Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Kemarahan Papa Jonas


__ADS_3

“Apa yang kau lakukan, Alana?!”


Prak!


Alana terkejut mendengar suara bariton dari Dave yang menegurnya, hingga bingkai foto dalam tangannya terjatuh.


“Da–Dave?" seru Alana gugup. Tampak sang suami berdiri tak jauh darinya, dengan pandangan yang terpatri pada bingkai foto yang sudah terpecah, akibat terbentur lantai.


“Dave, a–aku...”


Dave langsung melangkah dengan cepat, menekuk kedua lututnya, menatap nanar pada bingkai foto kekasihnya yang sudah terpecah. Ia mendongak menatap ke arah Alana, yang tengah menatap ke arah dengan pandangan takut.


“Ma–maaf Dave. Aku benar-benar tak sengaja,” cicit Alana lagi.


Dave bergeming tak bersuara, ia mengambil selembar foto dari sana. Mengusap-usap foto itu dengan lembut, juga meniup-niupnya. Hal itu tidak luput dari tatapan Alana. Itu hanya selembar foto, dan Dave memperlakukannya dengan begitu lembut. Bagaimana jika terhadap orangnya langsung?


“Dave aku benar-benar...”

__ADS_1


Dave berdiri, kemudian berlalu dari hadapan Alana. Ia menyimpan foto itu di dalam laci mejanya. Kemudian, merogoh ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang. Dari pendengaran yang bisa Alana tangkap. Suaminya tengah memesan kembali sebuah bingkai foto, dan diminta untuk diantarkannya langsung.


Keterdiaman Dave, justru membuat Alana merasa takut. Lelaki yang terbiasa ramah padanya, kini justru mendiamkannya. Alana merutuki diri karena telah dengan lancang berani menyentuh bingkai foto seorang perempuan yang kemungkinan sangat berarti bagi hidup Dave. Tidak cukupkah, ia selalu berbuat kekacauan. Dan Dave selalu menanggapinya dengan santai. Tapi, kini apa yang harus ia lakukan demi membuat lelaki itu kembali bersuara. Seharusnya, tadi ia cukup diam saja.


“Dave, tolong bicaralah aku sungguh–”


Brak!!


Pintu ruangan terbuka dengan kencang. Sosok lelaki setengah baya menyelonong masuk, dengan aura wajah yang memerah, menatap nyalang keduanya.


“Memalukan!” seloroh Jonas. Begitu masuk ke dalam ruangan itu. Mendekati ke arah Dave dan Alana. “Kau benar-benar membuat keluarga malu Dave," tukas Jonas menunjuk ke arah Dave.


“Malu itu jika aku mengemis pada seseorang, perihal sebuah bisnis. Padahal aku masih mampu,” jawab Dave.


Jona mendelik ke arah Dave. “Setelah berita pertunangan mu dengan Natasha batal. Lalu, kau mulai mengakui perempuan tak jelas ini ke hadapan publik. Apa-apaan kau Dave?!”


Dave memalingkan mukanya, rasanya tak akan ada habisnya jika melayani ucapan Papanya. Sementara, Alana hanya diam menunduk.

__ADS_1


“Dan satu lagi, kau bahkan memberitahukan pada Pak Risky mengenai status dirimu dengannya. Dave apa yang tengah kau lakukan, kau benar-benar mencoreng nama baik keluarga Dirgantara.”


Dave menyentak nafasnya, tersenyum masam ke arah Papanya. “Sekali-kali coba Papa pikirkan perasaanku. Coba tanyakan apa mauku. Jangan cuma bisa menjadikan aku seorang robot, Pa. Papa pikir aku tidak lelah di atur sana-sini. Dari remaja aku sudah kau bius dengan otak bisnis. Aku tidak pernah mengenal dunia permainan luar. Tidak mengerti arti sebuah kebebasan. Yang aku tahu hanyalah... Bekerja...bekerja.. dan bekerja. Aku hanya menurut, asal itu bisa membuatmu bangga. Tapi yang ku tahu, tidak pernah kau kau mengatakan aku bangga padamu, Dave. Kau hanya terus membesarkan ambisimu, Pa. Lalu, hanya karena perkara aku menolak perjodohan itu. Kau menganggap aku adalah anak yang memalukan? Sebanyak prestasi yang aku berikan padamu, bahkan kau anggap semua itu gugur!”


Jonas terhenyak mendengar penuturan putranya, mulutnya seketika bungkam. “Papa pikir mengendalikan perusahaan besar seperti ini mudah? Aku tidak menginginkan apapun, selain rasa kepedulianmu terhadapku.”


Alana memandang ke arah Dave dengan tatapan sendu. Ia tak menduga jika isi hati Dave jauh lebih menyedihkan. Selama ini ia pikir Dave adalah sosok laki-laki yang memiliki kehidupan sempurna. Harta berlimpah, kekuasaan, cinta dan orang tua.


Kini ruangan itu tampak senyap, akan perdebatan kedua lelaki yang berbeda usia itu.


“Kenapa, Pa?”


“Semua itu karena sebenarnya kau....” Jonas tak melanjutkan ucapannya. Kala menatap raut wajah putranya.


“Apa yang mau Papa katakan? Kenapa tidak dilanjutkan!”


Jonas memalingkan mukanya ke arah lain. “Tidak ada. Papa cuma mau bilang, semua yang Papa lakukan itu untuk kebaikanmu. Itu saja,” serunya kembali menatap putranya. Kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2