
Lima bulan kemudian
Seorang laki-laki penjaga pintu berseragam hitam, bergegas membuka gerbang saat sebuah mobil putih mengkilat datang, dari arah jalanan. Lalu mengangguk hormat pada sang majikan yang berada di dalam mobil belakang kursi kemudi.
Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk utama. Seorang pelayan berseragam merah jambu datang menyongsong.
“Selamat sore, Tuan?” sapanya penuh hormat.
Dave hanya mengangguk kecil.
“Apa Nyonya sudah baikan?” tanyanya sambil keluar dari pintu mobil.
“Sudah, Tuan. Sekarang sedang beristirahat di saung danau.”
Dave menyerahkan tas hitam yang ia ambil dari dalam mobil pada pelayan itu. Tangannya bergerak untuk mengendurkan dasi. Ia masuk ke rumah dengan diiringi pelayan tadi. Ia berniat untuk langsung menuju di mana isterinya berada.
“Papi!!”
Panggilan sang putra mengurungkan niatnya, anak kecil itu berlari menuju ke arahnya dengan tangan yang memegang mainan.
__ADS_1
“Don‘t run away, Gala!” pinta Dave pada putranya. Namun, tak dengarkan. Ah lihatlah betapa ia sangat keras kepala seperti Ibunya.
Hap!
Dengan cepat Dave langsung menangkap tubuh putranya, lalu membawa ke dalam gendongannya. Gala melingkarkan kedua tangannya di leher Papinya.
“How are you, son?” tanya Dave pada putranya, sambil mengecup pipinya.
“Fine!” jawabnya sambil memberikan kecupan di pipi Dave. “Di mana oleh-oleh?” tanyanya menelisik.
“Tidak ada, sayang. Papi kerja, pulang buru-buru.”
Seketika wajah yang semula meredup menjadi cerah bahagia. “Thank you, Papi.”
“Hem.. Kau tahu di mana Mami?” tanya Dave pada putranya.
“Danau! Mami belajar terus, adik bayi juga nakal!”
“Why?”
__ADS_1
“Mami muntah-muntah terus!” celetuknya kemudian, seraya meluruhkan tubuhnya turun dari gendongan Dave. Kemudian beralih ke pengasuhnya, meminta untuk diantarkan ke tempat Zain.
Dave melanjutkan langkahnya untuk menemui istrinya. Tiga hari tidak bertemu dengannya, ia merasa amat rindu.
Untuk sejenak ia terpaku di dekat sebuah pot besar yang tertanam sebuah tanaman. Menatap istrinya yang teramat cantik, yang terbaring malas dengan memegang sebuah buku, rambut panjangnya tergerai dengan indah menutupi pundak. Pancaran matahari senja terpantul ke wajah dan menyinari kehangatan.
Sementara di samping Alana, ada Salma sang pelayan pribadi istrinya, yang sibuk membantu istrinya memotong kuku. Salma menyadari kehadiran majikannya, seketika ia menganggukkan kepalanya.
“Selamat sore, Tuan Dave!”
Dave hanya mengangguk kecil, lalu mendekati istrinya, dan memberi kecupan di dahi Alana yang masih berbaring. “Apa kabarmu, sayang? Hemm sakit lagi hari ini?”
Alana tersenyum. “Ini hal yang lumrah untuk Ibu hamil muda, sayang. Kenapa bisa pulang? Bukankah harusnya masih ada empat hari lagi?”
Alana merasa bingung dan heran, pasalnya sang suami mengatakan akan membutuhkan waktu sekitar seminggu berada di Bali. Laki-laki itu tengah membangun resort di sana. Untuk itu ia merasa heran melihat sang suami sudah kembali lebih cepat.
”Aku khawatir.” Dave meraih dan mer emas pelan jemari istrinya.
Meletakkan bukunya di atas meja, Alana mengangkat salah satu tangannya, untuk mengusap wajah lelah suaminya. ”Aku baik-baik saja, ada Salma yang selalu menjagaku.” Alana menunjuk ke arah Salma yang masih menggunting kukunya. Kehamilan yang kedua, yang baru menginjak Minggu ke- 16 ini, entah kenapa kondisi Alana kerap tak bisa diajak kompromi, membuat ia tak bisa melakukan apapun selain bedrest total. Padahal dulu saat ia hamil Gala, Alana masih mampu bekerja dari pagi sampai sore. Untuk anaknya yang kedua ini sedikit rewel dan manja. Bahkan terkesan ingin selalu dekat dengan Dave, sama sekali tidak bisa mandiri. Berkali-kali Dave kerap membatalkan meeting, atau tangah berada di luar kota langsung pulang, jika mendengar dirinya itu muntah-muntah. Ah... sesayang itu Dave padanya. Menurutnya tidak ada yang lebih berarti kecuali keluarga. Ia rela kehilangan apapun, asal jangan salah satu di antara keluarganya.
__ADS_1
“Kau tahu, dia bukan hanya seorang pelayan. Tapi, dia udah seperti teman dan bodyguard untuk aku, sayang. Cerewetnya melebihi dirimu. Aku mau menggunting kuku sendiri tidak boleh. Aku justru diambilkan buku, diminta berbaring dan membaca buku,” sambungnya bibirnya mengerucut ke depan, bak seorang anak kecil yang tengah mengadu pada ayahnya. Membuat Dave tak tahan untuk tidak tertawa.