
Dave menghembuskan nafas lega saat mobilnya telah melesat jauh dari kediaman Pak Risky.
“Untunglah semua berjalan dengan lancar,” kata Dave seraya melonggarkan dasinya.
Diam-diam Alana melirik ke arah lelaki itu, meneguk ludahnya dengan kasar. Kala menatap penampilan Dave yang kini tampak lebih berantakan. Namun, tetap menawan.
“Kenapa Alana?” tanya Dave begitu menyadari diam-diam Alana menatap ke arahnya.
“Tidak apa-apa, Dave." Alana memalingkan wajahnya, meringis dalam diam, sejenak ia menjadi salah tingkah.
“Oh, aku pikir ada yang salah dengan penampilanku,” ujar Dave.
“Oh ti–tidak Dave. Kau tetap terlihat tampan,” celetuk Alana kemudian. Dave sampai menganga mendengarnya. Alana menepuk bibirnya yang kelewat jujur bicara. Bahkan Zain yang tengah menyetir diam-diam ikut tersenyum mendengarnya.
“Emm maksudku–”
“Terima kasih untuk pujiannya, Alana.” Dave menyela ucapan Alana dengan cepat, karena ia tahu perempuan itu menjadi salah tingkah.
Setelah itu, hanya keheningan yang tercipta di dalam mobil itu. Alana sibuk mengamati gedung-gedung yang menjulang tinggi, sementara Dave sibuk dengan iPad miliknya. Bagi Alana tak heran dengan kesibukan lelaki itu.
Ketika melewati sebuah rumah sakit jiwa, Alana merasakan rasa rindu itu berdesir. Ia merindukan ibunya. Namun, dokter melarangnya untuk terlalu sering menjenguknya, karena hal itu juga bisa membahayakan dirinya. Alana bahkan tidak tahu, entah kenapa dalam sakitnya ibunya terlihat begitu membenci dirinya. Seandainya, Ayahnya masih ada, mungkin nasibnya tidak akan semenyedihkan ini.
‘Ibu, aku merindukan pelukanmu,’ gumamnya dalam hati. Pandangannya terlihat kosong. Dalam hati ia terus melafalkan doa untuk kesembuhan ibunya. Agar semua yang ia lakukan saat ini tidak sia-sia.
“Alana!” tepukan di pundak menyadarkan Alana dalam lamunannya.
__ADS_1
“Oh i–iya.”
“Kita sudah sampai, Alana.”
Mendengar ucapan Dave, seketika Alana mengedarkan pandangannya ke arah luar. Memang benar mereka sudah tiba di depan rumah. Kenapa bisa secepat itu? Padahal seingat Alana tadi ia baru melewati sebuah rumah sakit. Mungkin karena ia sibuk melamun sepanjang jalan.
Turun dari mobil, Alana melangkah ke ke dalam dengan pelan. Membiarkan Dave berada di depannya.
Di depan teras, Alana menghentikan langkahnya, bersandar pada dinding pilar. Matanya menatap takjub ke arah langit, di mana bintang bertaburan indah di sana. Seulas senyum tercipta di bibirnya.
“Rindu ini apa Tuhan?”
“Kenapa rindu begitu menyakitkan. Saat kita merindukan seseorang yang telah tiada. Malam ini bolehkah aku berharap engkau hadirkan sosok ayah tercintaku dalam mimpiku.” Alana berbicara sendiri seraya menengadahkan wajahnya ke atas.
Alana menoleh mendapati lelaki dalam balutan kemeja putih itu menatap ke arahnya, dengan kedua tangan yang di masukan ke saku celana. Sementara dasi dan jasnya entah ia letakkan di mana.
“Aku hanya tengah berbicara pada bulan dan bintang,” jawab Alana.
Dava tersenyum simpul. “Bicara apa?”
“Tentang sebuah rindu.”
“Pada? Mantan?” ejek Dave.
Alana langsung mencibir. “Jangan bicarakan soal dia. Aku sungguh sudah mengikhlaskannya.”
__ADS_1
Dave mengangguk, lalu menekuk kedua kakinya, duduk di sisi Alana. “Lalu kau tengah merindukan siapa? Jika memang pada ibumu, kau bisa menjenguknya di rumah sakit.”
Alana pun melakukan hal yang sama dengan Dave. Dengan duduk di sisi Dave. “Aku merindukan Ayahku. Dave merindukan orang yang sudah tiada itu menyakitkan ya. Kadang merasa konyol suka bicara sendiri.”
Dave menatap Alana sesaat. “Jangan khawatir Alana. Kau tahu langit berada begitu jauh dari jangkauan bumi, namun kau tetap bisa merasakan keindahan bulan dan bintangnya. Begitupun dengan rasa rindumu, percayalah doa yang kau panjatkan untuk Ayahmu pun akan sampai padanya,” tutur Dave pelan.
“Karena itu yang aku lakukan jika aku tengah merasakan hal yang sama pada mamaku,” sambung Dave.
Alana tersenyum tipis mendengarnya, sejenak ia merasa lega. Lalu, entah keberanian dari mana, perempuan itu memberanikan diri menyandarkan kepalanya di dada bidang Dave.
Anehnya, Dave pun sama sekali tidak menolak. Lelaki itu justru mengusap lembut pundak Alana.
.
.
...
.
.
...
Hari Senin jangan lupa votenya ya^^
__ADS_1