Sebatas Istri Bayaran

Sebatas Istri Bayaran
Istri Saya


__ADS_3

“Berbicara tentang keberhasilan Edo Renaldy. Aku rasa perlu berterimakasih pada seseorang yaitu, Alana Jovanka.” Tisa terus berbicara di atas panggung, sesekali akan melirik ke arah Alana dan Dave secara bergantian. Edo berusaha untuk menghentikan niatan kekasihnya itu. Namun, tak juga berhasil kala Tisa berbisik dengan pelan. “Tidak apa-apa.”


Semua orang kini menatap ke arahnya. Tak terkecuali Dave yang fokusnya yang masih berdiri di depan pintu.


“Kenapa aku berbicara demikian?" Tisa kembali menatap Alana dengan pandangan licik. “Karena jika bukan karena keberanian Alana melepaskan Edo. Tentunya aku tidak akan berada di sisinya. “ Tisa melingkarkan tangannya pada lengan Edo, menunjukkan pada semua jika kini Edo miliknya. “Dan salah satunya, tentang kabar manis yang beredar di internet antara Alana dan Direktur Dave Dirgantara.”


Dave masih bergeming di tempatnya dengan tenang, menatap ke arah Alana, lalu pada adiknya yang berdiri di atas panggung dengan gelisah.


Edo berusaha merebut mik dalam genggaman tangan Tisa. Namun, perempuan itu melototkan matanya, membuat Edo mengurungkan niatnya.


“Makanya, jangan heran kenapa penampilan Alana begitu berubah. Tentu semua karena ada campur tangan Tuan Dave. Orang akan melakukan apa saja demi berubah menjadi lebih baik, termasuk mendapatkan seseorang yang lebih segalanya,” lanjut Tisa.


Bisik-bisik teman-teman yang lain terdengar.


“Benarkah Alana seperti itu? Aku tidak menyangka, pantesan Edo memilih putus dengannya. ”


“Aku tidak menyangka parasnya yang cantik tapi hatinya begitu licik.”


Alana bergeming, menatap ke arah Tisa yang tampak begitu senang. Seolah-olah telah berhasil membuka aib sahabatnya.


“Bagaimana tanggapan anda Tuan Dave?” tanya Tisa lagi.

__ADS_1


Alana menoleh, dan entah sejak kapan lelaki itu kini tengah berdiri di sisinya. Tisa melangkah mendekati keduanya, memberikan mik pada Dave. Ia pikir Dave akan membantah demi melindungi reputasinya, dan Alana hanya akan mendapatkan rasa malu di sana. Senyum kepuasan dan kemenangan tercetak di bibirnya.


Alana menelan ludahnya, menatap mik di depannya. Tangannya bergerak hendak menerima mik itu. Namun, secepat itu Dave menepis tangannya, membuat Alana terkejut.


Keterkejutannya kian bertambah, saat Dave justru yang mengambil mik itu, dan tanpa disangka lelaki ia menautkan tangannya di jemari Alana, kemudian menariknya ke atas panggung.


“Kelihatannya kalian semua begitu tertarik dengan kisah kami.” Dave memandang ke arah satu persatu orang di sana, terutama pada adik dan kekasih adik tirinya itu. “Baiklah saya akan gunakan kesempatan ini untuk menjelaskan semuanya.”


Alana menoleh ke arah Dave dengan wajah memucat.


“Tapi, sebelum itu ijinkan saya untuk mengucapkan terimakasih karena telah di undang dalam acara reuni akbar ini. Sebagai, seorang penyumbang investasi di perguruan universitas anda, saya semakin tersanjung,” ungkap Dave seraya membungkukkan badannya dengan sopan, yang ditanggapi anggukan kepala oleh ketua tadi. Kewibawaan Dave membuat para ketua universitas itu tersanjung.


“Kabar yang beredar di Internet itu hanya gosip. Saya dan Alana bukan sepasang kekasih!"


Semua tampak riuh mendengarnya. Tak terkecuali dengan Tisa yang tersenyum begitu senang. Ketika lelaki itu membantah hubungannya dengan Alana. Tentu saja, semua itu untuk melindungi reputasinya, pikirnya. Apalagi mengingat ibu Alana yang memiliki gangguan mental, mana mungkin Dave akan mengakui Alana sebagai kekasih apalagi seorang istri. Tisa pikir, setelah ini ia perlu merayakan kemenangannya. Alana hanya bisa diam pasrah, bahkan ketika tatapan teman-temannya kini menatap benci ke arahnya. Ia justru memilih menunduk.


“Tapi....” Dave terdiam sesaat, tangannya masih setia menggenggam tangan istrinya. “Alana adalah istri saya!”


Alana langsung mengangkat wajahnya, menoleh ke arah Dave tak percaya. Kala lelaki itu mengungkapkan status asli keduanya. Riuh bisik-bisik rasa tak percaya terdengar.


Dengusan rasa kesal dan marah terlihat dari Tisa. Ia tak percaya jika Dave bisa terang-terangan mengakui Alana di depan umum.

__ADS_1


“Memang kami tidak mengadakan acara pernikahan yang mewah. Tapi, di sini saya ingin memperjelas status kami.” Dave menjeda ucapannya meletakkan mik di atas meja, menekuk kedua kakinya, setelah sebelumnya mengeluarkan sebuah kotak yang berisi sebuah cincin berlian. Tanpa disangka Dave mengambil cincin itu, lalu memakaikan di jari manis Alana.


Alana masih diam tanpa suara, tak memperdulikan orang-orang yang kini menatap ke arahnya tak percaya. Ia masih setia menatap perlakuan Dave kini. Usai memakaikan cincin itu, Dave kembali berdiri. Alana pikir semua telah usai. Namun, lelaki itu justru membingkai wajahnya, tanpa di sangka mendaratkan kecupan di bibir Alana, membuat mata perempuan itu terbelalak kaget.


Pandangan Dave terpatri pada adik tirinya. Wajahnya tampak memerah seperti menahan amarah. Bahkan ia bisa melihat tangan Edo mengepal dengan sempurna.


“Kau membuat masalah!” tukas Edo pada Tisa. Menepiskan tangan Tisa yang melingkar di lengannya, Edo memilih berlalu pergi.


.


.


.


.


.


.


Gimana ini, duh Dave kayaknya sengaja apa emang udah candu bibir Alana🤭

__ADS_1


__ADS_2