
Keesokan harinya Alana sudah berangkat ke kantor. Pukul tujuh lewat tiga puluh menit ia sudah tiba di lobi perusahaan.
“Mami semangat!!”
Kata-kata Gala saat dirinya hendak berangkat terlintas, hal itu membuat semangatnya menggebu-gebu.
“Kak Sena, apakah aku terlambat?” tanya Alana pada receptions.
“Tentu saja belum. Nona Alana bisa langsung menuju lantai sepuluh ya. Nanti di sana ada Kak Nara selaku sekretaris Direktur. Kakak nanti akan dibimbing di untuk jadi asistennya.”
Alana terkejut, kok pekerjaannya jadi berubah.
“Lho bukannya kemarin harusnya saya bagian.”
“Kebetulan yang itu sudah terisi penuh Nona. Tenang saja pekerjaannya tidak berat kok Nona. Hanya membantu Kak Nara. Soalnya dia lagi hamil, jadi Tuan Direktur memintanya untuk mencari asisten.”
“Kok jadi gini sih,” gumam Alana bingung. Namun, tak urung ia pun melangkah ke lift, gimana lagi ia sudah terlanjur tanda tangan kontrak. Lagian apapun pekerjaannya, bukankah yang terpenting ia dapat uang.
Ting
Bunyi pintu lift terbuka. Ia segera keluar dari kotak besi itu. Melangkah ke bagian sekretaris, di sana tampak seorang perempuan yang tengah berbadan dua tengah berdiri di depan meja.
“Kak, ini saya..”
“Alana ya?” tanyanya ramah. Ia langsung mengulurkan tangannya, saling berkenalan.
“Kak jadi pekerjaan saya adalah...”
__ADS_1
“Membantuku Alana. Kamu tahu kan beraktivitas di kehamilan yang cukup besar itu kadang terasa susah. Untuk itu Tuan Direktur memintaku untuk mencari asisten.”
Alana mengangguk. “Tapi saya belum ada pengalaman untuk itu. Jadi, saya minta bimbingannya ya, Kak.”
“Tentu saja. Kalau gitu kamu duduklah lebih dulu.” Nara membimbing Alana untuk duduk di kursi dan meja yang telah tersedia di sisinya.
Nara juga mulai memberi tahukan apa saja pekerjaan Alana nanti. Hingga dering telpon di atas meja Nara menghentikan aktivitas keduanya. Nara segera mengangkat telponnya.
“Baik Tuan!” sahut Nara mengakhiri pembicaraannya.
“Kenapa, Kak?” tanya Alana.
Nara menggeleng mengambil iPad di atas mejanya, lalu memberikannya pada Alana. “Tadi Tuan Direktur yang telpon. Dia menanyakan jadwalnya untuk hari ini. Tapi, perut kakak tiba-tiba mulas kayaknya perlu di toilet. Kamu tolong ya masuk ke dalam, kasih tau jadwal Direktur hari ini.”
“Tapi aku kan ba–”
Alana menggangguk, dengan ragu ia mengambil iPadnya. Beranjak dari sana menuju pintu. Sejenak Alana terdiam di depan pintu, menekan dadanya.
“Ya Tuhan, kenapa jantungku berdebar-debar,” gumamnya.
“Semangat Alana. Kakak ke toilet dulu.” Nara berlalu ke kamar toilet.
Dengan mengigit bibir bawahnya, menghela nafasnya berulang kali, Alana mulai mengangkat tangannya mengetuk pintu ruangan direktur.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk!”
__ADS_1
Terdengar suara bariton dari dalam. Tubuh Alana memaku, merasa tak asing dengan suaranya. Namun, secepat itu ia menepisnya, ia hanya berpikir karena rasa gugupnya yang berlebihan.
Ceklek!
Dengan pelan Alana masuk ke dalam. Matanya memindai ruangan itu yang tampak luas dengan dinding berwarna cream. Tampak rak-rak buku berjejer rapi, ada sofa dan meja bulat di sana. Sementara sang pemilik ruangan tengah duduk di kursi.
Alana menatap sosok lelaki itu, yang saat ini tengah duduk membelakanginya. Tetapi, kursi yang diputar ke belakang membuat Alana tak bisa melihat rupa bossnya dengan jelas.
“Selamat pagi, Tuan.” Alana mencoba menyapa meski jantungnya berdetak lebih cepat. Gemuruh dalam dadanya semakin menjadi hingga memekik telinganya.
“Hemm. Siapa namamu?”
Alana kembali terhenyak, suara itu jelas tak asing untuknya.
“Alana Tuan. Nama lengkap saya, Alana Jovanka. Asisten dari Kak Nara. Hari ini saya baru mulai masuk kerja. Dan saya di sini ingin memberitahukan jadwal anda hari ini apa saja.” Alana mulai mengangkat iPad di tangannya menggulirnya demi melihat susunan jadwal yang telah Nara buat.
“Jadwal pertama anda hari ini adalah...”
Di saat Alana tengah menggulirkan iPad di tangannya, kursi sang Direktur berbalik, sang pemilik langsung menatap ke arah Alana lalu berkata, “Apa kabar istriku, Alana?”
Sontak Alana langsung mengangkat kepalanya, terkejut mendapati lelaki yang lima tahun lalu ia tinggalkan kini duduk di hadapannya dengan tatapan yang sulit ia artikan.
Prakk!!
Tanpa sadar iPad di tangannya langsung jatuh ke lantai.
“Dave?” desisnya kedua matanya membeliak terkejut, menatap sosok lelaki di hadapannya dengan gemuruh dada yang cepat. Perasaannya campur aduk, antara rasa marah, benci, kesal, dan rindu menjadi satu.
__ADS_1
“Ba–bagaimana mungkin?” gumamnya lirih, tubuhnya beringsut mundur. Nafasnya terasa tercekat di tenggorokan.