
Dan ingatlah, suatu hari kau pasti akan merindukanku. Dan saat itu terjadi, kau tidak akan menemukan keberadaan ku, kecuali dalam ingatanmu.
💞💞💞
Ketika fajar telah menyingsing di pagi hari. Sinar matahari tampak masuk melalui celah jendela kaca yang sebagian tak tertutup dengan gorden, tepat di kamar yang semula di tempati Alana.
Dave mulai mengerjapkan kedua matanya. Mengubah posisinya menjadi duduk, seraya memegang keningnya.
“Ya Tuhan. Pusing sekali,” keluhnya. Masih belum sepenuhnya sadar. Beberapa saat ia masih mencoba mengumpulkan kesadarannya. Pandangannya terasa samar, lalu kedua matanya menyapu ruangan sekitar, hingga pandangannya tertuju pada keadaan tubuhnya yang polos hanya tertutup selimut tebal, ia menoleh ke arah samping di mana di sana terlihat sedikit noda darah. Sekelebat kejadian semalam kembali terlintas di otaknya dengan sangat jelas. Dave menelan ludahnya, menyadari jika semalam ia memaksa Alana untuk...
“Alana,” serunya.
Dave langsung menyingkap selimutnya, turun dari tempat tidur memakai kembali pakaiannya yang semalam dengan buru-buru. Setelahnya, ia buru-buru keluar dari kamar Alana. Ia harus segera bertemu dengan istrinya menjelaskan tentang kejadian semalam.
“Apa kau melihat istriku?” tanya Dave pada seorang pelayan yang tengah membersihkan rumahnya.
“Tidak Tuan, sejak subuh saya belum melihat Nona Alana.”
Dave berdecak kalut, jantungnya berdetak dua kali lebih kencang, mana kala rasa takut kian menyergap. “Alana,” panggilnya.
Lelaki itu terus memanggil nama istrinya, menyusuri tiap sudut rumahnya. Di mulai dari teras samping, kolam ikan, danau, garasi, halaman depan ia masih tak menjumpai keberadaan istrinya. Bahkan para pekerja yang berada dalam rumahnya pun tak mengetahui keberadaannya.
__ADS_1
“Kamu di mana, Alana?” ucapnya frustasi.
“Apa tuan sudah mengecek di dapur. Barangkali Nona Alana di sana,” ujar salah satu pekerja di sana yang tengah memotong rumput.
“Oh iya. Kau benar.” Dave segera berlalu melangkah cepat menuju dapur rumahnya.
“Alana.” Ia memanggil nama istrinya. Membuat semua pelayan yang tengah sibuk di dapur menoleh.
“Tuan mencari...”
“Istriku. Apa kalian melihatnya?” tanya Dave.
“Tidak Tuan!” jawab mereka bebarengan.
“Lho, kami kan sedang memasak untuk mempersiapkan acara anda dan Nona Alana, Tuan.”
“Acara apa?” tanya Dave bingung. Seingatnya ia tidak menjanjikan apapun pada Alana untuk hari ini.
“Bukankah hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan anda, Tuan. Tepat satu tahun pernikahan anda dengan Nona Alana.” Salma menjelaskan.
Deg!
__ADS_1
Dave terhenyak di tempat. “Satu tahun?” ulangnya seakan-akan ia salah mendengar.
“Iya. Nona Alana sendiri yang meminta kami untuk mempersiapkan acara ini. Dia juga kemarin sibuk membuat kue tart ini Tuan.” Salma menunjukkan kue tart buatan Alana. Di mana di sana terdapat tulisan ‘Happy anniversary 1st'. “Cantik kan Tuan.”
“Tapi saya heran, semalam Nona Alana bilang pagi-pagi mau bangun melihat persiapan yang kami lakukan. Tapi, sekarang udah jam delapan, kenapa dia belum bangun ya, Tuan.”
Seiring dengan pertanyaan yang keluar dari bibir Salma, membuat jantung Dave berdetak lebih cepat. “Tidak mungkin!”
Salma dan pelayan lainnya terkejut mendengar perkataan majikannya. “Tuan.”
Dave langsung berlari menapaki anak tangga menuju lantai tiga, di mana di sana terdapat ruang gym. “Alana kamu di mana? Tidak mungkin, kamu pergi meninggalkan aku begitu saja kan.”
Dave semakin cemas, ketar-ketir dibuatnya. Membuka ruang gym ternyata di sana juga tak terlihat istrinya. Kemudian ia berlalu tanpa menutupnya. Dave mencari ke balkon-balkon kamarnya.
“Kamu di mana, Alana.”
Dave kembali turun ke bawah. Langkah kakinya membawanya kembali ke kamar Alana. Dengan cepat ia membuka pintu kamar mandinya, ternyata juga kosong, lalu membuka pintu balkon kamarnya juga kosong.
“Ya Tuhan, kamu di mana Alana? Kamu gak mungkin benar-benar pergi meninggalkan aku sendiri kan, Alana.”
Dalam sekejap, Alana mampu mengacaukan pikiran dan suasana hati Dave. Tidak ada sosok Dave yang tenang, berwibawa, saat ini yang terlihat lelaki itu tampak begitu kacau. Dave meraung memanggil nama istrinya.
__ADS_1
Ia kembali berlalu membuka lemari pakaian istrinya, yang ternyata di sana juga terlihat kosong, hanya ada beberapa gaun. Itu juga Dave yang membelinya.
Dave mengusap wajahnya, mencoba berpikir sejenak. Hingga pandangannya terhenti pada tumpukan dokumen di atas meja rias.