Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Ingin Mereka Menikah


__ADS_3

“Emmm..”


“Ayo katakan sayang? Perhiasan, tas, rumah, apartemen, sepatu atau—"


“Bukan!” sela Alana dengan cepat, mencubit dada suaminya. Mengapa sang suami kerap sekali menawarkan barang-barang mewah seperti itu.


Dave meringis lalu terdiam sejenak, tangannya beralih mengusap tengkuknya yang tak enak. Entah kenapa firasatnya tak enak. Dalam hati ia berharap keinginan sang istri masih tahap normal. Pernah ia mendengar dari rekan bisnisnya, dibuat susah dengan keinginan istrinya saat ngidam.


“Lalu apa?” Dave tersenyum seolah-olah ia tak sabar menunggu jawaban istrinya.


Alana menyusup ke dalam dekapan sang suami, kembali memainkan kancing kemeja Dave. “Sayang, apa Zain tidak memiliki kekasih?”


Uhuk! Uhuk!


Dave langsung tersedak, tiba-tiba tenggorokannya terasa kering mana kala mendengar pertanyaan istrinya. Astaga! Jangan katakan jika sang istri mendambakan asistennya untuk menjadi kekasihnya, dengan embel-embel ngidam. Itu tidak bisa dibiarkan. Satu detik pun ia tidak akan rela berbagi.


Secepat itu raut wajah Dave berubah kesal, kala rasa tak terima menyergap. “Kenapa bertanya seperti itu?” tanya Dave berusaha menutupi rasa kekesalannya.


Alana menarik tangannya, lalu membuang mukanya ke arah danau, kembali menikmati pantulan senja di danau sana. “Aku hanya bertanya. Kenapa kau langsung sekesal itu.”

__ADS_1


“Memangnya suamimu ini kurang tampan?" tanya Dave merenggut.


Kening Alana mengerut, menoleh ke arah sang suami. Ia tersenyum menyadari jika suaminya cemburu. “Tentu saja sangat tampan.”


“Lalu, kenapa kau bertanya tentang Zain? Jangan katakan kau ngidam ingin menjadi kekasihnya?” seloroh Dave, pada akhirnya ia tak tahan untuk memendam apa yang ia pikirkan tadi.


Sejenak Alana melongo, kemudian tertawa dengan lepas, tak tahan menikmati raut wajah kecemburuan suaminya. Ia dengan segera merunduk lalu mencium bibir suaminya sekilas. “Bisa-bisanya kau berpikir ke arah sana, sayang?”


Dave mengambil jemari istrinya yang tengah meraba wajahnya. “Bukankah keinginan seorang Ibu hamil itu suka aneh. Aku pikir begitu sayang.”


“Tapi aku masih normal, sayang. Mana mungkin aku menginginkan pria lain selain suamiku!” balas Alana.


Terlihat Alana berpikir sesaat. “Kau tahu sahabatku, sayang? Silvi.”


“Hemm... Kenapa sayang? Kau merindukannya? Suruh saja dia untuk datang.”


Alana menggeleng. “Bukan. Untuk apa? Dia bahkan tadi pagi baru dari sini.”


“Lalu?”

__ADS_1


Alana mengusap perutnya pelan. Dave mengangkat alisnya. “Katakan sayang?”


“Sayang, Zain tidak mempunyai kekasih kan? Bagaimana kalau kita jodohkan mereka saja. Aku ingin sekali melihat sahabatku itu menikah,” kata Alana melirihkan ucapannya diakhir kalimat.


Glek!


Dave menelan ludahnya. Bagaimana bisa keinginan istrinya sesusah itu. Pernikahan? Sebuah ikatan yang sakral dengan terikat janji sama Tuhan. Juga menyatukan kedua hati seorang perempuan dan laki-laki.


“Sayang, tidak semudah itu. Mereka punya kehidupan pribadi, tidak baik untuk ikut campur. Apalagi sampai memaksa mereka menikah, hanya demi keinginan kamu itu.” Pelan Dave mencoba menasehati istrinya, membawanya ke dalam dekapannya. “Belajarlah dari pengalaman kita sayang. Bukankah banyak hal yang terjadi. Dan tidak semua perempuan sekuat dirimu,” sambungnya.


Alana menarik tubuhnya sedikit menjauh dari sang suami, wajahnya nampak kecewa. Namun, jika dipikirkan ucapan sang suami ada benarnya.


“Bagaimana kalau keinginannya diganti yang lain. Jangan melibatkan orang lain sayang, ada aku suamimu. Kau ingin apapun!” seru Dave.


Alana menggeleng pelan, sungguh ia tidak menginginkan apapun. Semua barang sudah ia miliki. Ia hanya ingin melihat sahabatnya itu juga bahagia. Bukankah Silvi sudah cukup usia untuk menikah? Dan diam-diam ia juga tahu jika gadis itu juga menyukai Zain sejak pertama kali jumpa.


“Kalau begitu bagaimana jika kita bantu mereka untuk saling dekat? Aku tidak akan memaksa mereka menikah, setidaknya aku ingin berusaha. Siapa tahu dari kedekatan mereka nanti jadi tumbuh benih-benih cinta, kan.” Alana berucap antusias, hingga membuat Dave merasa tak kuasa untuk membuatnya kecewa.


“Akan aku pikirkan, sayang!” jawab Dave menghela nafas pelan, beranjak dari tempatnya mengambil jas dan dasinya. “Hari sudah semakin sore, sebentar lagi gelap. Ayo kita masuk sayang,” sambungnya mengulurkan tangannya berniat membantu sang istri. Alana menyambutnya dengan hangat.

__ADS_1


__ADS_2