
Alana merasa sangat bahagia dengan kedatangan Silvi. Meski ia merasa kurang lengkap karena ketidak hadiran Andi. Saat ini mereka masih berkumpul di halaman samping, tepatnya di sebelah danau di mana keluarga besar Alana tengah berkumpul. Di mulai dari Grandma Ambar, para anak, menantu, cucu dan cicitnya.
Tak jauh darinya terlihat Gala tengah bermain dengan Nesya dengan diawasi oleh Tisa dan Edo. Ya, Alana memutuskan untuk berdamai dengan Tisa maupun Edo. Bukankah kebahagiaan yang ia dapatkan kini melalui ulah mereka juga. Saat ini Tisa juga tengah mengandung.
“Kenapa?” tanya Alana ketika Tisa menghampiri keduanya. Ia duduk di sisi Alana.
“Gak apa-apa, Al. Cuma lelah aja!” jawabnya seraya menyandarkan punggungnya ke sofa. Ia mengusap-usap perutnya. “Badan pegal-pegal gini ya. Dulu waktu hamil Nesya perasaan aku gak gini banget,” keluhnya.
“Tiap-tiap kandungan emang berbeda-beda,” seru Alana.
Sementara Silvi hanya duduk termangu, karena tidak mengerti pembicaraan mereka. Jangankan tau rasanya mengandung. Pacaran saja belum pernah. Ia sadar diri dengan dirinya yang hanya sebagai pelayan bar, serta pendidikannya yang minim tamatan SMA, rasanya terlalu insecure untuk berpacaran. Meski saat ia bekerja ia kerap menjumpai pria yang tertarik dengannya, tapi itu sama sekali tidak bisa menyentuh hati dan pendiriannya. Tidak ada sama sekali seorang lelaki yang membuat hatinya mampu bergetar, kecuali.....
Zain? Iya, hanya laki-laki itu yang mampu membuatnya gugup, hingga jantungnya berdetak kencang. Ia akui dirinya memang sudah jatuh hati pada sosok itu sejak pertama kali jumpa di bar, di mana Dave melamar Alana untuk menjadi istri kontraknya. Dan diam-diam Silvi kerap mendatangi rumah sahabatnya ini, hanya demi melihatnya. Sebatas mengagumi, itu saja yang bisa Silvi lakukan. Ia sama sekali tidak mengharapkan lebih.
Senyum terulas dari bibirnya, mana kala tak jauh dadi jangkauannya kini ia melihat Zain tengah mengobrol dengan Dave. Lelaki itu sesekali menyahut namun lebih kebanyakan menganggukkan kepalanya. Tidak salah jika ia menyebutnya Zain adalah laki-laki yang irit bicara.
Sementara itu Tisa menepuk Alana lalu menunjuk ke arah Silvi, keduanya lantas mengikuti arah pandang gadis itu.
“Zain tampan ya, Vi?” tanya Tisa pelan.
“Tampan banget.”
“Kamu suka?”
“Suka!” ceplosnya tanpa sadar membuat Alana dan Tisa terkikik mana kala menyadari sahabatnya itu menjawab sambil melamun.
“Ehh... Maksudnya karena dia laki-laki tentu saja tampan.” Silvi berusaha meralat ucapannya, namun sepertinya tak berpengaruh karena dua sahabatnya itu kini justru tertawa, membuatnya merenggut kesal sekaligus malu.
Silvi melirik arloji di tangannya, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Ia harus segera beranjak dari sana, karena harus berangkat bekerja.
__ADS_1
“Al, aku pulang ya? Soalnya kan harus masuk kerja.”
“Yah pulang, sih."
“Besok gampang aku main lagi.”
“Tawaranku masih berlaku lho, Vi. Kerja di perusahaan suamiku.”
Silvi menggeleng dengan cepat, “Tidak Al. Aku tidak mau merepotkan dirimu. Aku kurang berpengalaman dalam bidang hal itu.”
Alana tertunduk kecewa, selalu itu jawaban sahabatnya itu. Silvi beranjak dari tempat duduknya. “Aku pu—”
“Pulang sama siapa, Vi?”
“Taksi lah."
“Alana itu tidak perlu!” tolak Silvi. Namun, sepertinya ucapannya tak didengarkan oleh Alana. Saat ia melihat Zain dan Dave melangkah ke arahnya, tentunya setelah Alana memanggil mereka.
“Kenapa sayang? Mual lagi?” tanya Dave cemas.
Alana menggeleng lalu menatap ke arah Zain. “Zain, tolong antarkan Silvi pulang ya?” pintanya.
“Tidak, Al. Aku bisa pulang sendiri.”
“Ayo Zain. Mau kan? Nanti anak aku ileran lho Zain. Kamu gak mau kan anakku lahir ileran.” Alana mengusap perutnya dengan memasang wajah melas.
Dave meneguk ludahnya, menyadari istrinya tengah berdrama. Sementara Tisa hanya menggelengkan kepalanya.
“Al, aku—”
__ADS_1
“Baik Nyonya.” Jawaban Zain membuat Alana senang, sementara Silvi melototkan kedua matanya.
Ketika sudah berada di sisi mobil Silvi hendak membuka pintu bagian belakang. Namun, suara Zain mengejutkannya.
“Saya bukan sopirmu!”
Silvi paham maksudnya, untuk itu ia langsung duduk di depan, sisi Zain.
Mobil melaju meninggalkan area kediaman Dave. Sepanjang jalan hanya terisi keheningan. Sesekali Silvi melirik ke arahnya lelaki itu.
Sebenarnya, Zain pun mengetahui jika diam-diam gadis itu suka memperhatikannya. Entah kenapa ia merasa kurang nyaman. Tiba-tiba di tengah jalan ia merasa ingin menanyakan sesuatu.
“Sudah berapa lama kerja di Lucy bar?” tanya Zain dengan pandangan lurus.
“Emm... Sejak lulus SMA.”
Tiba-tiba senyum sinis terlihat di bibir Zain. “Oh, lama juga. Ada berapa banyak lelaki yang merasakan tubuhmu?”
Deg!!
💞
💞
💞
💞
Aduh Zain kamu membangunkan macan betina yang sedang tidur? Gak belajar dari cara Dave berlaku pada Alana ini.
__ADS_1