Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Cara Lain


__ADS_3

Sekitar lima belas menit kemudian, Dave sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang segar. Pakaiannya sudah bersih. Dengan kemeja berwarna biru cerah membuat wajahnya kian bersinar semakin tampan. Dave mengeringkan rambutnya basahnya menggunakan handuk. Sementara Zain sibuk dengan ponselnya masih duduk santai di sofa panjang yang tersedia di sana.


Alana menatap Dave tak berkedip, bahkan ia menelan ludahnya secara susah. Tiba-tiba ia pun merasakan tenggorokannya kering. Pelan, ia mencoba mengubah posisinya menjadi duduk.


“Aduh!” ringisnya saat merasakan bahunya terasa sakit.


Mendengar suara ringisan Alana. Dave dan Zain sontak menoleh. Zain langsung beranjak menghampiri Alana. Namun, masih kalah cepat dengan Dave yang langsung berlari setelah melempar handuknya. Zain pun kembali duduk.


“Kau mau apa Alana? Kenapa tidak meminta bantuan?” cecar Dave membantu Alana untuk mengubah posisinya menjadi duduk.


“Aku ingin minum Dave. Tenggorokan ku terasa kering,” sahut Alana.


“Sebentar, biar aku membantumu,” ujar Dave setelah memastikan posisi Alana nyaman. Ia mengambil segelas air mineral di atas nakas. “Biar aku yang membantumu. Jangan menggerakkan tanganmu lebih dulu. Bukankah kau ingat perkataan dokter, jangan terlalu banyak gerak lebih dulu,” sambung Dave.


Alana hanya mengangguk pasrah. Membiarkan Dave mambantunya, beruntunglah di sana tersedia sedotan, jadi Dave hanya perlu memegang gelasnya saja, selama Alana meminum.


“Cukup Dave,” serunya setelah merasakan lega pada tenggorokannya.


Dave mengangguk meletakkan kembali minumnya. Matanya menoleh pada seporsi makanan dan juga obat-obatan di sana, yang masih utuh dan belum tersentuh. Melirik arloji di tangannya, ini memang sudah waktunya makan malam, dan Alana harus segera minum obat, seperti perkataan dokter tadi.

__ADS_1


“Kau mau makan Alana?” tanyanya.


Alana menggeleng. “Aku belum lapar, Dave.”


“Tapi kau harus minum obatmu. Jadi, otomatis kau harus makan.”


“Dave aku–”


Dave tak mengindahkan ucapan Alana. Ia mengambil piring makanan itu. “Biar aku yang menyuapimu. Ayo cepat buka mulutmu!” titah Dave seraya menyodorkan sendok.


Alana terdiam menatap wajah Dave. Lelaki itu menganggukan kepalanya menuntutnya untuk segera membuka mulut. Alana tersenyum lalu membuka mulutnya, membiarkan Dave menyuapinya.


Sementara Zain dalam diam juga melihat adegan keduanya. Tiba-tiba ia merasa seperti obat nyamuk di dalam sana. Padahal niat kesananya mau bertemu dengan atasannya untuk membahas masalah Nelson. Tiba-tiba ia merasakan hidungnya terasa gatal, beberapa detik kemudian dia....


Hacim!


Zain bersin. Sontak Dave dan Alana menoleh ke arahnya. “Maaf Tuan, hidung saya tiba-tiba gatal banget,” ucapnya kikuk karena merasa sudah mengganggu aktivitas mereka.


Alana memalingkan wajahnya dengan yang merona. Dave hanya menghela nafasnya, ia hampir lupa jika di sana ada sosok mahluk lainnya.

__ADS_1


“Dave aku sudah kenyang,” ucap Alana menolak ketika Dave menyodorkan makanannya lagi.


“Tapi kau baru makan sedikit Alana,” protes Dave.


“Ayolah Dave. Perut ku begah sekali, lidahku juga terasa pahit.”


“Baiklah, aku tidak akan memaksa. Tapi kau harus meminum obatnya,” ujar Dave seraya meletakkan kembali piring makanannya di atas nakas, lalu meraih beberapa pil di sana.


“Ya ampun aku benci sekali minum obat,” keluh Alana. Apalagi melihat beberapa butir pil dan kapsul dalam ukuran yang cukup besar di tangan Dave.


“Tenang saja Alana. Ini itu manis,” ucap Dave menenangkan seraya mengulurkan pil itu. Meminta Alana untuk segera membuka mulutnya. Namun, Alana hanya bergeming malas.


Dave menaik turunkan alisnya, sebelum kemudian ia berkata, “perlukah aku mencari cara lain?”


“Cara apa Dave?”


”Em misalnya menggunakan bibirku!” tawarnya membuat Alana melototkan kedua matanya.


Uhuk! Uhuk!

__ADS_1


Zain yang tengah meminum air mineral tersedak mendengar ucapan atasannya itu.


__ADS_2