Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Masokis?


__ADS_3

“Dave kamu membelanya!” bentak Natasha tak menyangka. Dave hanya terdiam dengan raut wajah yang kesal, sementara Alana tersenyum senang.


“Tentu saja dia membelaku. Karena aku ini istrinya,” sahut Alana yang berjalan melangkah ke mendekati Dave.


Natasha menggelengkan kepalanya tak percaya. “Aku tidak percaya? Katakan bahwa semua yang ku dengar itu bohong Dave? Kau tahu bagaimana aku begitu mencintaimu. Bagaimana mungkin kau justru memilih perempuan gembel ini.”


“Kenapa kau masih tidak percaya? Bukankah bukti yang ku bawa kemarin malam itu sudah cukup. Dua buah buku pernikahan yang tercatat di catatan sipil.”


Natasha masih kekeh dengan keyakinannya, bahwa semua yang ia dengar itu bohong. “Aku tidak percaya. Kau pasti hanya perempuan yang dibayar oleh Dave, untuk membatalkan perjodohan ini,” kekeh Natasha dengan wajah dipenuhi amarah.


Alana menghela nafas panjang, jika saja ia tidak ingat isi perjanjian surat pernikahannya, ingin sekali ia berlalu pergi. Tiba-tiba ia merasakan remasan lembut di pundaknya oleh suamimya. Alana seolah paham bahwa ia harus melakukan sesuatu yang dapat membuat mantan tunangan suaminya itu percaya jika keduanya merupakan suami istri.


Alana berbalik, menghadap Dave. Tanpa diduga dan entah mendapatkan keberanian dari mana, Alana mendaratkan kecupan di bibir Dave.


Tindakannya membuat semua orang yang berada di ruangan itu terperangah. Tidak terkecuali dengan Dave yang wajahnya bereaksi, tetapi pulih dengan cepat. Ia langsung membalas tindakan Alana dengan membelai wajahnya.


“Wanita murahan!” desis Natasha.


Alana mengabaikannya. Setelah mengecup bibir suaminya, ia menyelusup ke dalam pelukan Dave dan mengedarkan pandangannya ke arah Natasha di depannya.


“Bagaimana sudah percaya kan kalau kita pasangan suami istri. Atau perlu saya antar anda ke kantor catatan sipil, untuk memeriksa data pernikahan kami?” tantang Alana.

__ADS_1


“Dasar perempuan gembel." Natasha memaki dan menatap Alana dengan pandangan geram. “Aku tidak percaya,” sambungnya kekeh.


“Dave aku bisa menerima apapun tentangmu. Jadi, bisakah kamu lepaskan dia, kemudian menikah denganku. Aku akan melakukan apapun untukmu,” pinta Natasha memohon.


Alana hanya tertawa dengan lirih, melirik Dave hanya terdiam tenang. Tampaknya lelaki itu tengah membiarkan Alana menyelesaikan masalah itu sendiri. Baiklah lihat apa yang akan Alana lakukan.


“Sayang, bolehkah aku bercerita rahasia kita? Bagaimana kita menghabiskan malam-malam penuh syahdu? Juga tentang hal-hal kecil....”


Suaranya terkesiap terdengar di dalam ruangan. Alana tetap diam dalam pelukan Dave, dan tetap melanjutkan bicaranya. “Seperti permainan kita semalam. Bagaimana kamu suka bermain secara kasar... Kau tahu itu sangat menggairahkan!”


“Apa???!!!” teriakan Natasha melengking nyaris memenuhi ruangan itu. “Dave kamu masokis?”


Alana nyaris terbatuk geli. Bisa-bisanya ia mengarang cerita urusan ranjang, padahal ia nyaris tak pernah bersentuhan dengan Dave. Ciuman saja baru kali ini? Eh... Ia meneguk ludahnya kasar, saat baru menyadari apa yang telah ia lakukan sebelumnya. Berani-beraninya ia mengecup bibir lelaki itu. Tapi, menyesali buat apa? Semua sudah kepalang tanggung. Ia harus tetap melanjutkan sandiwaranya. Yang terpenting adalah Dave hanya diam tak menyangkal ucapannya, itu akan memuluskan rencananya.


Dari atas kepala Alana. Dave berpandangan dengan Zain yang melongo, sementara Natasha memandang dengan geram. Gizka pun tak kalah terkejut mendengarnya.


“Dave apa benar yang dikatakannya?” tanya Natasha pelan seraya menelan ludahnya, membayangkan jika hal itu benar, ia bergidik ngeri.


Dave hanya mengangkat bahunya, tidak mengiyakan namun juga tidak menyangkal. Alana hanya tertawa keras, jika diperhatikan lebih dalam lagi, orangpun akan paham jika tawanya itu palsu. Melepaskan dekapan suaminya, Alana melangkah dengan pelan mendekati Natasha.


“Dia itu suka melakukan hal aneh padaku. Setiap hari kami mencoba gaya baru, seperti di dapur, kamar mandi, ruang gym, dan masih banyak lagi. Yang mau aku tanyakan? Apakah nona besar seperti anda itu sanggup melayaninya?”

__ADS_1


Dave dan Zain semakin melongo mendengarnya. Sementara Gizka terkesiap, nyaris tak bisa bersuara. Benarkah anak tirinya itu seperti itu? pikirnya. Pantas saja Dave memilih tinggal sendiri, apa mungkin itu alasannya.


“Kamu pasti bohong?” tukas Natasha masih gak percaya.


“Kenapa kita gak buktikan saja. Ayo aku akan membuka baju.”


Natasha mengepalkan kedua tangannya, dan tanpa di duga ia melayangkan pukulan di wajah Alana dengan keras.


“Dasar ja Lang!” maki Natasha.


“Stop Natasha!” teriak Dave, meraih Alana ke dalam pelukannya.


.


.


.


.


Aku ketawa ngetik part ini. Duh bisa-bisanya Alana berbicara seperti itu. Guys jangan lupa di like, komentar ya biar aku semangat.

__ADS_1


lope lope sekebon tomat.


__ADS_2