ku pastikan kau hanya akan pulang tinggal nama,” kata Zain seraya mengambil sesuatu dari sakunya. Lalu menempelkan di kening lelaki itu. “Untuk membeli obat merah!”


Setelahnya dengan cepat ia menarik tangan Silvi membawanya keluar dari kerumunan itu. Melewati sebuah lorong yang berada dalam club' malam itu.


“Lepas Zain, sakit!” sergah Silvi ketika merasa genggaman tangan Zain semakin kuat.


Mendengar hal itu, Zain menyentak tangan gadis itu, kemudian menyudutkan gadis itu ke tembok. “Kenapa?” tanya Zain dengan nada dongkol. Ini bukanlah suatu pertemuan yang ia inginkan.


Silvi memalingkan wajahnya dari hadapan Zain.


“Tatap mataku, Vi!” pintanya.


💞


💞


Kalau Zain emang beda ya dari Dave. Dia mudah emosi dan marah. Eh wajar dong marah kan dia cemburu. hihihihi

__ADS_1


Jangan lupa like, komentar, dan hadiahnya.


__ADS_2