
Pemandangan sebuah kantor megah dan luas, dengan dinding berwarna krem lembut dan karpet tebal berwarna senada yang menutupi lantai. Ada sofa hitam dengan meja kayu pendek. Sementara meja hitam tinggi bulat yang terlihat kukuh dengan kursi hitam berada di kursi di dekat pintu masuk. Lemari kaca terpasang di belakang meja. Sang pemilik ruangan–Dave, berdiri menghadap ruangan dengan jendela terbuka. Menampakkan pemandangan luar gedung yang samar-samar.
Membalikan tubuhnya, matanya menangkap ke arah perempuan yang sejak tiga pulih menit yang lalu belum juga sadar. Padahal usai insiden tadi, Dave langsung memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaan Alana. Dokter bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Terdengar ketukan di pintu, tak lama muncul sosok lelaki bertubuh tegap, tinggi. Dengan jas putih dengan celana senada, lengannya menangkup setumpuk dokumen, lalu meletakkannya di atas meja.
“Tuan?” seru Zain.
“Hem... Ada apa?” tanya Dave.
“Mengenai kejadian tadi. Bagaimana dengan Nona Moni?” tanya Zain hati-hati.
Dave melirik ke arah Alana yang masih terbaring di sofa. Perempuan itu tampak mulai mengerjapkan kedua matanya.
“Kau tahu benar, apa yang mesti dilakukan Zain. Kumpulkan semua karyawan yang terlibat, karena membiarkan kekacauan itu terus berlangsung. Aku akan mengambil keputusan saat rapat besar nanti,” kata Dave.
“Baik Tuan!”
__ADS_1
“Pergilah!" usir Dave. Kemudian, Zain pun berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Dave mengalihkan pandangannya ke arah Alana. Perempuan itu masih terdiam dengan kedua mata yang sudah terbuka, pandangannya terus menyapu isi ruangan itu.
“Kau sudah sadar, Alana?” tegur Dave, menghampirinya. Dengan pelan, Alana mencoba merubah posisinya menjadi duduk, Dave mendudukkan dirinya di samping Alana. “Bagaimana keadaanmu? Apakah ada yang sakit?” sambungnya bertanya dengan sedikit cemas.
“A–aku... Apa yang terjadi?” sahut Alana bertanya balik.
“Kau tadi pingsan,” jawab Dave.
Dave mengangguk, mengusap kening Alana yang tampak sedikit memar, kini sudah tertutup dengan perban. “Tidak apa-apa. Masalah ini akan beres pada waktunya. Dan aku pikir kamu berhenti bekerja saja.”
Alana menjauhkan tubuhnya, menatap Dave dengan pandangan terkejut. “Kau memecatku, Dave?”
Dave mengangkat kedua alisnya, menatap Alana dengan pandangan geli. “Bisa dibilang begitu.”
Dengusan kesal terdengar dari Alana. Ia masih tak rela kariernya harus terputus di tengah jalan seperti ini. Tapi, mengingat beberapa kali kekacauan yang ia buat, masih pantaskah ia meminta pertimbangan sang suami.
__ADS_1
“Aku pikir akan lebih kau di rumah saja. Agar aku lebih mudah jika sewaktu-waktu membutuhkan mu,” terang Dave.
Alana menoleh. “Membutuhkanku dalam hal apa lagi, Dave? Bukankah rencana perjodohanmu pun sudah usai.”
“Iya benar. Tapi, aku juga membutuhkan dirimu saat nanti harus menghadiri rekan-rekan bisnisku. Dan lagi aku tahu Natasha pasti masih mempunyai dendam tersembunyi padaku. Perempuan itu cerdas, jadi kemungkinan dia akan membalas dengan cara yang cukup cerdik.” Dave menatap ke arah Alana kembali. “Lagian apa salahnya? Kau bisa menikmati hidupmu menjadi Nyonya Dirgantara. Kau bisa berbelanja sesukamu. Aku tidak akan melarang apapun.”
Alana terdiam mempertimbangkan ucapan Dave. Namun, belum sempat ia membuka suaranya. Ketukan di pintu mengurungkan niatnya. Zain kembalikan masuk memberitahukan jika rapat sudah siap.
“Tunggulah di sini. Jangan kemana-mana. Tiga puluh menit lagi aku akan kembali,” titah Dave pada Alana, sebelum kemudian dirinya beranjak pergi.
Beberapa menit kemudian, Alana merasa bosan karena hanya duduk di sofa. Ia beranjak dari tempatnya menuju jendela kaca, melihat pemandangan gedung di luar. Ia merasa takjub dengan pemandangan juga ruangan suaminya itu. Karena sebelumnya ia memang tidak pernah masuk ke sana.
Kakinya bergerak untuk menyusuri ruang kerja Dave. Ia melangkah ke arah meja, mengusap meja kaca, terdapat beberapa tumpukan dokumen serta satu laptop bermerk buah yang digigit. Namun, fokus Alana bukan pada benda-benda itu. Melainkan sebuah foto perempuan cantik yang terpampang di bingkai. Mengambilnya, Alana menatap foto perempuan dengan inci. Meneguknya ludahnya dengan kasar, saat menyadari siapa perempuan itu?
“Dia kan artis yang tengah naik daun itu. Jessica, jadi perempuan ini kekasih suamiku? Eh maksudku Dave.” Alana menggigit bibir bawahnya setelah berhasil meralat ucapannya.
“Apa yang kau lakukan, Alana?!”
__ADS_1