Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Aku Siap Menikah


__ADS_3

“Bagaimana kau bisa kembali secepat ini, Jessica?” tanya Dave setelah kepergian Alana.


Jessica terkesiap. “Memangnya kenapa Dave? Aku kembali tentu saja karena merindukanmu.” Ia menjawab seraya mendekati Dave. Namun, lelaki itu langsung beringsut duduk di sofa. Membuat Jessica berdecak.


“Kau bilang kontrak kerjamu masih lima bulan lagi kan. Kenapa tiba-tiba pulang lebih cepat?” tanya Dave.


“Aku melihat beritamu di televisi soal insiden Surabaya, Dave. Tiba-tiba aku merasa sangat rindu padamu. Akhirnya aku memutuskan untuk menyelesaikan semua kontrak kerjaku di sana. Jadi, aku bisa kembali lebih cepat.”


“Lalu?”


“Ya ini aku kembali dengan tugasku yang sudah selesai. Kau pasti senang mendengarnya? Sekarang aku sudah siap menikah. Dave ayo kita rencanakan pernikahan kita,” ujar Jessica berbinar bahagia.


Dave menatap perempuan itu heran. “Aku lelah sekali Jessica. Pulanglah, aku ingin istirahat. Dan juga kerjaan ku belakangan ini menumpuk!”


Jessica terkejut, melihat Dave tak seantusias dulu. “Kau mengusirku Dave. Aku bahkan baru tiba?”


“Terserah kamu, aku mau tidur!” Dave beranjak meninggalkan Jessica begitu saja yang terlihat geram. Padahal ia pikir Dave akan merasa senang dengan kedatangannya.


Dave menatap arah pintu kamar Alana yang tertutup rapat. Ada rasa ingin mengetuk pintu itu, menanyakan keadaannya. Perihal tadi, Dave sempat melihat wajah perempuan itu memucat. Tapi, ia khawatir ketukannya nanti justru menganggu istirahat perempuan itu.


💞💞


Sore hari ketika senja mulai menyapa. Alana membuka kedua matanya. Kepalanya sedikit pusing, mengingat ia menangis sampai tertidur. Melihat awan yang terlihat mulai berubah warna. Alana langsung beranjak membersihkan diri. Ia bahkan melewati makan siangnya.


Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian. Alana mengeluarkan oleh-oleh yang ia bawa dari Surabaya. Ia berniat untuk membagikannya sore itu juga. Biasanya di jam segitu, para pelayan tengah berkumpul mempersiapkan makan malam.

__ADS_1


Sempat melirik ke arah pintu kamar Dave, saat ia keluar dari kamarnya. Pintunya tertutup rapat, dadanya berdesir mengingat kejadian hari ini. Sebuah kejutan yang sama sekali tidak ia duga. Alana pikir Jessica akan pulang begitu kontrak pernikahan keduanya usai. Namun, tak ia sangka dia kembali lebih cepat. Padahal masih ada waktu tiga bulan lagi untuk ia dan Dave menyelesaikan perjanjian itu.


“Taraa... Aku bawa banyak makanan dan barang-barang,” ujar Alana begitu tiba di dapur, menghampiri para pelayan dan koki yang tengah mempersiapkan menu makan malam.


Sontak mereka langsung mendekati Alana. “Wahh banyak sekali Nona. Ini buat kami semua,” seru Salma.


Alana mengangguk. “Iya. Tolong dibagi yang rata ya.”


“Nona, kami turut berduka ya atas kejadian yang menimpa anda di Surabaya,” ucap salah satu pelayan yang lainnya.


“Andai saja kami punya pesawat tentu saja kami akan langsung terbang menemui Nona.” Mereka saling menimpali.


Alana duduk di kursi, menatap mereka satu persatu. Lalu berkata, “Kalau kalian punya pesawat mana mungkin kalian mau bekerja di sini. Dan bergabung bersamaku.”


“Benar juga ya.”


“Tentu saja. Kau pikir aku kenapa? Aku sudah sehat.”


“Memang. Tapi, hati anda terluka.”


Alana terperangah mendengarnya, memilih beranjak. “Tolong buatkan aku mie instan ya. Kasih cabe yang banyak, setelahnya antarkan ke teras samping. Aku mau membaca buku.”


“Tapi Nona. Tuan Dave melarang kami memasakkan anda mie instan. Apalagi anda habis sakit,” seru pelayan lainnya.


“Please. Aku lagi sangat pengen. Dave tidak akan tahu, dia sudah asyik sendiri. Pokoknya aku tunggu.”

__ADS_1


Alana berlalu keluar dari dapur dengan langkah kaki cepat. Hingga tubuhnya membentur sesuatu yang keras, membuat tubuhnya oleng.


“Dave?” desisnya. Hampir saja ia terjatuh jika Dave tak sigap menahan tubuhnya.


“Kenapa kau lari-lari?” tanya Dave heran.


“Aku mau ke teras samping Dave,” jawabnya setelah melepaskan tangan Dave. Ia menatap ke arah Dave yang tampak rapi sekali sore itu. “Kau mau ke mana?”


“Ke luar sebentar. Kau mau ikut?” tawarnya.


Alana menggeleng, karena ia berpikir Dave akan keluar menemui Jessica.


“Atau menitip sesuatu?” sambungnya lagi.


“Tidak Dave. Pergi saja, selamat bersenang-senang,” ucapnya.


Dave terkekeh pelan, mengusap rambut Alana. Lalu berkata, “jangan lupa makan ya.”


Sederhana, namun mampu menggetarkan hati. Bagaimana Alana tidak jatuh hati pada lelaki baik dan hangat seperti dirinya. Bolehkah Alana bermimpi untuk bisa memiliki lelaki itu seutuhnya.


💞


💞


Beberapa part mungkin agak sebal ya sama sikap Dave. Tapi, percayalah aku menciptakan tokoh itu emang tidak sempurna, pasti ada sisi kekurangannya. Sama seperti kita sebagai manusia.😁😁

__ADS_1


Salam dunia halu😍😍


Lempar bunganya yang banyak🤭


__ADS_2