
Keesokan harinya pada pukul tiga sore hari, Alana dan keluarga baru tiba di Jakarta. Setelah sebelumnya ia meminta Silvi untuk mencarikan tempat tinggal, dan juga menjemput dirinya di Bandara.
Kini taksi yang dikemudikan sopir melaju membelah jalanan ibu kota yang sore itu cukup padat. Gala bertepuk riang mana kala memandang ke arah luar, di mana gedung-gedung tinggi saling berjejeran di pinggir jalan. Anak itu memandangnya penuh takjub.
“Mami, apakah Papi bekerja di gedung yang tinggi seperti itu?” tanya Gala menunjuk salah gedung tinggi.
“Iya sayang.”
Ada rasa sedih setiap kali menatap bola mata Gala mana kala bocah itu kerap sekali meminta diceritakan sosok Papi kandungnya. Alana memang mengatakan jika sang Papi terlalu sibuk, hingga belum bisa menemui mereka.
“Kapan kita bisa bertemu Papi, Mam?” tanyanya lagi.
Sesak yang Alana rasakan setiap kali putranya menanyakan hal demikian. “Kapan-kapan, kalau Papi udah gak sibuk ya.”
Alana memalingkan wajahnya tersenyum getir. Bahkan ia sendiri tidak tahu apa Dave masih mengingatnya. Apalagi jika mereka bertemu dan tiba-tiba Alana mengatakan jika ia datang bersama putranya. Bagaimana pun keduanya kini sudah menjadi orang asing, pikir Alana. Akan lebih baik memang tidak usah bertemu.
“Kalau gitu Gala ingin cepat besar, terus cari uang yang banyak.”
“Hemm ya. Untuk apa?” tanya Ibu Ratmi menimpali.
“Tentu saja untuk membeli waktu Papi. Agar bisa bersama ku dan Mami sehari aja.”
Jleb!
Perkataan Gala bagai sembilah pisau yang menancap di ulu hatinya. Sebegitukah, Gala mendambakan Dave. Alana mengedipkan kedua matanya berulang kali. Menahan air matanya untuk tak tumpah saat itu juga.
__ADS_1
“Mami ngantuk sekali, sayang. Apakah Gala tidak ngantuk?” keluh Alana mengalihkan pembicaraan.
Gala menggeleng dengan pelan, tangannya asyik memainkan kedua mainan Ultraman di tangannya. Alana mulai berpura-pura memejamkan kedua matanya, demi menghindari pertanyaan sang putra. Silvi dan Ibu Ratmi hanya saling bertatapan dengan pandangan prihatin.
💞💞💞
Satu Minggu setelah berada di Jakarta. Kini Alana mulai berpikir untuk bekerja. Untuk membiayai sekolah Gala juga kehidupannya.
Kini, Alana memandang takjub gedung tinggi dengan nama AJ Silver Gold. Ia tersenyum mana kala merasa nama perusahaan itu begitu cantik. Jelas cantik mengingat perusahaan itu bergerak di bidang perhiasan. Dari info yang ia dapat perusahaan itu tengah membuka lowongan pekerjaan. Untuk itu Alana berniat melamar kerja di sana. Selain karena memang ia membutuhkan uang, ia juga menyukai bekerja dibidang itu.
Tampak, berjejer orang-orang tengah mengantri interview. Seorang security menatap dirinya dengan pandangan heran, kemudian Alana pun bertanya perihal maksud kedatangannya. Alana digiring kebagian resepsionis.
“Selamat siang, Nona. Ada yang bisa kami bantu?” sambut seorang perempuan dengan nama tage Sena.
“Saya bermaksud untuk melamar pekerjaan di sini. Apakah benar di sini tengah membuka lowongan?” tanya Alana.
“Tentu.” Alana mengulurkan CV pekerjaannya. Sena menerimanya, tangannya langsung bergerak membuka map itu dengan lincah. Ia mulai memeriksa, dan membacanya. Sementara Alana sibuk mengamati orang-orang yang keluar masuk interview. Alana jadi berpikir setelah ini dirinya pasti akan melakukan hal yang sama.
“Nona saya rasa persyaratan anda sudah lengkap, dan langsung diterima di perusahaan ini,” ucap Sena membuat Alana terkejut.
“Tapi, bagaimana bisa? Bukankah seharusnya saya di interview lebih dulu.”
Sena tampak gelagapan mendengarnya. Namun, sebisa mungkin ia bersikap biasa. “Karena saya membaca pengalaman kerja anda. Perusahaan ini memang tengah membutuhkan orang-orang seperti anda.”
“Tapi, bukankah Anda belum membaca CV saya secara menyeluruh?" tanya Alana heran.
__ADS_1
“Nona sudahlah apa yang saya jelaskan ini terdengar masuk akal kok. Perusahaan ini memang tengah membutuhkan orang yang berpengalaman. Sementara mereka yang diinterview itu belum memiliki pengalaman, kebanyakan mereka lulusan baru dari kampus,” jelas Sena ia menutup CV Alana. Kemudian menarik sebuah berkas dari laci, meletakkannya di atas meja.
“Sekarang yang harus anda lakukan adalah tanda tangani berkas ini?” tunjuk Sena pada kertas bermaterai.
“Apa ini?” tanyanya.
“Hanya sebuah kontrak pekerjaan. Perusahaan kami memang melakukan hal ini pada setiap karyawan agar mereka bisa bertanggung jawab dengan pekerjaannya.”
Meski merasa masih bingung. Namun, tak urung Alana mengambil bolpoin dan menandatanganinya.
“Selamat bergabung, Nona Alana. Semoga betah di sini. Dan besok anda sudah mulai masuk kerja.”
“Terima kasih.” Alana pun berpamitan untuk pergi.
“Aku ngerasa aneh. Tapi, emm.. sudahlah yang penting aku kerja dapat uang.” Alana mengenyahkan pikiran negatifnya.
Sementara Sena menekan dadanya. Tangannya terasa dingin. “Ya Tuhan. Jantungku hampir mau copot rasanya. Karena Nona Alana terlihat curiga. Beruntunglah aku bisa pandai berkilah.”
💞
💞
💞
Yang punya Facebook berteman sama aku yuk🤭🤭
__ADS_1