
“Apa yang kau pikirkan Zain?” dengus Dave menatap Zain kesal. Lelaki itu meraih iPad nya kembali.
“Itu tadi–”
“Kau menganggap ucapan Alana itu serius?” potong Dave cepat. Dan tanpa di sangka Zain justru mengangguk.
“Kau bahkan membaca poin perjanjian pernikahan kami. Bagaimana bisa kau berfikir seperti itu.” Dave kembali fokus pada iPadnya.
“Menurut saya tidak ada yang salah jika anda pun melanggar isi perjanjian surat itu Tuan. Apapun yang mendasari latar belakang pernikahan itu terjadi. Anda dan Nona Alana tetaplah sepasang suami istri yang sah. Kalian bebas melakukan apapun,” kata Zain yang berhasil membuat Dave menyergah kesal. Apa-apaan bisa-bisanya asistennya berfikir ke arah sana. Bukankah pernikahan kontrak itu terjadi atas saran dirinya.
“Maaf Tuan. Saya tidak bermaksud....”
“Telponkan Salma. Tanyakan keadaan Alana. Bagaimanapun dia terluka karena diriku,” titah Dave sedikit cemas.
“Baik Tuan.” Zain menyalakan handsfree menghubungi Risma. Dave hanya diam membiarkan asisten.
“Oke terimakasih." Zain menutup sambungan telponnya.
“Apak katanya Zain?” tanya Dave penasaran.
“Nona Alana sudah berangkat kerja.”
“Apa?!" Pekik Dave sedikit terkejut ia menggelengkan kepalanya, ketika merasakan sifat Alana yang keras kepala. Padahal jauh hari Dave sudah meminta perempuan itu berhenti kerja saja. Tapi, Alana kekeh masih ingin bekerja.
“Tuan, saya juga kurang mengerti kenapa Tuan Seno tampak begitu pasrah ketika anda membatalkan rencana perjodohan itu?” tanya Zain lagi.
Dave menyeringai. “Tentu saja. Karena aku memegang kartu truf dia. Jika dia berani macam-macam, aku bisa saja menghancurkan namanya dalam satu detik.”
__ADS_1
****
Kesibukan bagi seorang sales marketing itu begitu sangat memadai ketika di penghujung bulan seperti ini. Untuk itu meski bahunya terasa sakit, Alana tetap memaksakan diri untuk tetap datang.
Rapat berlangsung tidak lama. Tepat di jam makan siang, mereka meninggalkan rapat dengan perut keroncongan. Alana melesat dengan cepat pergi ke bank. Di pintu loby ia hampir saja bertabrakan dengan seseorang jika ia tidak sigap berhenti.
“Alana?”
Suara bariton membuatnya mendongak dan tersenyum gugup. “Siang Tuan, silakan,” ucapnya, menyilakan Dave untuk masuk ke loby.
Namun, Dave bergeming, mereka berdiri saling berdekatan. Dari tempatnya Alana bahkan bisa mencium aroma parfum dari atasannya itu. Wangi yang samar-samar, tapi menurutnya itu menggairahkan. Perempuan itu menggelengkan kepalanya, demi mengusir pikiran erotis tentang parfum. Mendadak ia kembali mengingat aksi ciuman mereka dan tanpa sadar ia mengetuk-ngetuk kepalanya.
“Kenapa? Kamu sakit kepala Alana?” tanya Dave.
Alana meringis dan menjawab. “Tidak Tuan. Hanya kaget saja karena mau nabrak.”
“Emm, baik Tuan.”
“Seharusnya kau tidak perlu ke kantor Alana.”
“Saya baik-baik saja Tuan,” pungkas Alana yakin.
“Ayo, ku antar ke rumah sakit?"
Tawaran dari Dave semakin membuat Alana salah tingkah tak karuan. Dan segera ia membungkuk kecil dan berkata, “Tidak perlu ke rumah sakit segala Tuan. Maaf, saya buru-buru mau ke bank. Bye Tuan.”
Tanpa sadar, Alana menyingkirkan tubuh Dave dan melangkah menuju parkiran. Dave masih setia menatap punggung Alana yang perlahan menghilang.
__ADS_1
Alana menarik nafas dalam-dalam, demi menghilangkan kegugupannya. Saat ini, Alana masih ingin berada jauh-jauh dari lelaki itu. Ia masih malu mengingat tingkahnya tadi pagi itu. Kata-katanya seolah-olah itu bukan dirinya banget. Entah dari mana Alana bisa mendapatkan ide seperti itu. Sungguh jika diingat Alana merasa sangat malu.
“Wangi dan maskulin ehm....” Pikiran Alana terus melingkupi aroma parfum Dave sepanjang jalan. Hingga membuatnya tergugah kembali ingat drama tadi pagi. Alana kembali meringis malu.
****
Usai dari bank Alana kembali masuk ke kantor. Ia langsung disambut heboh dengan Risa. Bahkan perempuan itu tak segan memeluk Alana.
“Aww sakit jangan di pegang?” keluh Alana ketika rekan kerjanya itu hendak memeluknya.
“Kenapa, kau sakit? Jatuh? Atau salah bantal?” cecar Risa mengikuti gerakan Alana duduk.
“Ceritanya panjang. Pokoknya ini sakit gak boleh di sentuh."
“Coba ku lihat Al!” Risa segera melihat bahu Alana. Sedikit terkejut kala melihatnya memar.
“Ini kamu habis dipukul orang atau bagaimana Al?”
“Iya pakai vas bunga sama orang.”
“Alasannya?”
“Dia mengira aku telah merebut kekasihnya,” ujar Alana.
“Wahh gila. Kalau aku jadi kamu labrak balik Al. Itu namanya fitnah."
“Sudahlah buat apa diperpanjang,” ujar Alana santai. “Ayo katanya mau makan siang. Aku traktir kamu deh,” sambungnya.
__ADS_1
“Wah tanggal-tanggal segini biasnya kita itu seret loh Al. Nasi Padang aja deh yuk. Sebrang jalan.” Risa menggandeng Alana kembali ke luar menuju rumah makan Padang.