Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Semakin Pusing


__ADS_3

Malam harinya Dave sama sekali tidak bisa memejamkan kedua matanya. Bahkan ia sudah mencoba menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Namun, tetap saja tidak bisa konsentrasi. Pikirannya kacau akibat kedatangan Nelson tadi siang. Juga tentang perempuan yang hampir membuat Alana celaka.


Dave sibuk mengira-ngira siapa perempuan itu. Apakah itu Gizka atau Natasha? Hanya kedua orang itu yang tidak menyukai Alana. Dave bahkan sudah meminta orang untuk memeriksa kamera cctv, sayangnya ketika plat mobilnya coba ia lacak, ternyata itu merupakan plat mobil palsu. Dave pikir orang itu sangat jeli melakukan tindakan kejahatan.


Karena tidak dapat memejamkan matanya, ia pun memilih untuk keluar dari kamarnya. Lelaki itu berniat untuk turun dari tangga, mencari udara malam. Tadi ia sudah mencoba keluar menuju balkon kamarnya juga, tapi merasa kurang puas.


“Astaga!” pekik Dave hampir terjungkal saat melihat sosok bayangan putih begitu tiba di ujung tangga.


“Dave, kenapa denganmu?”


Dave menarik nafas lega begitu mendengar suara istrinya. Perempuan itu tengah menggunakan masker wajah. “Tidak! Hanya saja aku berpikir ada hantu di rumah,” seru Dave melangkah mendekati Alana yang tengah duduk.


“Aku mencoba paket kecantikan yang diberi oleh Pak Arfa, Dave. Enak sekali rasanya, pikiran pun ikut plong,” seru Alana.


Dave mengambil air putih, lalu meneguknya hingga tandas. “Lalu kenapa keluar kamar?”


“Aku tadi merasa haus.” Alana memegang masker wajahnya. “Ahh jadi pecah maskernya, kamu sih mengajak aku bicara,” decak Alana berlalu ke wastafel mencuci wajahnya. Dave hanya terkekeh mendengarnya, kemudian berlalu pergi, lelaki itu memilih menuju teras samping.


Lelaki itu mendudukkan dirinya di kursi panjang, yang biasa digunakan Alana untuk membaca buku. Sebenarnya, lebih enak lagi jika ke danau, tapi ia merasa malas lantaran jaraknya masih terasa jauh.


Dave mengambil ponsel di sakunya, mencari kontak Zain.

__ADS_1


“Kau sudah tidur, Zain?” tanya Dave pada sang asisten.


“Belum Tuan. Ada yang bisa saya bantu?”


“Tolong carikan info sedetail mungkin tentang Tuan Nelson Efraim, jangan sampai ada yang terlewat sedikitpun.”


“Apa ada masalah, Tuan?”


“Hemm... Akan ku ceritakan padamu besok,” seru Dave memutus sambungan telponnya. Begitu menoleh ia terkejut mendapati istrinya berdiri di belakangnya dengan membawa nampan minuman. “Alana,” gumamnya lirih.


Alana mengembangkan senyumnya, melangkah mendekati suaminya. “Dave aku membuatkan kamu teh. Ini merupakan teh herbal yang bagus untuk tubuh. Aku rasa ini cocok untuk orang seperti dirimu, agar tubuhmu tetap vit.”


“Terima kasih, Alana.” Dave mengambil secangkir teh hangat itu, menyesapnya pelan. Alana pun ikut mendudukkan dirinya di sebelahnya. “Apa kau sudah berdiri di sana sejak lama?” sambungnya bertanya.


“Hanya masalah kecil, Alana. Biasa, persaingan bisnis.”


Alana mengangguk, mengambil teh miliknya lalu menyesapnya pelan. Dan dalam diam Dave pun menatap istrinya, ada sesuatu yang ia pikirkan dan pertimbangkan.


“Ada apa Dave? Kenapa menatap ku seperti itu?” tanya Alana memindai pakaiannya, seingatnya ia berpakaian cukup sopan. Ia memakai baju tidur satin, celana panjang.


“Tidak ada. Hanya melihat wajahmu saja, setelah memakai masker tadi. Kenapa wajahmu jadi merah?” seru Dave membuat Alana sontak memegang pipinya.

__ADS_1


“Aku hanya bercanda,” seru Dave kemudian. Alana mengerucutkan bibirnya kesal. Mengambil teh miliknya menyesapnya hingga tandas.


“Dave, besok aku mau ke makam ayah,” ujar Alana. Memang biasanya Alana selalu mengatakan pada suaminya jika hendak bepergian.


Dave mengangguk. “Jangan sendirian. Bawalah Salma dan supir.”


“Kenapa kau berlebihan sekali? Aku bisa menyetir–”


“Menurutlah Alana. Ini lebih baik untuk keselamatanmu. Aku masih belum menemukan orang yang berniat mencelakai mu waktu itu,” tegas Dave.


Melihat sorot mata serius suaminya, Alana pun mengangguk. “Berasa jadi istri beneran, kalau pergi-pergi dikawal,” cibirnya membuat Dave mengatupkan mulutnya rapat. Alana beranjak dari tempat duduknya.


“Mau ke mana?” tanya Dave.


Alana kembali menoleh. “Aku mau tidur Dave.”


“Malam Minggu temani aku makan malam di rumah Tuan Nelson,” ujarnya seketika membuat tubuh Alana membeku mendengar nama lelaki itu disebut.


“Tuan Nelson? Apa kau tengah menjalin kerja sama dengannya?”


Dave mengangguk. “Baru rencana Alana. Entah aku mau mengambilnya apa tidak. Tapi ku pikir tidak baik mengabaikan undangan makan malamnya.”

__ADS_1


“Oh, baiklah.”


__ADS_2