
Malam hari pukul sepuluh malam, harusnya Alana sudah terlelap. Namun, ia justru masih menikmati gemerlap bintang di langit serta hawa dinginnya angin yang bertiup kencang. Ia yang saat itu tengah berada di gazebo taman samping rumah Dave, sesekali akan mengusap lengannya ketika merasakan hawa dingin itu merasuk ke tulangnya. Saat tidak bisa memejamkan kedua matanya seperti ini, membuatnya teringat Silvi, biasanya saat di rumah lamanya dulu ia akan menunggu temannya itu pulang kerja dari bar. Tiba-tiba ia jadi kangen pada gadis itu, Alana pikir besok pulang kerja ia akan menemuinya.
Tiba-tiba ia tersentak saat merasakan seseorang membalutkan tubuhnya dengan jaket, hingga membuat kulitnya terasa menghangat.
“Dave?” serunya ketika menoleh ke samping, mendapati lelaki itu yang membalutkan jaket di tubuhnya.
“Udaranya sangat dingin,” sahut Dave. Lelaki berkaos putih itu duduk di sisi Alana.
“Terimakasih, jaketnya.”
Dave mengangguk. “Waktu semakin beranjak malam. Kenapa kau justru berada di sini? Tak kunjung istirahat Alana.”
“Hanya menikmati gemerlapnya bintang. Aku tidak bisa tidur.”
“Kenapa?" Dave juga memberikan segelas teh hangat yang ia bawa pada Alana.
“Untukku,” ujar Alana pada dirinya sendiri.
“Hemm..”
__ADS_1
Alana menerima segelas teh hangat dari Dave, kemudian menyeruputnya dengan pelan.
“Apakah sudah lebih baik?” tanya Dave.
“Lumayan,” jawab Alana singkat. Dave tersenyum tipis, sebuah senyum yang mampu memikat siapapun yang melihatnya. Alana buru-buru memalingkan wajahnya. “Tiba-tiba aku merindukan ibuku,” sambungnya mengalihkan pikirannya dari senyum manis lelaki di sisinya.
“Kau bisa menjenguknya Alana. Dan kau bisa menanyakan pada Dokter, bagaimana perkembangannya,” jelas Dave.
“Hemm... Akan ku lakukan besok.” Alana kembali menatap ke arah langit. Dave menatap ke arah perempuan itu, lalu memangku tangannya.
“Aku baru tahu kau adalah pemilik dari perusahaan ku tempat bekerja selama ini,” ujar Alana kemudian.
Alana menoleh ke arah lelaki itu. “Wah kau tau banyak tentangku?”
Dave tertawa kecil. “Hanya sedikit. Aku kerap tak sengaja melihat kau jalan dengan Edo dulu, saat kalian mungkin masih menjalin sepasang kekasih. Kemudian aku juga pernah melihat dan bertemu denganmu di depan loby apartemen Edo, saat itu itu kau menangis. Hari itu hujan begitu deras, bertepatan saat itu juga aku mengetahui jika Edo ternyata memiliki perempuan lain, kau di khianati benar. Kau tentu ingat Alana lelaki yang pernah kau tabrak tak sengaja saat di depan loby itu.”
Alana mengangguk, samar-samar mengingatnya, karena saat itu hatinya dalam keadaan remuk redam, mana mungkin pikirannya bisa terpusat pada Dave.
“Kedua? Pertemuan ke dua sama, kau menabrakku di depan loby Santania Grup. Kau tampak buru-buru mengejar temanmu ke cafe depan. Dari situ aku mengetahui kau bekerja di sana. Aku meminta Zain untuk mencari tahu tentang dirimu. Mengetahui apa yang sedang kau alami, bukankah akan sangat bagus jika kita saling bekerja sama untuk hal yang saling menguntungkan, begitu pikirku. Sebenarnya, aku sering berkunjung ke kantor cabang Alana, hanya saja untuk beberapa saat. ”
__ADS_1
Alana mengangguk. “Kau tahu banyak tentangku. Tapi, aku tidak tahu apa-apa. Bahkan perusahaanmu saja aku baru tahu tadi siang.”
“Kau tidak pernah bertanya padaku Alana. Padahal aku mengijinkan apapun yang ingin kau ketahui tentangku? Bukankah kita bisa jadi teman?”
“Teman?” perempuan cantik itu menoleh menatap Dave dengan heran. Adakah istilah teman dari seorang manusia yang berbeda jenis kelamin. Rasanya Alana kurang percaya, mengingat kejadian yang ia alami, di mana Edo yang semula menganggap Tisa adalah teman, ternyata justru menjadikannya selingkuhan.
“Iya teman.”
“Apa pandanganmu soal cinta Dave?” tanya Alana.
Dave tertawa, kenapa perempuan itu justru membahas masalah cinta. Padahal ia mengira Alana akan bertanya hal pribadinya.
“Cinta adalah kesetiaan, kalau dia sudah tidak setia berarti itu bukan cinta. Cinta itu mengerti Alana, bukan menuntut.”
Alana mengangguk, wajahnya berubah sendu. Mengingat kisah cintanya yang berakhir pengkhianatan.
“Kau pernah jatuh cinta?” tanya Alana lagi, ia mengangkat wajahnya menatap ke arah langit.
“Tentu saja, aku manusia normal Alana. Dan kau mengetahui tentang poin perjanjian kita, di situ tertulis dengan jelas kan Alana, siapa gerangan perempuan yang aku tunggu. Kami akan akan bersama setelah dia kembali.”
__ADS_1