
Keesokan harinya, tepat pukul setengah tujuh pagi Dave sudah berada di meja makan untuk sarapan. Lelaki itu membuka iPad guna melihat jadwal kerja yang dikirimkan oleh Zain hari itu.
Menyesap tehnya dengan pelan, ia melirik ke arah pintu penghubung ruang makan, seperti tengah menanti kedatangan seseorang.
Salma datang menyajikan makanan di atas meja. “Silakan Tuan,” ucapnya.
Dave menganggukkan kepalanya. “Apa kau melihat Alana?” tanyanya.
“Tidak Tuan. Sepertinya Nona belum bangun. Saya sudah mencoba mengetuk pintu kamarnya tadi, tapi Nona tidak kunjung membukanya.”
Dave menarik nafasnya pelan. Merasa heran tidak biasanya Alana melewatkan sarapan paginya. Apakah gadis itu baik-baik saja. Atau justru tidak enak bada akibat mandi di danau pada malam hari.
“Perlukah saya memanggilnya, Tuan.” Salma mencoba memberikan penawaran.
“Tidak perlu. Tunggu saja sampai jam sembilan kalau sampai jam sembilan dia belum turun, kamu telpon saya.” Dave beranjak setelah menghabiskan satu cangkir teh miliknya. “Saya berangkat dulu,” sambungnya.
Lelaki itu berlalu, tanpa berniat menyentuh sarapan paginya saat itu. Entah kenapa tiba-tiba ia menjadi tidak berselera. Belum lagi Zain memang sudah menunggu di depan menjemput dirinya.
“Pagi Tuan,” sapa Zain seraya membukakan pintu mobil untuk Dave.
“Pagi juga,” balasnya.
__ADS_1
Setelah memastikan sang atasan masuk ke dalam mobil, Zain pun menuju pintu kemudinya. Melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah.
Dalam diam Dave melirik ke arah jendela kamar lantai dua, di mana Alana berada. Jendela kamarnya masih tertutup rapat, ia pikir gadis itu masih tidur atau justru keadaannya tidak baik-baik saja. Sejenak, Dave merasa gelisah memikirkan hal itu. Bagaimana jika Alana benar-benar sakit.
🦋🦋
Pukul delapan pagi, Alana baru membuka kedua matanya, ketika mendengar jam di atas nakasnya terus berbunyi. Ia pun segera meraihnya dan mematikannya.
Masih dalam posisi berbaring, Alana menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya kembali terbayang kejadian semalam. Dan sialnya hal itu terus mengusik dirinya sepanjang malam. Hingga membuat dirinya baru bisa memejamkan matanya pada pukul tiga dini hari. Hasilnya kini Alana merasa kepalanya begitu pusing. Hari ini ia ada juga harus kembali menjenguk ibunya di rumah sakit. Jika tak salah dengar perempuan setengah baya itu kemarin menyebut pengen coklat, dan Alana akan membawanya.
Segera Alana beranjak dengan cepat menuju kamar mandi, untuk bersiap-siap. Setengah jam kemudian ia susah keluar dari kamar mandi, lalu mengganti pakaiannya.
Ponsel di atasnya nakasnya berbunyi seperti ada notif pesan masuk. Alana yang saat itu tengah memoles bibirnya dengan lipbalm pun menghentikannya. Lalu melangkah ke dekat nakas mengambil ponselnya, membuka notifikasi sebuah pesan dari m–banking.
[Uangnya sudah masuk kan Alana? Kamu kenapa tidak sarapan? Kau baik-baik saja kan. Apakah sakit? Perlu ku panggil dokter]
Pesan dari Dave berhasil ia buka dan ia baca. Namun, fokus perempuan itu bukan pada perhatian Dave, melainkan kalimat pertama yang ia ucapkan, ketika Dave menanyakan uangnya.
Ia tertunduk lesu di pinggir ranjang. Sejenak, tiba-tiba ia merasa seperti seorang perempuan murahan, yang telah menjajakan tubuhnya, kemudian diberi sejumlah uang.
'Kenapa tiba-tiba aku merasa hina? Memangnya apa yang aku cari dari pernikahan ini? Cinta? Come on Alana. Bukankah semua tujuanmu demi uang. Lantas ketika Dave memberikan uang yang banyak, kenapa kau harus merasa sakit hati. Please.. jangan bermimpi untuk menjadi Cinderella yang dipersunting oleh seorang pangeran. Kau tetaplah Alana. Gadis miskin yang harus sadar diri.’
__ADS_1
Alana mematikan ponselnya, tanpa membalas pesan dari Dave. Setelah berhasil menenangkan perasaannya. Alana kembali beranjak ke cermin, memastikan penampilannya. Kemudian ia pun mengambil tas miliknya, lalu beranjak keluar dari kamarnya.
“Nona, anda sudah bangun?” tanya Salma begitu dirinya tiba di lantai bawah.
“Iya. Aku kesiangan.”
“Syukurlah. Saya hampir saja menelpon Tuan Dave.”
“Buat apa?”
“Memberitahukan kalau anda belum bangun. Soalnya tuan berpesan kalau sampai jam sembilan anda belum, saya diminta untuk memberitahukan padanya,” terang Salma.
“Oh... Aku baik-baik saja, Salma. Katakan itu saja padanya.”
Salma mengangguk. Alana tersenyum. “Ya sudah aku mau keluar dulu. Hari ini aku ingin mencoba membawa mobil."
“Kenapa tidak sarapan dulu, Nona?” tanya Salma mengingatkan.
“Tidak! Aku buru-buru ada janji sama teman.” Alana langsung melesat pergi.
Salma menghela nafasnya. Menatap kepergian istri majikannya.
__ADS_1
“Hari ini Tuan dan Nona benar-benar aneh. Tidak ada yang mau sarapan.”