
Awalnya hanya kedua bibir yang saling menempel. Namun, lambat laun Dave memaksa Alana untuk membuka mulutnya, membiarkan ia mengeksplor isi dalam bibir perempuan itu.
Alana merasa tubuhnya menegang, seiring dengan lu ma tan yang tercipta. Otaknya berfikir bahwa ini salah, ini tidak boleh terjadi, ia harus segera mendorong Dave agar ciuman itu terlepas. Namun, entah kenapa tangan dan tubuhnya memaku, seolah sulit untuk bergerak. Ciuman Dave seolah mengandung sebuah sihir, hingga membuat Alana tak berdaya untuk menolak, selain menerima dan menikmati. Bahkan ia bisa merasakan kini seluruh sarafnya ikut melemas.
Dave dengan lihai terus mencium bibir Alana, dari yang semula halus dan lembut kini menjadi sedikit lebih kasar. Hingga membuat Alana merasa terpancing. Perempuan itu mencoba membalas ciuman suaminya. Meski terasa sedikit kaku, tapi ia tetap berusaha mengimbanginya.
Dan dalam diam, Dave menyunggingkan senyum tipisnya. Mana kala merasa Alana telah larut dalam ciumannya. Decapan lidah yang semakin terasa panas, membuat tubuh Alana seraya melemas, rasanya ia hampir tidak kuat menopang tubuhnya. Namun, Dave dengan sigap menahan tubuh istrinya. Sementara, salah satu tangannya menahan tengkuk Alana. Mencoba semakin memperdalam ciumannya. Alana hanya diam pasrah, entah pesona apa yang lelaki itu telah taburkan, hingga membuat ia tak kuasa untuk menolak segala sesuatu yang Dave beri dan lakukan.
Mereka larut dalam ciumannya. Saling me lu mat, me lilit, bertukar saliva hingga terdengar decapan lidah yang kian memanas, di bawah sinar bulan yang terang. Alana bahkan sampai meremas kaos polo berwarna putih yang lelaki itu kenakan.
Pelan, Dave merebahkan tubuh Alana di atas kursi panjang yang beralaskan busa itu. Bibir keduanya masih saling terpaut tak lepas. Ciuman itu terlepas, Alana mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya. Namun, tubuhnya masih beerdesir mana kala ia merasakan sesuatu yang basah dan lembut menyentuh lehernya.
Dave tengah menyusuri leher Alana dengan lidahnya, membuat Alana memejamkan matanya. Menikmati sensasi panas yang lelaki itu ciptakan. Dave kembali mencium bibir Alana. Menciptakan sebuah le gu han dan de sa han dari bibir Alana. Hal itu membuat Dave merasa kian bersemangat. Kini tangan lelaki itu tak hanya memangku tubuhnya. Namun, salah satu tangannya mulai bergerak menyingkap piyama Alana.
Alana merasa tersentak, mana kala merasa tangan kekar suaminya kini telah menjangkau kedua squisy miliknya, di balik kain penghalang yang ia gunakan. Me re mas nya secara bergantian. Hingga di saung tepi danau itu kini hanya terdengar bunyi de sa han dari bibir Alana. Keduanya terus larut dalam gairah panas yang memabukkan. Alana merasa dirinya tak lagi bisa berfikir jernih. Ia merasa sesuatu dalam dirinya ingin meledak. Pakaian atas Alana bahkan sudah terlihat acak-acakan, akibat ulah tangan Dave.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian, Dave merasa ponsel dalam sakunya bergetar. Ia yang sudah dibutakan hasrat, berusaha untuk tak mempedulikannya. Namun, getaran itu semakin sering, membuat ia terpaksa menghentikan aktivitasnya. Dave beranjak dari atas tubuh Alana.
“Ada telpon. Aku angkat telpon dulu.” Dave beranjak mengeluarkan ponselnya, menjawab panggilan telpon, dengan jarak yang sedikit jauh dari Alana. Terlihat lelaki itu terlibat percakapan.
Sementara Alana berusaha merapikan pakaiannya yang tampak sedikit acak-acakan. Bahkan kancing piyamanya sampai ada yang terlepas. Jantungnya, masih berdegup sangat kencang. Ia merasa semuanya seperti mimpi.
Sementara Dave yang baru selesai memutuskan sambungan telpon. Mengusap wajahnya dengan gerakan kasar, kala menyadari apa yang tengah ia lakukan pada Alana.
“Sial! Apa yang baru saja aku lakukan. Hampir saja aku melecehkan Alana, jika tidak ada telpon ini,” umpat Dave pada dirinya sendiri. “Bisa-bisanya aku mau mengingkari janjiku,” sambungnya.
“Ahh, malam ini ternyata sangat indah,” kata Alana. Perempuan itu memang sengaja berkata demikian saat mendengar langkah kaki Dave semakin mendekat. Alana melirik ke arah meja, rasanya haus tapi ternyata gelas miliknya sudah terlihat kosong.
“Alana?” panggil Dave yang kini sudah berdiri di sampingnya.
Alana menoleh berpura-pura bersikap biasa, seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya. “Oh Dave. Sudah terima telponnya? Telpon dari siapa?” tanya Alana beruntun. Namun, ia hanya berani menatap ke arah Dave sekilas.
__ADS_1
“Sudah, dari Papa.” Dave mendudukkan dirinya di depan Alana.
“Dave kursi yang sebelah kosong. Aku pikir untuk berdua akan terasa sempit,” protes Alana. Namun, Dave seakan menulikan pendengarannya. Lelaki itu justru menatap ke arah wajah Alana.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Maaf ya Dave. Aku belum rela kalau kalian harus anu sekarang.😂