Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Side Story – Jangan Mengikuti Anda


__ADS_3

📩📩


[“Cinta aku ke kamu itu kaya noda hitam di baju putih. Sangat jelas dan susah dihilangkan.” ]


Uhuk! Uhuk!


Zain jadi tersedak dan geli sendiri membaca kalimat itu. Sebuah kata-kata gombalan yang dikirimkan Nana. Ia baru membacanya dan wajahnya langsung memerah apalagi kalau sudah ditujukan untuk Silvi, bisa-bisa ia tidak akan sanggup mengangkat wajahnya. Dan sekarang ia pastikan Nana pasti tengah tertawa bahagia. “Perempuan itu pasti tengah menertawakan diriku. Awas saja besok!” ancamnya pada Nana.


“Siapa Zain?” tanya Alana tiba-tiba yang datang bersama pelayan dengan membawa dua cangkir teh dan satu toples kue nastar. Saat ini mereka tengah berada di saung danau, tadinya bersama Dave juga namun lelaki itu tengah pamit masuk. Untuk itulah Zain berani membuka pesan dari Nana, yang menggelikan sekali.


“Bukan siapa-siapa, Nyonya!” secepat itu Zain berkilah dan menyembunyikan ponselnya. Alana terkekeh meminta pelayan untuk meletakkan minuman dan kue itu di atas meja. Kemudian pelayan itu pun pamit.


“Jadi, kemarin habis ditolak?” tanya Alana to the poin. Perempuan itu mendudukan dirinya di sebrang kursi Zain, yang semula ditempati sang suami.

__ADS_1


Zain terkejut mendengar pertanyaan Alana. Ia meringis malu, secepat itu kabar lamarannya ditolak oleh gadis itu. Tapi, harusnya ia tak cukup kaget bukan, mengingat seberapa dekat hubungan Silvi dan Alana. Mereka bukan hanya sahabat melainkan sudah seperti kakak dan adik.


“Emm itu—”


Alana terkikik melihat reaksi kegugupan Zain, dia mengusap perut buncitnya. Antara rasa ingin tertawa juga rasa senang, karena keinginan ngidamnya akan terpenuhi, Zain sudah selangkah lebih maju ternyata. “Perempuan itu paling suka diberi perhatian. Namun, jangan lupa ungkapan perasaan itu juga perlu,” kata Alana serasa menatap ke arah suaminya yang tengah melangkah ke arahnya dengan membawa dokumen. “Jangan seperti Tuanmu. Senang ngasih perhatian tapi gak ngasih kepastian. Pas udah ditinggal minggat baru kelimpungan,” celetuknya kemudian.


Dave yang baru tiba mengerutkan keningnya tak mengerti. “Kenapa aku dibawa-bawa sayang? Ada apa ini?” cecarnya menatap istri dan asistennya.


Dave meletakkan dokumen di atas meja, lalu menatap sang asisten yang terlihat salah tingkah. “Apa yang kau bicarakan padanya? Kenapa istriku tiba-tiba jadi marah begitu?” seloroh Dave kesal. Ia paling tidak suka jika melihat istrinya marah, apalagi akhir-akhir ini mood Alana itu naik turun. Dia bilang karena ngidamnya belum terpenuhi.


“Itu Tuan. Nyonya hanya mengatakan jika dulu anda suka mengasih perhatian tapi tidak memberi kepastian. Dan dia bilang saya jangan mengikuti cara anda,” jawab Zain jujur.


Dave terperangah mendengarnya, seketika moodnya langsung memburuk. “Ada sebab dan akibat. Sebelumnya kamu pasti mancing emosinya,” tuding Dave wajahnya langsung berubah masam. “Aku sudah kehilangan mood. Besok saja lanjut bahas kerjaan ini. Kamu tahu aku tidak akan bisa tidur kalau mood Alana masih seperti itu.”

__ADS_1


“Baik Tuan!”


“Kamu bereskan dokumennya, bawa ke ruang kerja aku sebelum pulang. Saya mau susul istriku.” Dave beranjak pergi meninggalkan Zain. Lelaki itu terdiam, namun otaknya berpikir mencari cara meluluhkan Silvi. Hingga beberapa saat ia tersenyum mana kala menemukan sebuah ide.


💞


💞


💞


Kira-kira apa ya ide Zain?


Like, komentar, dan hadiahnya 🤗

__ADS_1


__ADS_2