
“Kam—”
Alana mengerutkan keningnya, melihat amarah Ibunya yang langsung lenyap, ketika sampai di depan pintu.
“Selamat malam, Bu. Saya Dave, suaminya Alana dan ini asisten saya, Zain.” Dave memperkenalkan dirinya dan juga menunjuk ke arah asistennya. Zain langsung membungkuk sebagai tanda hormat.
Namun, Ibu Ratmi hanya bergeming menatap ke arah keduanya.
“Bu....” Tegur Alana menepuk pundak Ibunya.
Perempuan itu terlonjak hingga menoleh ke arah putrinya. “Ada apa, Bu?” sambung Alana.
Dave juga mengerutkan keningnya, menatap ke arah perempuan keduanya dengan tatapan bingung.
“Dia suamimu, Alana?” tanya Ibu Ratmi seolah tak percaya.
Alana mengangguk. “Iya, Bu. Dia suami dan Papinya Gala. Kenapa, Bu?”
Bu Ratmi kembali menoleh ke arah Dave, seolah tengah memastikan sesuatu. Hingga tak sadar langkah kakinya membawa mendekat, tangannya bergerak ingin menjangkau wajah Dave.
“Nenek....” Panggilan Gala mengurangkan niatnya. Ia langsung menarik tangannya kembali. “Ajaklah suamimu masuk, Alana. Kepala Ibu tiba-tiba pusing.” Ibu Ratmi berlalu begitu saja dari depan pintu.
Alana menggaruk tengkuknya yang tak gatal, wajahnya nampak bingung. Ia tidak mengerti dengan situasi ini.
“Sayang?” tegur Dave pada istrinya. Gala sudah membuka matanya.
“Oh iya. Ayo masuk Dave, Zain.”
__ADS_1
Kedua lelaki itu masuk. Zain meletakkan barang bawaannya di ruang tamu. “Nona, saya langsung permisi saja,” ucap Zain berlalu pergi.
Alana mendudukkan dirinya di kursi, otaknya masih mencoba memikirkan situasi yang terjadi. Mengapa Ibunya tiba-tiba bisa berubah saat melihat wajah suaminya, padahal tadi kemarahannya menggebu-gebu. Dan diam-diam ia melirik ke arah pintu kamar Ibunya yang tertutup rapat.
“Perlukah, aku memanggil Dokter untuk Ibumu, Alana?" tanya Dave.
“Tidak perlu, Dave. Mungkin Ibu hanya pusing biasa.”
“Mami memang nenek sakit apa?” timpal Gala.
”Meriang,” celetuk Alana asal.
“Itu mah Mamimu. Merindukan kasih sayang,” cibir Dave seraya mengendurkan dasinya mana kala tubuhnya terasa panas, ia juga melepaskan jasnya. Dave juga melepaskan dua kancing kemejanya bagian atas dan menggulung lengan kemejanya.
“Kamu ngapain, Dave?” tanya Alana melotot melihat suaminya justru membuka kancing kemejanya.
“Ada, tapi masih di toko,” celetuk Alana asal, ia beranjak sambil menggandeng Gala. “Ayo sayang, Mami mandiin kamu dulu,” ajaknya.
💞💞
Sudah dua jam Dave duduk di ruang tamu. Ia benar-benar merasa gerah dan kepanasan. Ia berjalan mencari istrinya, dan ternyata Alana tengah menggantikan pakaian Gala. “Sayang, di mana kamar mandinya? Aku mau mandi?” tanyanya ketika sampai kamar putranya yang berukuran kecil.
“Dave kamu gak pulang aja?” ujar Alana karena ia tahu dan bisa melihat suaminya kurang nyaman berada di sana.
“Ngusir ni!”
Alana menghela nafasnya, sambil membuka lemari mencari handuk bersih. “Bukan begitu, Dave. Hanya saja kamu terlihat tidak nyaman di sini. Aku kasihan.”
__ADS_1
Gala berlari keluar dari kamarnya.
“Dulu ninggal aku selama lima tahun juga gak kasihan,” cibir Dave.
“Itu kan karena kesalahanmu sendiri. Udah punya istri dianggurin, malah mepet-mepet perempuan lain,” tukas Alana tak mau kalah. Tangannya masih bergerak mencari handuk yang tak kunjung ia temukan.
Dave meringis malu mendengarnya. Iya sih kalau dipikir dia memang paling bersalah. Ia beranjak mendekati Alana, memeluknya dari arah belakang. Membuat Alana yang baru menemukan handuknya terlonjak.
“Dave?” desis Alana terkejut saat sepasang tangan kekar suaminya kini memeluk pinggangnya. “Katanya mau mandi,” sambung Alana gugup.
Dave menyibakkan rambut istrinya, lalu mengecup tengkuknya. Hal itu membuat Alana gugup, nafasnya terasa tercekat. “Dave tolonglah...” rengek Alana.
“Katanya gak boleh dianggurin,” seru Dave memutar ucapan istrinya tadi.
“Itu maksudnya dulu, Dave,” tukas Alana berusaha melepaskan kedua tangan suaminya yang melingkar di perutnya.
“Dave... Aahh! Kamu tuh ahh..” Alana terengah mana kala merasakan telinganya digigit secara sen su al oleh suaminya, dan tak lupa tangan lelaki itu yang sudah masuk ke dalam baju Alana, mengusap perut dan pinggangnya. “Sayang, pinggangmu masih ramping.”
Wajah Alana langsung merona, mana kala merasakan sentuhan suaminya semakin intens. “Sayang, apakah kamar ini kedap suara?” tanya Dave dengan suara parau.
“Tentu saja tidak. Makanya jangan aneh-aneh. Kamar Ibu berada di sebelah,” tukas Alana melepaskan kedua tangan suaminya.
Dave mendengus kecewa. “Aku harus menahannya lagi," dumelnya. Mengambil alih handuk di tangan istrinya.
“Kamar mandinya kecil. Kamu tidak pulang aja untuk mandi, Dave?"
“Aku akan pulang kalau berhasil bawa kamu dan Gala,” kata Dave.
__ADS_1