
Dave tengah sibuk di ruangannya. Ketika Nana mengetuk pintu lalu membukanya, dan mengatakan ada tamu untuknya. Ia pun meminta tamunya untuk masuk.
“Selamat siang, Tuan Dave.”
Lelaki asing berambut pirang berdiri di hadapannya. “Siang juga dengan–”
“Nelson," potong lelaki itu.
“Oh ya, dengan Tuan Nelson. Maaf ini ada apa ya?” tanya Dave bingung. Meski begitu ia tetap mempersilahkan Nelson untuk duduk.
“Wah saya benar-benar kagum dengan anda, Tuan Dave. Anda benar-benar orang yang pekerja keras, kompeten, membuat jiwa ketertarikan saya meronta-ronta.”
Dave tersenyum tipis, masih tidak mengerti. Lelaki itu pandai berbicara dan memuji.
“Maksudnya, saya jadi tertarik untuk bekerja sama dengan anda,” ralatnya kemudian. Seketika wajah Dave langsung berbinar, sebagai seorang pembisnis ketika akan mendapatkan klien baru tentu saja, Dave begitu senang.
“Benarkah?”
Nelson mengangguk. “Saya Nelson direktur dari perusahaan Nelson company.”
__ADS_1
“Suatu kehormatan bisa di datangi oleh direktur Nelson Company,” seru Dave ramah.
“Anda terlalu berlebihan Tuan Dave. Bahkan dibandingkan dengan anda, saya tidak ada apa-apanya.”
Dave menanggapinya dengan tawa kecil, ketika mendengar lelaki di hadapannya terlihat merendah diri. Dan dalam diam Nelson tersenyum menyeringai, ketika merasa rencananya akan berjalan dengan lancar.
“Saya ada rencana membangun sebuah perumahan di area barat. Dan saya tertarik dengan kinerja anda, Tuan Dave.”
“Berapa banyak?” tanya Dave.
“Sekitar lima ratus perumahan elit. Saya akan menjamin Anda akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar.”
Dave mengangguk tanpa suara. “Apa ada permintaan khusus?” tanyanya.
“Ya.”
“Katakan Tuan?” seru Dave.
“Saya ingin istri anda, Alana!” jawab Nelson to teh point.
__ADS_1
Deg!
Dave terhenyak di kursinya, bahkan lelaki itu sampai beranjak dari tempatnya. “Anda–”
“Ya, saya menyukai istri anda, mungkin lebih tepatnya jatuh cinta pada pandangan pertama, sejak pertama kali kami bertemu, dalam insiden dia menabrak mobil saya. Saya ingin memilikinya, dan menikahinya,” ungkap Nelson jujur. Seketika senyum manis dan wajah cantik Alana terbayang.
“Bagaimana anda bisa dengan percaya dirinya, mendatangi saya lalu meminta istri saya,” kata Dave heran.
Nelson tersenyum santai. “Karena saya tahu. Anda tidak benar-benar mencintainya. Pernikahan anda dengan Alana hanyalah formalitas. Jadi, menurut saya tidak ada yang salah. Saya meminta pada anda secara baik-baik. Kita berdua bisa saling berbagi keuntungan. Anda mendapatkan proyek baru bernilai jutaan, sementara saya mendapatkan cinta saya.”
Dave mengepalkan kedua tangannya. Bagaimana lelaki itu bisa tahu tentang pernikahannya.
“Jangan terpancing kemarahan Tuan Dave. Saya akan sabar akan menunggu jawaban anda.” Nelson berdiri mengambil sesuatu dari sakunya. “Ini kartu nama saya beserta alamat lengkapnya. Saya akan menunggu jawaban anda Minggu depan. Pintu rumah saya akan terbuka dengan lebar menyambut kedatangan anda.”
Setelah itu lelaki itu pun berlalu pergi meninggalkan Dave dengan raut wajah yang tak terbaca. Rasanya baru kali ini ia mendapatkan rekan kerja yang begitu... Ah sudahlah. Dave terlalu pusing untuk memikirkannya.
Nelson berdiri di depan perusahaan Dave. Dengan wajah berbinar bahagia, ia yakin Dave pasti akan menerima tawarannya, dan sebentar lagi ia akan membawa Alana. Ia bisa hidup bahagia dengan cintanya.
“Alana.” Jantungnya selalu berdetak berkali-kali lipat, mana kala menyebut nama perempuan itu. “Entah pesona apa yang kamu miliki. Wajahmu, senyummu selalu terbayang dalam otakku.”
__ADS_1
Dengan memainkan kunci mobilnya, ia beranjak ke parkiran VIP untuk meninggalkan area kantor Dave.