Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Karena Aku Mencintaimu


__ADS_3

Alana merasa terkejut mendengar ucapan Dave.


“Istri?” ulangnya tak percaya.


Dave mengangguk, menatap manik mata Alana dengan serius. “Kau tahu kalau aku–”


Alana menggeleng merasa tak yakin. Bagaimana Dave bisa katakan hanya Alana seorang, sedangkan jelas-jelas pernikahan mereka sebelumnya hanya sebatas kontrak. Bahkan Dave menerangkan jika tidak boleh ada cinta di antara keduanya. “Ku rasa kamu bercanda, Dave. Bukankah pernikahan kita sudah berakhir? Kita juga sudah bercerai kan?”


Dave menghela nafasnya, ternyata meraup kepercayaan dan membuat Alana yakin padanya itu begitu susah. Ia memegang kedua tangan Alana, dirinya masih dalam posisi yang sama, berjongkok di depan perempuan itu. “Tidak ada yang berakhir Alana. Kita masih suami istri, tidak ada perceraian entah itu dulu, ataupun nanti.”


“Kenapa? Tapi, waktu itu aku sudah meninggalkan berkas.”


”Sudah aku bakar berkasnya,” sergah Dave kesal.


Alana melotot. “Kau membakarnya? Kenapa? Apa karena aku mengingkari janjiku, karena pergi darimu secara diam-diam.”


Dave mengangguk. “Hem..”


“Dave kau kan tahu jika...”

__ADS_1


“Jika kamu mencintaiku. Lalu menganggap, jika pernikahan kita akan berakhir begitu saja. Dan kau pikir setelah malam itu terjadi, aku akan menjadi seorang pecundang yang hanya menggunakan tubuh perempuan untuk menjadi pemuas hasratku, Alana!”


“Jadi, hanya karena malam itu saja kau membatalkan perceraian? Mengapa tidak kau lupakan saja. Anggap saja saat itu aku hanya seorang ja... Emmmhhh...” Alana melototkan kedua matanya saat tiba-tiba mulutnya dibungkam oleh ciuman Dave, membuatnya tak lagi bisa meneruskan ucapannya. Ia memukul pelan dada lelaki itu, meminta untuk dilepaskan. Oh ayolah, mereka itu tengah berada di tempat umum. Mengapa Dave tak dapat menjaga sikap. Mencium dirinya di sembarang tempat.


Merasa Alana hampir kehabisan nafas, Dave pun melepaskan ciumannya, hingga ia dapat melihat pipi perempuan itu merona. ”Kenapa kau begitu cerewet?"


“Dan kau juga kenapa suka menciumku tiba-tiba. Kau tahu ini di mana bukan, di tempat umum. Memalukan sekali,” dengus Alana.


Cup!


Dave kembali mengecup bibir istrinya, kembali membuat Alana melotot. “Tentu saja karena aku mencintaimu.”


Alana menatap wajah lelaki itu, ”Apa yang kamu dengar tadi itu serius. Aku tidak bercanda. Aku mencintaimu, tidak peduli bagaimana awal mulanya kita bertemu dan menikah.”


“Dave?”


“Tenanglah. Aku tidak akan mendesakmu untuk buru-buru kembali padaku. Aku akan menunggu, sampai kamu benar-benar mau kembali. Berapa lamanya itu, aku tidak peduli,” kata Dave serius. “Karena aku tahu, kesalahanku terlalu banyak padamu. Maafkan aku karena telah banyak melukaimu selama ini,” sambungnya.


Alana menatap wajah Dave. Mencoba mencari kebohongan dari tatapan matanya, namun tak juga ia temukan. “Lalu di mana Jessica?”

__ADS_1


“Mana ku tahu!” sungut Dave kesal sedang serius-seriusnya Alana justru bertanya tentang perempuan lain. “Kau ini selalu saja pandai mengalihkan pembicaraan. Aku pikir ini salah satu keahlianmu setelah menghilang selama lima tahun.”


Alana berdecak kesal. Membereskan bukunya. “Aku hanya bertanya saja, dan tanggapanmu seperti itu," ketusnya seraya beranjak berdiri. “Sudahlah aku mau pulang. Dan aku tidak percaya dengan perkataanmu itu.”


Alana langsung berlalu pergi. Dave buru-buru menyambar kotak box burger di atas meja, lalu menyusul langkah kaki Alana.


Tiba di dekatnya, Dave langsung menarik tangan istrinya. “Ayo aku antar. Zain sudah menunggu di depan.”


“Dave aku bisa pulang sendiri,” tolak Alana mencoba melepaskan tangannya. Namun, Dave justru menggenggam tangannya dengan kuat.


Sampai di luar, ia langsung menarik tangan Alana membawanya masuk ke dalam mobil, lalu menutup pintunya.


“Dave, aku ingin keluar. Ayo buka pintunya!” teriak Alana.


“Jalan Zain!” titah Dave pada Zain.


“Dave aku bilang aku bisa–”


“Buka saja jendelanya kalau kau bisa, terus kau lompat ke luar!” sergah Dave kesal. Ia tidak menyangka sifat asli istrinya itu kini keras kepala. Susah sekali meyakinkannya.

__ADS_1


Alana langsung cemberut, menyandarkan kepalanya di jendela.


__ADS_2