Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Aku Merindukanmu, Alana


__ADS_3

Dave meraih laptopnya menghidupkannya. Ia membuka rekaman cctv yang mengarah pada meja Alana. Menatap aktivitas perempuan itu.


“Seandainya saja kamu tahu Alana. Aku sangat merindukanmu. Kalau saja reaksimu tak seperti tadi saat ku dekati. Aku pasti akan memelukmu,” ujar Dave dengan tatapan yang mengarah pada laptopnya. Ia memilih mengabaikan beberapa pekerjaannya kali ini, demi mengobati rasa rindunya. Setidaknya untuk kali ini ia cukup melihat perempuan itu saja, cukup merasa senang.


Menjelang sore Alana menatap tumpukan dokumen di atas mejanya dengan nanar. Hari pertama kerja, kenapa begitu banyak berkas yang harus ia kerjakan. Jika begini bisa-bisa ia tidak akan bisa pulang tepat waktu, padahal ia sudah merindukan Gala. Ingin mendengar apa saja cerita anak itu di sekolah barunya.


“Kakak ini serius, semuanya harus di kerjakan sekarang?” tanya Alana pada Nara.


“Iya. Tuan Dave sendiri yang minta kamu mempelajarinya. Aku pikir karena...”


“Dia pasti sengaja.” Alana langsung beranjak mengambil tumpukan berkas itu, membawanya ke dalam ruangan Dave.


“Astaga. Mau berantem lagi mereka. Aku gak nyangka istrinya Tuan Dave juga bisa galak.” Nara bergumam sendiri. Pasalnya ia memang sudah tahu sejak awal siapa Alana bagi Dave.


Brakk!!

__ADS_1


Dave yang saat itu tengah sibuk di mejanya terkejut ketika pintu ruangannya dibuka dengan kasar oleh Alana.


Brukk!


Lalu dengan cepat perempuan itu membanting dokumen yang ia bawa ke atas meja Dave. “Kau pasti sengaja ya menindasku? Mau membunuh ku pelan-pelan dengan memintaku mengerjakan berkas sebanyak ini, Dave.”


“Kau bilang, kau ingin aku memperlakukan mu sebagai mana mestinya sebagai seorang karyawan, lalu kenapa baru segitu protes,” cibir Dave beranjak dari tempat duduknya. Kemudian memutar tubuhnya mendekati Alana.


Memang benar yang dikatakan Dave. Hanya saja entah kenapa menyangkut nama lelaki itu sekarang emosinya meluap. “Tapi, Dave maksudku...”


“Kenapa?” tanya Dave mencondongkan wajahnya di hadapan Alana, membuat perempuan itu memundurkan kakinya.


Alana menelan ludahnya, saat wajah Dave kini tepat di hadapannya. Ia merasa kelu tak mampu menjawab, kemarahan dan kekesalan yang tadi menggebu, berganti dengan rasa gugup, ia menggelengkan kepalanya. “Ti–tidak!”


“Tidak apa?” tanya Dave lagi. Ia terus melangkah mendekat. Namun, Alana terus bergerak mundur.

__ADS_1


“Emmm... Tidak!” Alana tiba-tiba merasa bingung harus menjawab apa, saat Dave justru terus mendesaknya. Semakin ia mundur Dave semakin mendekat. Hingga akhirnya posisi Alana sudah mentok di tembok, ia tak lagi bisa mundur.


Dave dengan sigap mengunci tubuh Alana menggunakan kedua tangannya. Deru nafas keduanya terdengar, serta alunan detak jantung yang begitu cepat. Saat pandangan keduanya saling bertemu.


“Dave,” desis Alana dengan perasaan tak menentu.


Namun, Dave bergeming dari tempatnya. Pandangannya mengarah pada bibir ranum Alana. Dan perlahan pria itu mencondongkan wajahnya.


Alana terkejut hingga membelalakkan matanya, ketika Dave menyambar bibirnya tanpa peringatan. Sentuhan bibir yang semula hanya berupa kecupan, kini menjadi lebih kuat, mana kala Dave terus me lu mat bibir perempuan itu. Anehnya Alana sama sekali tidak bisa memberontak. Ketika hati dan logikanya sama sekali tak sejalan. Ia pikir seharusnya ia mendorong tubuh Dave. Namun, entah kenapa ia begitu menikmati ciuman bibir Dave, seakan-akan ia pun ikut mendamba ciuman lelaki itu.


Perlahan Alana memejamkan kedua matanya, sementara kedua tangannya yang sejak tadi berada di dada suaminya, meremas jas yang dikenakan oleh Dave. Merasa istrinya merespon dan menikmati ciumannya, Dave merasa sangat senang.


Di tengah pangutan bibir mereka, Dave menyelipkan sebuah kalimat, “Aku merindukanmu, Alana.”


Alana terkejut mendengarnya, kedua matanya yang semula tertutup kini ia buka demi melihat raut wajah lelaki di hadapannya.

__ADS_1


“Dave... Emmmhhh...” Alana tak lagi dapat meneruskan ucapannya, ia tersentak mana kala kedua tangan kekar Dave kini meraih pinggangnya, mencoba menahan tubuh perempuan itu, merapatkan tubuhnya.


Alana merasa ciuman Dave terasa berbeda kali ini, sangat lembut seperti ada luapan rindu di dalamnya. Tidak menggebu-gebu seperti semula. Namun, Dave sama sekali tak memberi kesempatan untuknya membuka suara.


__ADS_2