
Usai makan malam, Gala meminta Papinya untuk menemaninya tidur. Ranjang miliknya hanya berukuran kecil, yang hanya muat untuk dua orang.
Sementara Alana memilih duduk di sofa ruang televisi, ia membaca buku. Namun, fokusnya justru terpatri pada pintu kamar Ibunya yang tertutup rapat. Perempuan itu bahkan sampai tidak makan malam, hal itu cukup membuat Alana cemas. Tadi saat Alana panggil, ia hanya mengatakan sedang ingin istirahat kepalanya pusing. Alana tawarkan obat atau ke dokter, ia juga menolak. Sebenarnya, Ibunya kalau sedang sakit kerap seperti itu, mengunci dirinya di kamar. Hal yang Alana takutkan jika itu bisa mempengaruhi mental sang Ibu, mengingat sang Ibu pernah depresi. Namun, Alana berharap kali ini jika hal itu tidak akan terjadi.
Menghela nafasnya Alana memilih beranjak ke kamar putranya. Ia melihat suami dan anaknya sudah sama-sama tidur. Dave masih memegang buku dongeng di tangannya.
Alana tersenyum melihatnya, tangannya bergerak mengambil selimut untuk menyelimuti putranya. Setelahnya ia beranjak menyelimuti tubuh suaminya. Pelan, ia mengambil buku di tangan suaminya. Namun, tiba-tiba ia terkejut mana kala tangannya justru di tarik oleh Dave, membuatnya jatuh di atas tubuh suaminya.
“Dave?” desisnya ketika kedua mata suaminya justru terbuka. Lalu kedua tangannya dengan cepat memeluknya. “Lepas Dave,” pinta Alana setengah berbisik.
Bukannya melepaskan, lelaki itu justru menggulingkan tubuh istrinya ke samping lalu memeluknya, dengan kedua tangan yang melingkar di perutnya. “Tidurlah. Kenapa kau itu hobi sekali bergadang.”
__ADS_1
Alana mencoba melepaskan tangan suaminya. “Aku akan tidur Dave. Tapi tidak di sini, di sini sempit. Ranjangnya kecil, biarkan aku keluar. Nanti Gala terbangun.”
Dave justru semakin menenggelamkan kepalanya di ceruk leher istrinya. “Aku kangen, Alana.”
Alana mengulas senyum di bibirnya, ia tahu apa yang suaminya rasa. “Aku tahu, Dave. Tapi ku rasa ini bukan saat yang tepat.”
Perlahan pelukan Dave terurai. Alana langsung beranjak dari tempatnya. “Tidurlah Dave. Kau besok harus bekerja kan.”
Keluar dari kamar, ia melihat istrinya masih duduk di sofa membaca buku. Ia tersenyum kala merasa hobi istrinya sama sekali belum berubah. Ia mendekati istrinya, tanpa di sangka ia langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Alana.
“Kenapa tidak tidur, Dave?” tanya Alana menutup bukunya. Tangannya beralih mengusap rambut suaminya.
__ADS_1
Dave menatap pintu kamar di sebelah kamar putranya. “Sayang, Ibu masih tidak mau keluar?” tanya Dave.
“Belum. Mungkin sudah tidur.”
“Aku datang berniat untuk berbicara dengannya. Tapi, dia seolah tidak ingin menemuiku. Kenapa ya? Dia pasti membenciku ya?” kata Dave meraih tangan istrinya membawanya ke bibir lalu mengecupnya pelan.
“Tidak! Ibu baik kok. Mungkin dia memang sedang pusing. Karena kan setengah hari tadi, ia mencari-cari Gala yang kau curi," cibir Alana.
“Aku tidak mencurinya. Dia datang sendiri ke proyek pembangunan hotelku,” sanggah Dave menggerakkan tangan istrinya untuk terus mengusap kepalanya. “Aku bahkan udah menawarkan bantuan untuk mengantarkan ke tempat Ibu, sayang. Tapi Gala menolak, ya mungkin itu memang udah jalannya kalau dia harus tahu siapa Papinya. Kalau gak gitu, kamu pasti masih menyembunyikan dia terus kan dari aku!”
Alana menghentikan gerakan tangannya, merasakan kekesalan di wajah sang suami. “Aku gak berniat begitu, Dave. Aku hanya perlu waktu. Kau tahu semalaman aku memikirkan hal itu. Tapi, paginya aku sakit. Aku pikir setelah kondisiku membaik aku berniat mempertemukan kalian berdua langsung. Tapi, yang terjadi di luar rencanaku.”
__ADS_1
“Kenapa tidak memberitahukan sejak awal kita bertemu?”