
Kejadiannya begitu cepat. Zain terkejut melihat tubuh Dave terdorong jauh, disusul dengan tubuh Alana yang meluruh di lantai bersamaan dengan darah segar mengucur dari tubuhnya.
Seorang penjaga yang ditugaskan untuk menjaga keamanan mereka di luar hotel, melihat seseorang yang berada di gedung sebrang kemudian dia mengejarnya.
Zain luar biasa paniknya. Begitu juga dengan Dave yang tubuhnya terguling jauh akibat dorongan Alana. Mereka langsung beranjak mendekati Alana yang sudah berlumuran darah tak sadarkan diri.
Dave memangku kepala Alana, menepuk pipinya. “Alana bangun!”
Salah satu tangannya terkepal erat. Dia tidak menyangka ada yang berniat mencelakainya. Bahkan seseorang sniper, sama sekali tidak ada dalam dugaannya. Ia melihat ke atas gedung seberang hotel, salah satu jendela ruang terbuka. Dari sanalah sniper itu pasti berasal.
“Tuan setelah ini bawalah Nona Alana ke rumah sakit. Saya akan menyusul anda nanti!” ucap Zain sebelum kemudian ia berlari ke arah gedung sebrang menyusul orang suruhannya tadi.
“Bangun Alana. Ku mohon, kenapa kau lakukan ini!” Dave masih mencoba membangunkan istrinya yang jelas-jelas tak sadarkan diri, wajahnya terlihat memucat seiring darah segar terus mengalir dari bahunya.
Banyak karyawan hotel yang mengerubungi mereka. Ketakutan nampak jelas di wajah Dave. Dia lalu memeluk tubuh Alana. “Bangun Alana. Tolong jangan bercanda, ku mohon bertahanlah. Atau aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri!” teriaknya sudah berlumuran darah.
Bersamaan dengan itu mobil Ambulance tiba, Dave lalu menggendong sendiri tubuh Alana ke dalam mobil.
__ADS_1
💞💞
Seorang sniper yang ditugaskan oleh Nelson untuk menembak Dave segera bergegas keluar, dari gedung perkantoran itu. Karena merasa tugasnya sudah selesai dan berhasil. Dengan santai ia menuruni lift untuk turun ke lantai dasar. Ia merasa targetnya sudah habis, dan ia tinggal mengambil bayarannya.
Lantai demi lantai ke telusuri, kemudian tiba di lantai dasar pintu lift pun terbuka. Namun, alangkah terkejutnya ketika ia melihat seorang pria berdiri di depan dengan mata memerah, tepat di depan pintu lift. Kedua tangannya terkepal, rahangnya mengeras, seakan bersiap untuk mengulitinya hidup-hidup.
Lagi-lagi, ia berusaha untuk acuh tak peduli. Karena merasa tak mengenal pria itu. Namun, Zain segera mencegahnya dengan cara mencengkeram bajunya.
“Minggir!!” ucap si sniper.
“Katakan! Kau bekerja untuk siapa?” tanya Zain.
Tentu saja sang sniper terkejut. Namun, ia berusaha untuk bersikap biasa. “Aku gak ngerti ucapan anda, Tuan.”
Sniper menabrak bahu Zain dengan bahunya. Namun, dengan gerakan cepat Zain langsung menarik leher belakang pria, itu kemudian membantingnya ke dinding dengan keras, hingga membuat pria itu menjerit kesakitan. Bahkan keningnya sampai mengeluarkan darah.
Tak peduli. Itulah yang kini Zain lakukan, bayangan tubuh Alana yang bersimbah darah terlintas, membuatnya merasa sangat marah. Zain terus mencekik pria itu dari belakang. Bahkan ia menendang betisnya, hingga ia terjatuh dan berdiri dengan betisnya. Suara gesekan wajah dan dinding terdengar ngilu, dan Zain terus menekan kepalanya.
__ADS_1
”To... Long... Lepas...” pintanya.
Zain menyeringai, lalu tertawa menggema di gedung perkantoran yang sudah kosong itu. Salah satu tangannya masih setia mencekik leher pria itu, dengan ujungnya jempolnya yang ia tekankan di urat leher. Dan satu tangannya lagi ia gunakan untuk menangkap kedua tangan pria itu agar tak berani melawan. Bahkan semakin pria itu berteriak, maka akan semakin keras pula Zain mencekik, bahkan tak segan Zain memutar pergelangan tangannya hingga berbunyi, yang ia yakini tangannya pasti langsung patah.
Indra seorang penjaga yang ia tugaskan tadi, sedikit terkejut melihat sisi lain dari asisten atasannya itu. Selama bertahun-tahun ia mengikuti keduanya, baru kali ini ia melihat Zain bertindak begitu kejam dan pemarah. Bahkan lelaki itu terang-terangan akan membunuh pria itu, jika tak kunjung memberi tahu siapa orang yang ada di balik rencana penembakan itu.
“Masih tak mau mengaku? Maka kau akan segera mati di tanganku!” ancam Zain. Mengencangkan cekikannya.
“Berani sekali kau menyentuh keluarga Dirgantara. Karena dirimu nyawa istri atasanku terancam, tak akan ku biarkan hidup mu tenang.”
“Ampun!!” teriaknya ketika Zain menendang betisnya.
“Kau masih belum mau bicara?”
“Nel... Nelson Efraim!”
Zain langsung melepaskan cengkeramannya. Lalu tersenyum menyeringai.
__ADS_1
“Nelson Efraim, kau benar-benar sudah menantang maut. Tenang saja, akan ku persiapkan peti mati untukmu. Kau tidak mengira bukan, jika aku jauh lebih kejam dibandingkan Tuan Dave!”