
Ketika fajar telah menyingsing di pagi hari. Alana mengerjapkan kedua matanya berulang kali. Mencoba memulihkan kesadarannya. Kedua matanya menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Menoleh ke arah jendela kaca yang sebagian tak tertutup dengan gorden rapat, matahari tampak mulai naik.
Alana mengendus bau di tubuhnya, rasanya sama sekali tidak enak. Pelan ia merubah posisinya menjadi duduk. Menatap gaun hitam yang masih melekat sempurna di tubuhnya. Alana kembali mengingat kejadian semalam.
Ya, ia ingat. Semalam dirinya menghadiri acara reuni Akbar bersama Dave. Bahkan ia mendapatkan perlakuan yang sangat manis, ketika Dave memperkenalkan dirinya sebagai seorang istri, demi menyelamatkan dirinya dari rasa malu. Bahkan ia mendapatkan sebuah cincin berlian yang begitu cantik. Tak sadar ia pun mengangkat tangannya, melihat jari manisnya yang tersemat cincin di sana. Alana menduga harganya pasti sangat mahal. Ia bahkan belum sempat berterimakasih atas bantuan lelaki, juga kado cincin itu.
Kini, Alana juga mengingat kembali jika semalam ia pun bertemu dengan mantan kekasih dan sahabatnya itu. Hingga beberapa saat kemudian ia asal mengambil minuman, yang mampu membuatnya ketagihan, lalu mabuk.
Kini Alana menutup mulutnya, samar-samar ia mengingat rangkaian kejadian semalam. Namun, terasa gagal justru kepalanya terasa pening. Mungkin pengaruh minuman alkohol itu sama sekali belum menghilang.
Tok! Tok!
“Nona, apa anda sudah bangun? Tuan Dave sudah menunggu anda untuk sarapan."
Suara Salma di balik pintu terdengar.
“Aku baru bangun. Nanti aku menyusul,” jawab Alana sedikit berteriak.
Alana meringis, entah kenapa ia merasa malu untuk bertemu dengan Dave. Meski ia tidak ingat apa yang telah ia lakukan semalam. “Ya Tuhan... Aku sama sekali tidak ingin apa yang ku lakukan semalam. Apakah aku bertindak bodoh, atau bagaimana. Kenapa aku merasa malu untuk bertemu dengan Dave ya,” kata Alana meringis malu.
__ADS_1
Tapi, tidak mungkin jika ia terus bersembunyi di kamar. Hari ini ia juga harus pergi ke kantor. Turun dari ranjang, Alana bergegas membersihkan diri. Sengaja sedikit lama-lama bermain air, menikmati enaknya mandi di bathtub. Ia harap ketika nanti ia turun Dave sudah berangkat ke kantor. Tidak masalah jika nanti di kantor harus berpapasan dengan Dave, paling tidak saat ini terselematkan untuk bertatapan secara langsung.
Usai membersihkan diri, Alana memakai pakaiannya. Stelan kerja dengan blouse berwarna biru laut. Tak lupa ia mengeringkan rambutnya, menyisir dan menguncirnya dengan rapi. Ia juga memberikan riasan natural di wajahnya.
Setelah selesai, Alana baru turun ke bawah. Langkah kakinya terasa berat, sebenarnya ia bisa saja menunggu nanti. Tapi, sejak tadi perutnya pun sudah memberontak lapar.
Tiba di meja makan, Alana terkejut mendapati Dave pun belum berangkat.
“Pagi Dave?” sapa Alana mau tidak mau.
“Pagi Alana,” sahutnya menoleh ke arah perempuan itu sekilas, lalu menunjuk kursi di sebelahnya. “Duduklah, ayo kita sarapan,” sambungnya.
“A–aku?”
“Ya gimana kondisimu sekarang, Alana?” tanya Dave seraya mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
Alana yang baru selesai mengambil makanan di piringnya kembali menoleh. “Baik. A–aku baik-baik saja,” sahutnya tersenyum tipis.
Dave mengangguk. “Tadinya kalau kamu masih tak kunjung sadar. Aku berniat akan memanggilkan dokter setelah ini.”
__ADS_1
“Dokter... Untuk apa, Dave?” tanya Alana heran. Dirinya merasa tidak sakit untuk apa dipanggilkan dokter.
“Hemm... Ya, untuk memeriksa kondisi mu. Siapa tahu pengaruh minuman beralkohol itu begitu kuat, hingga membuatmu tidak kunjung sadar, dan sedikit lepas kendali.” Perkataan Dave seperti tengah menyindir dirinya. “Aku hanya akan meminta dokter memeriksa dirimu. Kemudian memberikan obat penawar mabuk,” sambungnya kemudian.
Alana mencerna perkataan Dave pada dirinya. “Dave, semalam aku tidak melakukan apa-apa kan sama kamu?” tanyanya. Entah mendapatkan keberanian dari mana, pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
Dave menyesap secangkir teh miliknya, mengembalikannya ke tempat semula. Lalu menatap ke arah Alana, dengan kedua alisnya yang terangkat.
“Memangnya kau berharap kita melakukan apa?” tanya Dave balik. Salah satu tangannya bertumpu menahan dagunya. Pandangannya mengarah pada istrinya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Kalau kalian jadi Alana, kalian akan jawab apa. Kalau aku sih anu..🤭😂