
Alana menoleh ke arah Dave, yang kini tampak menyimak ceritanya.
“Kemudian aku bertemu Edo saat kuliah kan ya. Saat itu aku merasa menjadi perempuan yang beruntung. Aku mengubah cita-citaku. Aku hanya ingin membangun dan memiliki sebuah keluarga kecil yang harmonis. Menikah dengan lelaki yang aku cintai dan mencintaiku. Tapi, sekali lagi. Semua itu juga kandas... Aku pikir aku memang tidak beruntung dalam hal apapun.” Alana menunduk sedih. Bukan karena ia masih mencintai Edo, hanya saja ia merasa sedih lantaran nasibnya yang teramat menyedihkan.
“Hei, kenapa harus sesedih itu?” ujar Dave mengangkat dagu Alana, kemudian menghapus sudut mata perempuan itu yang basah.
“Ini bukan tentang aku masih mencintai Edo, Dave. Hanya saja aku–”
“Aku mengerti Alana. Aku mengerti.” Tanpa disangka Dave menarik tubuh Alana ke dalam dekapannya. “Kau boleh memelukku, Alana. Kalau kau butuh sandaran,” sambungnya.
Alana mengangguk lemah, merasa sedikit tenang dalam dekapan lelaki itu. Setelah di rasa sudah tenang, Dave mengurai dekapannya, menatap Alana dengan senyum kecilnya, kemudian ia berkata. “Kau tahu Alana. Tidak akan ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak. Kelak kau pasti akan mendapatkan apa yang kau inginkan. Saat ini mungkin belum... Percayalah suatu hari nanti, itu semua pasti akan kau dapatkan.”
“Benarkah?”
“Hemm....”
“Kenapa kau begitu yakin, Dave?” tanya Alana.
“Entahlah. Aku hanya mencoba melihat dari sorot matamu.”
Alana berdecak sedikit sebal tapi juga merasa lucu. “Lama-lama kau sudah seperti cenayang, Dave.”
Dave hanya tergelak kecil. Seraya beranjak dari tempat duduknya. “Aku lelah sekali Alana. Aku akan kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Kita makan malam bareng nanti Alana.”
“Dave, tunggu sebentar.” Alana mencegah lelaki itu sambil memegang pergelangan tangannya. Membuat lelaki itu kembali menoleh, mengurungkan niatnya.
“Ada apa, Alana?” tanya Dave.
__ADS_1
“Iku denganku, sebentar saja.” Tanpa banyak waktu, Alana segera menggiring Dave menuju meja makan. Dengan satu tangannya menggenggam tangan Dave, dan satunya memegang hadiah dari lelaki itu.
Dava hanya menurut kala perempuan itu memintanya untuk duduk di kursi. “Alana aku–”
“Dave, cobalah satu biji saja. Aku sengaja membuatkan kue nastar ini untukmu,” pinta Alana dengan wajah memelas.
”Tapi–”
“Aku tahu, kau tidak suka yang manis-manis. Tapi, setidaknya cobalah satu biji, agar aku merasa kerja kerasku ini tidak sia-sia.”
Dave menatap wajah Alana yang terlihat sendu, kala menyodorkan satu toples kue nastar di tangannya.
“Kata siapa, aku tidak suka manis-manis. Buktinya aku lebih suka melihatmu tersenyum, karena kau akan terlihat manis,” puji Dave seraya mengambil satu butir kue nastar di depannya. Lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Sementara Alana, memaku pandangannya ke wajah lelaki itu. Bolehkah ia merasa senang akan pujian lelaki itu? Alana bahkan dapat merasakan jantungnya berdesir lebih hebat. Melihat bagaimana mulut Dave mengunyah nastar buatannya. Terlihat sangat menawan, seksi, dan menggairahkan. Sesaat Alana teringat tentang sebuah ciuman. Bagaimana kalau saat ini ia kembali merasakan manisnya bibir lelaki itu mencium bibirnya. Tak terasa Alana menepuk bibirnya, juga kepalanya demi mengusir pikiran erotis dalam otaknya. Seingatnya dulu ia tidak pernah berpikir semacam itu saat bersama Edo. Tapi dengan Dave, kenapa ia bisa berpikir menjadi perempuan yang murahan.
“Tidak, ini aku hanya...” Alana menatap ke arah tangan lelaki itu yang sibuk mengambil nastar buatannya. ”Bagaimana rasanya, Dave?” sambungnya mengalihkan pembicaraan.
Dave mengangguk. “Enak sekali seperti...”
“Seperti apa Dave? Jangan bilang rasanya seperti berlian,” pungkas Alana, karena ia tahu lelaki itu selalu menyamakan sesuatu yang indah dengan berlian, semua itu karena Alana memang begitu menyukai perhiasan.
Dave tergelak. “Bukan. Tapi, seperti buatan ibuku,” serunya.
Alana menyentak nafasnya, menatap wajah lelaki itu kala mengucapkan kata ibu, rasa rindu itu terselip begitu saja.
Dave menutup toples nastar buatan Alana. “Aku harus mandi Alana. Kuenya aku bawa ke kamar ya. Terima kasih untuk kuenya. Ini akan menambah daftar favorit makananku.”
__ADS_1
”Iya Dave.”
Alana menatap berlalunya lelaki itu dengan rasa bahagia yang membuncah. Bahkan setelah memastikan Dave tak terlihat. Perempuan itu berjingkrak senang, berlari ke dapur mencari Salma.
“Di mana Salma?” tanya Alana pada salah satu pelayan di sana.
“Di taman belakang, Nona. Sedang memberi–” Belum sempat pelayan itu menyelesaikan ucapannya. Alana sudah berlalu pergi menyusul Salma.
Tanpa disangka begitu melihat Salma. Alana langsung menghambur memeluk pelayannya itu, membuat Salma yang saat itu tengah memberi makan ikan di kolam terkejut.
“Nona?” pekiknya.
“Salma, aku sangat bahagia. Dave mau memakan kue buatan ku,” kata Alana begitu mengurai dekapannya.
“Wah, itu kabar bagus Nona.”
.
.
.
.
Gimana kalau kalian jadi Alana dipuji manis🤭
Anu jangan lupa like, komentarnya ya,🤗
__ADS_1