Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Side Story – Ternyata Kamu Sama Saja


__ADS_3

Silvi terkejut ketika Zain menghentikan mobilnya tepat di area Hotel Alana Island. Dia menatap lelaki di sisinya dengan pandangan penuh selidik.


“Kenapa?” tanya Zain sambil melepaskan seat beltnya.


“Aku tidak menyangka kalau kamu justru membawaku ke hotel.” Raut wajah Silvi terlihat kecewa.


“Memangnya kenapa dengan hotel?"


“Aku pikir kamu beda dari yang lain. Ternyata....” Silvi menghentikan ucapannya sejenak, menekan dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Mengapa dalam sejenak ia kembali menjadi orang yang hina. Ia pikir niat Zain melamarnya tempo hari itu tulus, dia bahkan sempat berpikir jika lelaki itu akan mengutarakan niatnya secara langsung dan baik-baik. Namun, ternyata ia harus menelan rasa kecewa.


“Kenapa?” desak Zain.


“Ternyata kamu sama saja dengan para pria di club itu. Yang rela mengeluarkan uang banyak, hanya ingin menikmati tubuhku.”


Deg!


Untuk sejenak Zain terpaku mendengar ucapan Silvi. Dia memaku menatap pergerakan gadis itu yang terlihat tengah menghindari tatapannya. “Okelah. Ayo kita masuk. Anggap saja ini semua sebagai imbalan, karena kamu sudah memberikan pakaian yang bagus!” katanya seraya membuka pintu mobil, dan keluar dari sana. Untuk sejenak ia memaku tubuhnya, menatap bangunan tinggi dan mewah yang menjulang tinggi. Sebuah hotel bintang lima milik sahabatnya — Alana. Dia tersenyum getir seolah ada beban berat yang tiba-tiba menghantam dadanya.


Hingga tiba-tiba ia tersentak saat tubuhnya merasa hangat, kala seseorang membalutkan jas di pundaknya. “Jangan selalu membiasakan diri untuk berprasangka buruk pada seseorang.”

__ADS_1


Silvi menoleh pada Zain yang ternyata lelaki itu yang melepaskan jasnya dan membalutkan tubuhnya. “Kamu bahkan tahu fasilitas apa saja yang ada di hotel ini,” sambungnya. Kali ini dengan sedikit gugup Zain merengkuh pundak gadis itu.


“Tapi kan—”


“Ayo kita masuk. Aku sudah sediakan tempat.” Dengan menautkan jemarinya, Zain menarik gadis itu masuk ke dalam hotel. Silvi hanya diam mengikuti langkah panjang kaki lelaki itu. Mereka melewati meja customer servis, menuju sebuah deretan pintu lift.


“Zain kita—”


“Tunggu liftnya belum sampai. Sepertinya karena musim liburan hotelnya jadi ramai.”


Ting!


“Zain kenapa kita di pojok. Kita bisa susah keluar,” protes Silvi.


Zain mengangkat kedua alisnya. “Gak apa-apa. Lebih baik kita terakhir kan, dari pada berdesak-desakan.”


Silvi terdiam menahan kegugupannya. Entah kenapa tiba-tiba ia merasa setelah tiba di hotel, sikap Zain berubah lebih lembut padanya. Tanpa, Silvi ketahui jika Zain tengah mati-matian merubah sifatnya menjadi semanis madu, hanya demi membuat gadis itu rileks tak takut padanya. Ia tidak mau Silvi berpikiran buruk padanya. Entah akan bertahan berapa lama kemanisannya itu.


Silvi menatap lampu di atas lift yang menunjukkan deretan angka-angka petunjuk lift itu lewat. Beberapa kali lift terbuka dan tertutup seiring dengan keluarnya para pengunjung lainnya. Hingga kini hanya menyisakan Zain dan Silvi di dalamnya.

__ADS_1


“Zain, ini sebenarnya kita mau ke mana sih?” tanya Silvi heran pasalnya ia hafal fasilitas kamar di hotel itu sudah habis terlewat. Bolehkah ia merasa lega saat ini.


Ataukah lelaki itu akan mengajaknya menonton?


“Dikit lagi kita sampai.”


Hanya itu jawaban yang diberikan Zain. Tentunya meninggalkan kebingungan, dan penuh tanya. Hingga beberapa saat lift berhenti tepat dilantai paling atas. Zain dengan segera menggandeng gadis keluar, menyusuri lantai terakhir itu, kemudian berbelok ke kanan menuju sebuah pintu. Ketika pinta terbuka, Silvi memaku tubuhnya sejenak.


💞


💞


💞


💞


Maaf kalau pendek dan banyak typo guys, Aku lagi di jalan pulang soalnya.


Jangan lupa, dilike, komentar, hadiah, dan votenya 😍😍

__ADS_1


__ADS_2