Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Side Story – Zain, Sang Penolong


__ADS_3

Bugh!


Silvi melemparkan tas miliknya ke atas ranjang dengan wajah kesal. “Gila kali ya. Itu orang sinting, ngajak nikah kaya ngajak main!” umpatnya.


Masih tak habis pikir dengan jalan pikiran Zain. Namun, secepat itu ia mengenyahkan pikirannya, ia juga ingat bagaimana Dave dan Alana menikah, laki-laki itu juga melamarnya di club malam. “Gak bos gak asisten juga sama aja, seenak jidatnya ngajak nikah,” dumelnya seraya merebahkan tubuhnya di atas ranjang. “Dia ngajak rumah tangga apa rumah-rumahan sih!” sambungnya.


Silvi mengusap wajahnya, lalu tangannya bergerak di bibir miliknya. “Sial! Dari kejadian banyak tadi. Kenapa aku justru mengingat ciumannya!” sungut Silvi dengan wajah merona.


Ia melirik arloji di tangannya, masih ada 30 menit sebelum ia harus berangkat bekerja. Silvi menatap langit-langit kamarnya, pikirannya melalang buana tentang kejadian enam tahun lalu, di mana ia menetapkan jika Zain adalah dewa penolong padanya.


Enam tahun yang lalu.


Hujan deras yang mengguyur kota Jakarta, jalanan tersendat akibat genangan air yang mencuat tinggi. Tubuhnya basah kuyup akibat curah hujan yang teramat deras. Niatnya untuk bertemu Alana di restoran hotel bintang lima gagal. Akibat cuaca yang tiba-tiba memburuk. Belum lagi motornya yang tiba-tiba macet di tengah jalan. Berkali-kali ia mencoba menghidupkannya, namun gagal. Memang motornya itu motor jadul sudah pasti kalau terkena hujan akan macet. Kalau begini ia merasa kesal, harusnya tadi ia menggunakan taksi saja. Dia berlari ke pinggir jalan tepatnya di halte bus, mengeluarkan ponsel dalam tas miliknya, untuk memberi kabar tentang dirinya pada Alana yang ia pastikan gadis itu pasti sudah menunggu di sana. Usai memberi kabar jika ia tidak bisa datang, Silvi kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Beruntunglah tas miliknya anti air jadi isi di dalamnya tetap aman.


Setelahnya, Silvi berlari kembali ke motornya, ia mencoba menghidupkannya namun tetap gagal. Hingga akhirnya ia mencoba mendorong motornya, niatnya untuk menghindari genangan air.


Sementara dari sebrang jalan, arah lalu lintas berlawanan. Zain menghentikan motornya di pinggir jalan, ketika melihat sahabat istri atasannya tengah terlihat kesusahan mencoba mendorong motornya yang tampak mogok.


“Bukannya itu Nona Silvi,” gumamnya. Zain melepaskan helm nya. Kemudian dia berlari ke arah sebrang jalan berniat menolong gadis itu.

__ADS_1


“Kenapa dengan motornya, Nona?” tanya Zain tiba-tiba.


Silvi yang tengah kesusahan menoleh terkejut mendapati asisten suami sahabatnya itu berada di sampingnya. Laki-laki itu juga sama basah kuyupnya, hanya saja dia menggunakan jas resmi, tetap terlihat tampan.


“Nona?” tegur Zain.


Silvi terlonjak secepat kilat ia sadar dari lamunannya. “Mogok Tuan. Biasalah motor jadul,” sahutnya canggung.


“Biar ku bantu!”


Silvi minggir membiarkan Zain mengambil alih motornya. Lelaki itu mendorong motornya menjauhkan dari genangan air. Ia mencoba menghidupkan mesinnya, namun tak kunjung bisa. “Sepertinya hanya pihak bengkel yang bisa memperbaikinya, Nona.”


Silvi langsung mengangkat wajahnya. “Tapi—”


“Tidak apa-apa Nona. Saya sudah biasa mengatasi hal seperti ini. Kebetulan apartemen saya juga sudah dekat,” kata Zain seraya memalingkan wajahnya merona, saat tak sengaja menangkap sesuatu yang tak seharusnya ia lihat. Ia dengan cepat membuka jas miliknya. Kemudian membalutkannya ke tubuh Silvi.


“Ehh!” Silvi terkejut.


“Maaf Nona. Pakaian anda begitu transparan dan saya pikir—” cicit Zain gugup, jika saja tidak terkena air hujan, bisa dipastikan wajahnya merona.

__ADS_1


“Terima kasih,” sahut Silvi meringis malu. Bisa-bisanya demi tampil cantik menuju restoran hotel bintang lima, ia tidak membawa jaket, dan justru menggunakan dress berwarna putih. Namun, di tengah perasaan malunya, ia terkejut tiba-tiba Zain menggenggam tangannya. “Ayo, kita nyebrang. Saya akan pesankan anda taksi!”


Silvi hanya menurut mengikuti langkah kaki lelaki itu, membawanya ke sebrang jalan. Kemudian menghentikan taksi, dia membukakan pintu dan meminta Silvi untuk masuk. “Pak tolong antarkan sampai ke rumah ya!” pintanya pada sopir taksi, tak lupa ia juga memberikan beberapa lembar uang pecahan berwarna merah. Silvi sampai bingung harus berkata apa-apa. Dalam sejenak ia menjadi semakin kagum dengan lelaki itu. Bukan hanya tampan tapi dia juga sangat baik, itulah penilaian Silvi pada Zain. “Hati-hati Nona,” pesannya sebelum kemudian ia menutup pintu mobil taksi.


Keesokan harinya di pagi hari setelah terbangun, Silvi terkejut ketika ada seorang pegawai bengkel mengantarkan motornya atas suruhan Zain.


Kini, Silvi menghela nafasnya mengingat masa lalu itu, terkesan namun juga memalukan. Melirik jam arloji di tangannya rasanya sudah cukup untuk ia istirahat, dia harus segera bersiap-siap berangkat kerja.


💕


💕


💕


💕


Ingatkan gak kejadian itu?🤭


Maaf ya telat update, jaringan trobel guys dari pagi😭.

__ADS_1


Tetap jangan lupa like, komentar dan hadiahnya


__ADS_2